Selasa, 20 September 2016

Utang

sumber gambar
"Aku masih berutang padamu." Ucapnya singkat malam itu. Aku, yang sedang terpaku pada novel yang baru saja kubeli, seketika menoleh demi memandang wajahnya.

"Utang apa?" Tanyaku.

"Utang kesetiaan." Jawabnya singkat dengan mimik wajah serius.

"Ah, apaan sih, kamu. Bisa aja gombalannya." Sahutku sambil memukul pundaknya pelan. Dia hanya tertawa, seperti puas dengan reaksiku.

"Tetapi aku serius, aku masih berutang itu padamu." Ucapnya lagi. Aku hanya tersenyum.

"Iya, iya. Segera dibayar, ya. Kutunggu." Jawabku sambil mencubit pipi tembemnya.

Sepertinya itu saat terakhir aku bisa benar-benar menikmati waktu berduaku dengannya, sebelum banyak hal terjadi setelah itu. Saat itu, aku hanya mengira ia bercanda atas apa yang ia ucapkan.

Lama setelah itu, kami sibuk syuting serial televisi mengenai keluarga kecil kami yang harmonis, aku sibuk membangun bisnis demi masa depan anak kami, dia sibuk syuting ini-itu di berbagai stasiun televisi, dan semua kesibukan lainnya. Semuanya amatlah normal saat itu.

Sampai wanita itu mendekat lagi.

Ya, sebelumnya ia pernah mendekati suamiku saat kami belum menikah. Saat itu aku hanya menganggap ia teman dekat suamiku yang memang amat supel dan ramah pada siapa saja.

Namun, keadaannya sekarang berbeda.

"Kami tidak ada apa-apa, kok. Tanya saja sama orangnya langsung. Jangan tanya sama saya, saya tidak tahu apa-apa." Kulihat ia di televisi memberi kejelasan saat diwawancarai wartawan.

Dasar pembohong, makiku dalam hati. Tentu saja kamu tahu semuanya. Kamu itu pelakunya. Semua orang juga sudah tahu kamu itu wanita penggoda. Semua gosip yang beredar itu sudah dikonfirmasi oleh berbagai pihak, dan semua orang melapor padaku. Apa yang aku bisa lakukan saat itu? Menampik semuanya, menganggap semuanya hanya gosip. Aku harus bisa berpikir positif terhadap suamiku saat ia berkata semua itu hanya kabar burung, dan aku percaya begitu saja.

Tetapi, segalanya berubah dengan cepat. Suamiku menjadi tidak seromantis dulu. Ia selalu marah saat melihatku. Ia lebih memilih pergi dari rumah daripada bermain dengan anakku atau hanya sekadar bersantai di sebelahku. Dan berkat kamu, suamiku tidak tidur di sampingku selama beberapa bulan setelah kau dekati lagi. Bahkan, ia tidak pulang selama empat minggu terakhir.

Masih bilang tidak tahu apa-apa?

"Yah, saya sama dia hanya sahabat. Dia menganggap saya kakak, saya anggap dia adik. Itu saja, sih. Tidak ada hubungan lebih. Semua yang dikabarkan orang-orang itu hanya gosip. Saya pun masih baik-baik saja dengan istri saya, kemarin baru saja ditemani syuting. Tanya saja sama dia kalau tidak percaya." Kali ini suamiku yang memberi kejelasan di layar kaca. Aku hanya bisa mengembuskan napas berat. Padahal kemarin kami tidak bertemu sama sekali.

Bahkan, sampai sekarang kamu pun belum melunasi utangmu, Sayang.

0 komentar:

Posting Komentar