Jumat, 24 Februari 2017

Surabaya

sumber gambar
Setiap sudut kota ini seperti selalu berusaha mengingatkanku tentang kisah kita.

Bukan. Bukan kita.

Tapi kamu. Ya, padamu.

Setiap tempat yang kudatangi seperti memiliki kisah tersendiri, kisah yang tentu saja menceritakan tentang kamu. Semua kisah itu seperti berkelebat di pikiranku saat kusinggahkan kakiku di mana saja. Di bawah pohon rindang tempat kita biasa bercengkerama saat tidak ada kelas, di kursi koridor tempatmu biasa menunggu dosen pembimbing, bahkan di gerbang kampus tempat kita merayakan kelulusan kita bersama yang lainnya.

Ah, bahkan untuk membayangkan berjalan kembali ke kampus kita itu saja membuatku sedikit sesak.

Aku tidak menyangka, kamu yang merupakan pendatang di kota ini dapat mengambil perhatianku di kampus perjuangan ini. Sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti. Saat itu, kamu selalu satu kelas denganku. Entah mengapa aku baru sadar sekarang, kamu selalu berusaha duduk di sebelahku, bagaimana pun caranya. Aku saat itu hanya berusaha menenangkan hatiku saat kau duduk di sisiku. Apakah kau saat itu dapat mendengar degup jantungku? Semoga saja tidak.

Seperti pepatah Jawa mengatakan, witing tresna jalaran saka kulina. Cinta ada karena terbiasa. Kita berdua menjadi terbiasa bersama ke mana pun, menjadi terbiasa bersama melakukan apa pun, selayaknya dua sejoli yang diberkati Dewi Cinta. Tidak ada status, tidak ada pernyataan cinta. Hanya kita jalani apa adanya.

Namun, aku seperti bangun dari tidur panjang setelah sekian lama.

Saat tersadar, aku menjauh. Aku tahu aku akan menyakitimu dan diriku sendiri. Tetapi, aku tidak ingin menyakiti lebih jauh. Aku sadar diri. Aku sadar kita tidak bisa bersatu.

Tahukah kamu, aku saat ini sedang berada di kantin jurusan kita, tempatmu biasa mengerjakan tugas. Aku duduk di meja favorit kita, entah mengapa. Kakiku seperti melangkah sendiri ketika melihat meja ini kosong, langsung tertuju padanya.

Padahal aku tahu, di sinilah kisah kita berakhir.

Beberapa bulan setelah wisuda dan mendapatkan pekerjaan, kau memintaku datang ke sini karena ingin berpamitan. Saat itu adalah hari terakhir kau tinggal di kota ini. Kau harus kembali ke kampung halamanmu esok hari. Aku pun datang tanpa prasangka apa pun padamu, pada kita, pada semesta.

Saat aku sampai, suasana kantin agak lengang. Dari jauh kulihat wajahmu tegang. Entah apa yang ada di pikiranmu, tak bisa kubaca karena aku bukan cenayang. Seperti biasa, kududuk di seberangmu. Kau seperti terkejut melihatku, namun segera bisa mengendalikan diri, seperti kau yang biasa. Aku hanya tersenyum.

Setelah basa-basi panjang yang sudah pasti tidak bisa kuingat sekarang apa isinya, kau seketika memasang raut serius.

Kau menanyakan perasaanku padamu, seperti ingin memastikan hal itu. Kujawab dengan jujur bahwa aku mencintaimu, dengan kepastian yang bisa terdengar jelas dari suaraku. Namun, kau terlihat tidak puas. Kau menanyai hal yang sebenarnya tidak pernah ingin kujawab.

"Apakah kamu rela ikut berpindah denganku, menyembah Tuhan yang satu, dengan aku sebagai imammu?"

Walaupun aku tahu aku akhirnya akan mendengar pertanyaan ini, aku tetap sedikit terkejut. Namun, aku tidak akan meninggalkan apa yang telah tersusup dalam nadi, jawabku saat itu. Kau masih tidak yakin, entah pada jawabanku atau pada dirimu sendiri. Amat jelas terlihat di wajahmu. Aku berusaha menahan perasaan, entah amarah atau kepedihan.

Tentu saja, aku juga ingin kamu. Tapi, bagaimana mungkin aku bisa menduakan Tuhanku? Aku kenal Ia sejak masih dalam buaian. Namun, kamu? Apakah kamu bisa percaya padaku jika suatu saat aku mengikutimu? Tuhan yang Maha Kuasa saja bisa aku duakan, apalagi kamu yang sebatas makhluk tanpa kekuatan?

Kau masih bertanya lagi demi mendapat jawaban yang kau inginkan, sedang aku masih memberikan jawaban yang tidak ingin kamu dengar. Raut wajahmu mengeras, mataku berkaca-kaca.

Saat itu aku berharap Tuhan memaafkan aku atas cintaku yang tidak berhak ini.

Kau seketika terdiam, menunduk lesu. Kemudian, seperti mendapat kekuatan dari entah apa, kau memandangku pasti, tepat di mataku.

"Maafkan aku," ucapmu perlahan.

Aku hanya menggeleng, menahan air mata yang hampir terurai. Bukan, bukan salahmu untuk mencinta. Bukan salahmu untuk merasa. Bukan salahmu.

Mungkin ini cara Tuhan merajut kisah kita, dengan cara seperti ini.

Setelah percakapan menyakitkan ini, kau pergi, yang kutahu tidak akan pernah kembali. Entah ke kota pahlawan ini, atau pun ke dalam kisahku. Dan aku, tentu saja, tetap harus terus melanjutkan kisahku.

Setiap sudut kota ini seperti selalu berusaha mengingatkanku tentang kita.

Bukan. Bukan kita. Tapi kamu.

Ya, padamu.

Karena kisah kita nyatanya tidak pernah terajut dengan benar. Ia mengurai dirinya sendiri, sedang kita hanya dapat menatap nanar. Layaknya lambang kota pahlawan, kita akan selalu bertentangan.

Karena kita terlalu berbeda di mata Tuhan.

1 komentar:

  1. Nyesek gtu baca nya mbak

    speechless saya mbak... ditunggu tulisan lainya mbak

    BalasHapus