Selasa, 28 Februari 2017

Jakarta

sumber gambar
Sekali ini, aku ingin meyakinkan diriku bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa hidupku akan tetap berjalan apa adanya.

Aku terlalu sedih untuk menuliskan ini, sungguh. Bukankah aku adalah seseorang yang terlalu jujur? Bahkan aku merasa tidak sanggup untuk menuliskan ini. Entah apakah tulisan ini akan tersusun rapi pada akhirnya, atau hanya akan menjadi tulisan kosong tanpa makna.

Aku tidak tahu, aku bahkan tidak peduli akan itu.

Merelakan selalu menjadi hal yang sulit dilakukan, walaupun takdir seakan tak terelakkan. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Apakah semuanya akan mudah terlupa? Apa yang akan aku lakukan tanpa kita?

Bahkan 'kita' terasa jadi amat jauh.

Tahu apa aku tentang keikhlasan ketika aku tahu semua sebenarnya tidak baik-baik saja? Tahu apa aku tentang melepaskan ketika aku terlalu naif untuk bisa bersikap apa adanya? Tahu apa aku tentang masa depan ketika aku tidak yakin akan apa yang ada di depan mata?

Nyatanya, aku tidak tahu apa-apa.

Maaf, maafkan aku yang masih terlalu marah. Tapi, marah pada siapa? Marah pada apa? Seharusnya tidak ada yang harus dimarahi, tidak ada yang berhak dibenci. Namun, aku ingin melampiaskannya pada dunia, pada apa saja, pada siapa saja. Aku ingin menyalahkan keadaan, menyalahkan semua orang, menyalahkan kamu.

Tapi, apakah ini yang sebenarnya kuinginkan? 

Aku tidak ingin mengatakan apapun selain bahwa aku baik-baik saja di sini, sungguh. Mungkin kau akan sempat terpikir beberapa hal tentangku, aku pun begitu. Namun, aku akan pastikan bahwa di ibu kota ini, aku sungguh-sungguh baik-baik saja, bahkan tanpa kehadiranmu.

Aku baik-baik saja. 

Senin, 27 Februari 2017

Medan

sumber gambar
Mataku terpejam demi mencoba meredam degup jantungku sendiri. Di tengah keramaian ini, mengapa tiba-tiba ingatan tentangnya melintas di sanubari? Aku seketika ingat semuanya. Semua keindahan itu, semua kesenangan itu, semua kecintaan itu. Semuanya, seperti tanpa batas.

Namun, Tuhan membuat kita berbatas.

Aku ingat ketika pertama kali aku jatuh hati padamu. Pada senyum manismu, pada mata sipitmu, pada tawa ceriamu, pada apa pun yang ada pada dirimu. Tak peduli apakah kita berbeda, entah dalam ras maupun agama, aku coba acuhkan itu. Aku dekati kamu, nyatanya kau tidak membisu. Kau balas rasaku dengan rasamu, yang kuyakini bukanlah cinta semu.

Ingin rasanya aku kembali ke masa itu.

Bahkan ketika tiba-tiba engkau menjauh, aku masih ragu apakah itu benar inginmu. Aku coba yakinkan diriku, tidak ada masalah yang berarti padamu dan aku. Lalu, apakah hal yang membuatmu menjauh itu?

Semakin aku mempertanyakan hal itu, semakin ingin rasanya kupungkiri jawaban yang sudah pasti itu.

Pun saat kaujawab ingin tetap bersetia pada Tuhanmu, tepat di hadapanku.

Apa lagi yang kuharapkan? Aku pindah ke kota ini dengan hati tak tenang. Aku tidak mendapatkan jawaban yang aku inginkan, walaupun aku tahu itu salah satu bentuk kepastian. Namun, semua sudah berlalu. Sudah seharusnya aku pindah ke kota ini dengan harapan baru.

Saat ini, aku tahu kau memiliki seorang kekasih. Amat disayangkan, karena menurutku kalian tidak terlalu sepadan. Seharusnya kau bersanding dengan...

... denganku?

Ah, seandainya aku bisa menjadi egois seperti itu. Seandainya aku tidak memikirkan apa pun selain kamu. Mungkin aku bisa mempersandingmu, dan saat ini kamu sudah berada di sisiku. Seandainya aku bisa menjadi lebih egois dan berlaku semauku. Seandainya aku bisa memaksamu mengikutiku dan Tuhanku. Mungkin kita sudah bahagia bersama di sini.

Apakah boleh jika aku memohon pada Tuhanku untuk memintamu mengikuti-Nya? Apakah boleh jika aku berharap satu kali lagi saja?

Apakah boleh?

Apakah aku terlalu egois untuk itu?

Minggu, 26 Februari 2017

Yogyakarta

sumber gambar
Secangkir kopi menemaniku di tepian malam, lengkap dengan beberapa batang rokok, entah masih lima atau sudah enam. Lampu angkringan berpendar temaram, seperti hendak menambah kelam hati yang sedang suram.

Jalan Malioboro ramai seperti biasa, dan dengan itu aku sudah mulai terbiasa. Keramaian ini seperti tidak pernah usai. Para pengunjung seperti tak kenal lelah atau pun terlihat kusut masai. Banyak kulihat pasangan muda mudi sedang bercanda ria, sekelompok anak muda sedang berfoto bersama, dan orang-orang paruh baya sibuk mencari cendera mata. Semuanya asyik dengan kegiatannya masing-masing, sedang dengan keadaan sekitar mereka seakan tidak ambil pusing.

Mungkin satu-satunya orang yang sedang pusing di situ hanyalah aku.

Aku sedang sibuk menelusuri grup angkatan sekolah di ponselku, mencari kontak seseorang yang aku tahu dari dulu.

Kamu.

Begitu kutemukan, hatiku menjadi ragu. Apakah ketika kukirimi pesan singkat nanti, kamu akan membalasku?

Ah, masa bodoh. Masa' menyerah sebelum mencoba.

Maka kukirimilah salam padamu.

Ternyata, tiga menit kemudian, kau membalas salamku. Setelah itu, percakapan seperti mengalir begitu saja. Kamu tetap ramah seperti apa adanya, dan aku tetap terpukau dibuatnya.

Tanpa sadar aku mengiriminya sajak pendek. Jawaban yang datang juga pendek.

Sajaknya bagus.

Itu buat kamu, jawabku.

Ah, aku sedang tidak bisa membalas sajakmu. Kapan-kapan saja tidak apa-apa, kan?

Aku tersenyum sendiri. Mungkin teman-temanku akan melihatku dengan tatapan aneh. Namun, aku tidak peduli.

Tidak dibalas juga tidak apa-apa, aku hanya tiba-tiba saja ingin membuatkan sajak untukmu.

Agak lama, kamu tidak membalas. Kemudian, sebuah pesan darimu datang. 

Eh, apa kabar ya si dia? Aku penasaran.

Aku agak terkejut membaca pesanmu yang tiba-tiba ini. Dengan agak malas akupun menjawab,

Baik-baik saja, kemarin dia berkunjung ke sini. Kirimi saja ia pesan.

Balasanmu menjadi lebih cepat datang daripada sebelumnya. 

Tidak, ah. Aku takut padanya. Lebih baik aku tanya kabarnya melalui kamu. Kamu, kan, teman baiknya.

Aku seperti merasakan mataku berputar dengan sendirinya. Kujawab dengan agak ketus.

Untuk apa menanyakan kabarnya padaku? Tanya kabarku sajalah.

Kamu membalas dengan tawa, namun tetap bertanya mengenai dia, seakan dengan memaksa.

Dia.

Mengapa dia?

Mengapa bukan aku?

Padahal di sini aku menunggu, sekiranya kamu akan melupakan masa lalu. Ternyata, ia enggan pergi dari pikiranmu, sedang aku sendiri tetap termangu.

Mungkin aku tidak akan pernah mampu menjadi sajak yang kamu suka, sedang sajak yang kau puja tidak pernah menyadari bahwa kamu ada. 

Jumat, 24 Februari 2017

Surabaya

sumber gambar
Setiap sudut kota ini seperti selalu berusaha mengingatkanku tentang kisah kita.

Bukan. Bukan kita.

Tapi kamu. Ya, padamu.

Setiap tempat yang kudatangi seperti memiliki kisah tersendiri, kisah yang tentu saja menceritakan tentang kamu. Semua kisah itu seperti berkelebat di pikiranku saat kusinggahkan kakiku di mana saja. Di bawah pohon rindang tempat kita biasa bercengkerama saat tidak ada kelas, di kursi koridor tempatmu biasa menunggu dosen pembimbing, bahkan di gerbang kampus tempat kita merayakan kelulusan kita bersama yang lainnya.

Ah, bahkan untuk membayangkan berjalan kembali ke kampus kita itu saja membuatku sedikit sesak.

Aku tidak menyangka, kamu yang merupakan pendatang di kota ini dapat mengambil perhatianku di kampus perjuangan ini. Sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti. Saat itu, kamu selalu satu kelas denganku. Entah mengapa aku baru sadar sekarang, kamu selalu berusaha duduk di sebelahku, bagaimana pun caranya. Aku saat itu hanya berusaha menenangkan hatiku saat kau duduk di sisiku. Apakah kau saat itu dapat mendengar degup jantungku? Semoga saja tidak.

Seperti pepatah Jawa mengatakan, witing tresna jalaran saka kulina. Cinta ada karena terbiasa. Kita berdua menjadi terbiasa bersama ke mana pun, menjadi terbiasa bersama melakukan apa pun, selayaknya dua sejoli yang diberkati Dewi Cinta. Tidak ada status, tidak ada pernyataan cinta. Hanya kita jalani apa adanya.

Namun, aku seperti bangun dari tidur panjang setelah sekian lama.

Saat tersadar, aku menjauh. Aku tahu aku akan menyakitimu dan diriku sendiri. Tetapi, aku tidak ingin menyakiti lebih jauh. Aku sadar diri. Aku sadar kita tidak bisa bersatu.

Tahukah kamu, aku saat ini sedang berada di kantin jurusan kita, tempatmu biasa mengerjakan tugas. Aku duduk di meja favorit kita, entah mengapa. Kakiku seperti melangkah sendiri ketika melihat meja ini kosong, langsung tertuju padanya.

Padahal aku tahu, di sinilah kisah kita berakhir.

Beberapa bulan setelah wisuda dan mendapatkan pekerjaan, kau memintaku datang ke sini karena ingin berpamitan. Saat itu adalah hari terakhir kau tinggal di kota ini. Kau harus kembali ke kampung halamanmu esok hari. Aku pun datang tanpa prasangka apa pun padamu, pada kita, pada semesta.

Saat aku sampai, suasana kantin agak lengang. Dari jauh kulihat wajahmu tegang. Entah apa yang ada di pikiranmu, tak bisa kubaca karena aku bukan cenayang. Seperti biasa, kududuk di seberangmu. Kau seperti terkejut melihatku, namun segera bisa mengendalikan diri, seperti kau yang biasa. Aku hanya tersenyum.

Setelah basa-basi panjang yang sudah pasti tidak bisa kuingat sekarang apa isinya, kau seketika memasang raut serius.

Kau menanyakan perasaanku padamu, seperti ingin memastikan hal itu. Kujawab dengan jujur bahwa aku mencintaimu, dengan kepastian yang bisa terdengar jelas dari suaraku. Namun, kau terlihat tidak puas. Kau menanyai hal yang sebenarnya tidak pernah ingin kujawab.

"Apakah kamu rela ikut berpindah denganku, menyembah Tuhan yang satu, dengan aku sebagai imammu?"

Walaupun aku tahu aku akhirnya akan mendengar pertanyaan ini, aku tetap sedikit terkejut. Namun, aku tidak akan meninggalkan apa yang telah tersusup dalam nadi, jawabku saat itu. Kau masih tidak yakin, entah pada jawabanku atau pada dirimu sendiri. Amat jelas terlihat di wajahmu. Aku berusaha menahan perasaan, entah amarah atau kepedihan.

Tentu saja, aku juga ingin kamu. Tapi, bagaimana mungkin aku bisa menduakan Tuhanku? Aku kenal Ia sejak masih dalam buaian. Namun, kamu? Apakah kamu bisa percaya padaku jika suatu saat aku mengikutimu? Tuhan yang Maha Kuasa saja bisa aku duakan, apalagi kamu yang sebatas makhluk tanpa kekuatan?

Kau masih bertanya lagi demi mendapat jawaban yang kau inginkan, sedang aku masih memberikan jawaban yang tidak ingin kamu dengar. Raut wajahmu mengeras, mataku berkaca-kaca.

Saat itu aku berharap Tuhan memaafkan aku atas cintaku yang tidak berhak ini.

Kau seketika terdiam, menunduk lesu. Kemudian, seperti mendapat kekuatan dari entah apa, kau memandangku pasti, tepat di mataku.

"Maafkan aku," ucapmu perlahan.

Aku hanya menggeleng, menahan air mata yang hampir terurai. Bukan, bukan salahmu untuk mencinta. Bukan salahmu untuk merasa. Bukan salahmu.

Mungkin ini cara Tuhan merajut kisah kita, dengan cara seperti ini.

Setelah percakapan menyakitkan ini, kau pergi, yang kutahu tidak akan pernah kembali. Entah ke kota pahlawan ini, atau pun ke dalam kisahku. Dan aku, tentu saja, tetap harus terus melanjutkan kisahku.

Setiap sudut kota ini seperti selalu berusaha mengingatkanku tentang kita.

Bukan. Bukan kita. Tapi kamu.

Ya, padamu.

Karena kisah kita nyatanya tidak pernah terajut dengan benar. Ia mengurai dirinya sendiri, sedang kita hanya dapat menatap nanar. Layaknya lambang kota pahlawan, kita akan selalu bertentangan.

Karena kita terlalu berbeda di mata Tuhan.