Minggu, 26 Februari 2017

Yogyakarta

sumber gambar
Secangkir kopi menemaniku di tepian malam, lengkap dengan beberapa batang rokok, entah masih lima atau sudah enam. Lampu angkringan berpendar temaram, seperti hendak menambah kelam hati yang sedang suram.

Jalan Malioboro ramai seperti biasa, dan dengan itu aku sudah mulai terbiasa. Keramaian ini seperti tidak pernah usai. Para pengunjung seperti tak kenal lelah atau pun terlihat kusut masai. Banyak kulihat pasangan muda mudi sedang bercanda ria, sekelompok anak muda sedang berfoto bersama, dan orang-orang paruh baya sibuk mencari cendera mata. Semuanya asyik dengan kegiatannya masing-masing, sedang dengan keadaan sekitar mereka seakan tidak ambil pusing.

Mungkin satu-satunya orang yang sedang pusing di situ hanyalah aku.

Aku sedang sibuk menelusuri grup angkatan sekolah di ponselku, mencari kontak seseorang yang aku tahu dari dulu.

Kamu.

Begitu kutemukan, hatiku menjadi ragu. Apakah ketika kukirimi pesan singkat nanti, kamu akan membalasku?

Ah, masa bodoh. Masa' menyerah sebelum mencoba.

Maka kukirimilah salam padamu.

Ternyata, tiga menit kemudian, kau membalas salamku. Setelah itu, percakapan seperti mengalir begitu saja. Kamu tetap ramah seperti apa adanya, dan aku tetap terpukau dibuatnya.

Tanpa sadar aku mengiriminya sajak pendek. Jawaban yang datang juga pendek.

Sajaknya bagus.

Itu buat kamu, jawabku.

Ah, aku sedang tidak bisa membalas sajakmu. Kapan-kapan saja tidak apa-apa, kan?

Aku tersenyum sendiri. Mungkin teman-temanku akan melihatku dengan tatapan aneh. Namun, aku tidak peduli.

Tidak dibalas juga tidak apa-apa, aku hanya tiba-tiba saja ingin membuatkan sajak untukmu.

Agak lama, kamu tidak membalas. Kemudian, sebuah pesan darimu datang. 

Eh, apa kabar ya si dia? Aku penasaran.

Aku agak terkejut membaca pesanmu yang tiba-tiba ini. Dengan agak malas akupun menjawab,

Baik-baik saja, kemarin dia berkunjung ke sini. Kirimi saja ia pesan.

Balasanmu menjadi lebih cepat datang daripada sebelumnya. 

Tidak, ah. Aku takut padanya. Lebih baik aku tanya kabarnya melalui kamu. Kamu, kan, teman baiknya.

Aku seperti merasakan mataku berputar dengan sendirinya. Kujawab dengan agak ketus.

Untuk apa menanyakan kabarnya padaku? Tanya kabarku sajalah.

Kamu membalas dengan tawa, namun tetap bertanya mengenai dia, seakan dengan memaksa.

Dia.

Mengapa dia?

Mengapa bukan aku?

Padahal di sini aku menunggu, sekiranya kamu akan melupakan masa lalu. Ternyata, ia enggan pergi dari pikiranmu, sedang aku sendiri tetap termangu.

Mungkin aku tidak akan pernah mampu menjadi sajak yang kamu suka, sedang sajak yang kau puja tidak pernah menyadari bahwa kamu ada. 

0 komentar:

Posting Komentar