Rabu, 28 September 2016

Anak

sumber gambar
Enam bulan adalah waktu yang sangat lama. Begitu banyak hal yang terjadi selama enam bulan ini. Dari drama di kehidupan nyata seperti penyusunan skripsi, sidang skripsi, persiapan berkas yudisium, pernyataan kelulusan, wisuda, sampai drama-drama di media sosial seperti pengakuan Awkarin dan akibat dari kelakuannya, Kim Kardashian melawan Taylor Swift, Ayu TingTing dan Raffi Ahmad, Khloe Kardashian melawan Chloe Moretz, Selena Gomez melawan tagar di media sosial, dan lain sebagainya. Kasus paling baru yang sedang disorot saat ini adalah Mario Teguh melawan anaknya yang tidak pernah ia anggap, Kiswinar. Untuk narasi ini, aku akan membahas kasus paling baru saja. Yang lainnya akan kubahas di tulisan yang lain jika aku tidak terlalu malas.

Kalian pasti tahu Pak Mario Teguh yang mulanya tenar dengan acara motivasinya di sebuah stasiun televisi. Ia selalu digambarkan sebagai seorang ayah dan suami yang baik dengan kondisi keuangan yang stabil dan ketenaran yang menasional. Ia dikenal juga dengan jargon-jargon yang ia ciptakan seperti 'Sahabat Super,' 'Itu,' dan lain sebagainya, lengkap dengan intonasi yang ia tekankan pada jargon-jargon tersebut. Banyak orang merasa termotivasi setelah menonton acara beliau, tetapi aku bukan salah satunya. Dulu, saat awal-awal aku menonton acara beliau, aku cukup terhipnotis dengan kata-kata mutiara yang beliau ucapkan. Tetapi, aku merasa mimik wajah beliau menyatakan hal yang sebaliknya. Aku merasa aneh dengan itu sehingga aku pun tidak lagi mengikuti acara beliau.

Selang bertahun-tahun kemudian, ketika aku sudah lebih canggih lagi dalam memakai internet, aku senang sekali masuk ke forum-forum yang membahas tentang berita artis-artis yang tidak tercium oleh publik. Aku ke sana hanya sekadar membaca beritanya saja, lebih untuk memuaskan keingintahuan dan kebosananku. Saat terlalu jauh berselancar, aku menemukan berita tentang Pak Mario Teguh. Orang yang dicitrakan sempurna itu ternyata memiliki cerita terpendam juga rupanya. Dalam forum tersebut, diceritakanlah bahwa ia memiliki anak dari perkawinannya yang terdahulu. Padahal di media sosialnya, Pak Mario selalu menyatakan bahwa ia hanya pernah menikah satu kali dan hanya memiliki anak dari perkawinannya yang sekarang. Dalam forum tersebut juga disebutkan bahwa anak Pak Mario dari perkawinan sebelumnya itu cukup tenar di media sosial karena usahanya sendiri. Karena aku penasaran, aku coba cari akun sang anak. Dan, benar saja, ia cukup terkenal di ask.fm.

Si anak ini, Mas Kiswinar, amat aktif di ask.fm. Ia merupakan seorang guru dan sekarang ini sedang mengencani seorang wanita baik yang sama tenarnya di media tersebut. Mas Kis, begitu ia disapa, terkadang ditanyai macam-macam oleh penanya di media tersebut (seringkali anonim) dan bahkan dicurhati pula. Mas Kis seringkali menjawab dengan lucu, dan terkadang pula ia menjawab dengan sedikit curcol (baca: curhat colongan) terutama untuk pertanyaan-pertanyaan yang berisi tentang curhatan tentang orangtua. Pernah ia menyatakan kerinduannya pada ayahnya yang tidak pernah ia temui, dan secara implisit ia juga pernah menyatakan bahwa ayahnya tidak menganggapnya. Itu hanya sesekali, sebelum semuanya menjadi viral.

Tiba-tiba saja, Mas Kis buka-bukaan soal dirinya dan Pak Mario di salah satu acara televisi. Ia menyatakan bahwa Pak Mario tidak pernah menganggapnya sebagai anak dan tidak ingin Mas Kis menemui beliau lagi, namun Mas Kis akan tetap terus mencintai Pak Mario sebagai seorang ayah. Akibatnya, keluarga Pak Mario di-bully oleh netizen, sampai-sampai anak perempuan Pak Mario menon-aktifkan akun-akun media sosialnya. Kesal akan hal ini, Pak Mario akhirnya menanggapi semua hal yang terjadi pada keluarganya itu di stasiun televisi yang berbeda. Ia berkata Mas Kis bukanlah anak-anak lagi. Ia harusnya bisa mandiri dan hebat di umurnya yang sudah 30 tahun ini. Bahkan tercetus frasa 'bekas anak' demi menampik status Mas Kis sebagai anaknya. Pak Mario pun akhirnya menantang Mas Kis untuk tes DNA. Cemooh berbalik ke Mas Kis dan keluarga. Pertarungan antara ayah dan anak ini membentuk dua kubu, kubu yang memihak Pak Mario dan kubu yang mendukung Mas Kis.

Tentu saja Mas Kis tidak menolak untuk menjawab tantangan Pak Mario tersebut. Didukung penuh oleh keluarga Pak Mario dan ibundanya, ia bersedia untuk tes DNA. Bahkan mulai santer terdengar bahwa dulunya saudara lelaki Pak Mario yang berprofesi sebagai dokter di Surabaya pernah bersedia mengurus segala hal mengenai tes DNA tersebut demi mengetahui apakah Mas Kis benar-benar anak Pak Mario. Namun, dulu beliau mangkir. Sekarang, seluruh masyarakat yang mengikuti perseteruan ini kembali terbelah dua; satu pihak yang memaksa Mas Kis untuk tes DNA, dan pihak lain yang meminta Mas Kis untuk diam saja karena ia punya bukti kuat. Bukti apa itu? Tak lain adalah akta lahir. Di akta lahir tersebut jelas tertera nama Sis Maryono Teguh di kolom nama ayah, yang tak lain dan tak bukan adalah nama asli Pak Mario. Pihak yang memaksa Mas Kis untuk tes DNA menganggap akta tersebut hanyalah selembar kertas yang tak berarti apa-apa. Hubungan darah tidak bisa dibuktikan hanya dengan itu, kata mereka. Padahal akta kelahiran adalah bukti hukum yang kuat untuk memberi status seorang anak. Cerita terus berjalan dan sampai saat ini, beritanya sampai pada Deddy Corbuzier disomasi bersama dengan Mas Kis dan adik perempuan Pak Mario demi keinginan Pak Mario untuk membatalkan rencana tes DNA yang dianggap sudah tidak penting lagi.

Sungguh akan menjadi amat panjang tulisan ini karena inti yang akan aku tuliskan sebenarnya bukan kisah penolakan Pak Mario akan keberadaan Mas Kis. 

Kebanyakan orang tua seringkali lupa bahwa anak bukanlah boneka yang bisa dipakaikan baju apa saja sesuai yang mereka inginkan. Mereka lupa anak bukanlah kucing yang jika lapar tinggal diberi makan saja. Kebanyakan orang tua lupa bahwa anak memiliki perasaan dan pikiran sendiri. Mereka juga memiliki hak di samping kewajiban menaati orang tua yang sudah mengurus mereka sejak kecil. Pada kasus Mas Kis, ia ingin dicintai oleh ayahnya juga, tidak hanya oleh ibunya. Ia bisa merasa kehilangan, ia bisa merasa kosong, ia bisa merasa rindu. Mungkin Pak Mario lupa bahwa seorang anak tetaplah seorang anak, entah ia berasal dari darahnya atau bukan. Anak yang merasa orang tuanya berubah saja bisa merasa amat kehilangan, apa lagi seorang anak yang secara terang-terangan tidak dianggap oleh orang tuanya.

Aku baru menyadari bahwa seorang anak yang telah menjadi orang tua pun akan selamanya tetap menjadi anak bagi orang tuanya. Aku melihat Abi yang selalu kembali pulang ke rumah Mbah demi bisa mencium tangan kedua orang tuanya dan menceritakan masalah serta isi hatinya pada Mbah Putri. Aku melihat Ummi yang senantiasa mengirimkan doa dan bacaan Yasin untuk Oma yang sudah terlebih dulu meninggalkan beliau. Bahkan sampai di umur mereka yang lebih tua dari Mas Kis, mereka tetap menghormati dan merasakan kehilangan serta kerinduan mendalam saat jauh dari orang tuanya. Mereka tetap hormat dan mendoakan yang terbaik untuk orang tua mereka. Mereka tetap menjadi anak bagi orang tua mereka, sampai setua apa pun mereka.

Seharusnya Pak Mario bersyukur memiliki anak yang baik seperti Mas Kis. Di luar sana, berapa banyak orang tua yang susah payah menginginkan anak. Berapa banyak lagi orang tua yang ingin anaknya menjadi anak yang sekadar disuruh membelikan bumbu dapur ke toko kelontong depan gang saja tidak menolak. Berapa banyak lagi orang tua yang bersedih melihat anaknya menghambur-hamburkan uang orang tuanya untuk hal-hal tidak berguna. Setidaknya Mas Kis tidak seperti itu. Setidaknya ia mengakui bahwa Pak Mario itu adalah ayahnya dan ingin beliau datang di hari pernikahannya. Setidaknya ia tidak menginginkan harta beliau, malah ia hanya butuh kasih sayang dari beliau. Setidaknya ia masih mengakui ia rindu dan kehilangan.

Karena seringkali orang tua lupa bahwa anak juga adalah manusia berperasaan, sama seperti mereka yang melahirkannya.

0 komentar:

Posting Komentar