Senin, 11 Januari 2016

KKN

sumber gambar
Besok aku akan berangkat ke salah satu desa di kabupaten Sampang di pulau Madura untuk melaksanakan KKN. Iya, aku baru saja mengambil mata kuliah KKN di semester tua ini karena aku terlalu malas dan banyak menganggur di semester ini tidak memiliki banyak tanggungan perkuliahan, sehingga kusisakan KKN untuk kunikmati di semester akhir.

Sesuai dengan namanya, KKN atau Kowah-Kowoh Nganggur Kuliah Kerja Nyata adalah kontribusi nyata kita sebagai mahasiswa kepada masyarakat sekitar. Kontribusi tersebut bisa berupa program kerja untuk membangun desa, memberi penyuluhan kepada masyarakat, atau pun mengajar anak-anak desa. Kebanyakan program KKN ini dilakukan di desa atau kelurahan di beberapa kabupaten di Jawa Timur. Pengembangan untuk daerah yang didatangi inilah yang akan dinilai untuk melihat seberapa jauh mahasiswa bisa memberikan tenaganya bagi masyarakat sekitar.

Dalam kurun waktu satu bulan, para mahasiswa akan dikelompokkan dan kemudian ditempatkan di desa atau kelurahan yang sudah ditentukan. Jadi, selain membaur dengan masyarakat di desa dan kelurahan setempat, para mahasiswa juga dituntut untuk bisa berbaur dengan teman sesama mahasiswa dari berbagai fakultas berbeda pada satu universitas yang sama. Aku bersyukur mendapatkan teman-teman yang suka bekerja sama dan selalu bahu membahu dalam menyusun rencana untuk keperluan kami di sana. Walaupun mungkin mereka memang sangat sibuk akibat urusan perkuliahan kemarin, tetapi mereka sangat menyenangkan.

Awalnya, kupikir program KKN hanyalah program untuk sekadar memberi penyuluhan atau mengajar masyarakat sekitar. Namun, ternyata KKN lebih dari itu. Di desa atau kelurahan yang akan mahasiswa tempati, mahasiswa akan "berkuliah" secara langsung kepada masyarakat dan "bekerja" secara nyata untuk masyarakat. Tidak hanya sekadar melakukan program kerja yang sudah disiapkan kelompok jauh-jauh hari di Surabaya, tetapi juga lebih dari itu. Kontribusi apa yang dapat kita berikan kepada masyarakat, seberapa senang masyarakat menerima kita di tempat mereka, seberapa jauh kita dapat mengenali mesyarakat daerah tersebut, serta apa hasil nyata yang dapat kita berikan kepada mereka. Itulah kuliah kerja nyata yang sebenarnya menurut ketua kelompokku. Bukan sekadar pindah tidur dan berkegiatan ala kadarnya di sana, tetapi bagaimana masyarakat merasa terbantu dengan adanya program KKN yang akan, sedang, dan telah berjalan di daerah tempat mereka tinggal.

Semoga kami yang akan berangkat KKN besok dapat membawa manfaat yang besar bagi daerah yang akan kami tempati.

Minggu, 10 Januari 2016

Berhenti

sumber gambar
"Maukah kau berhenti?"

Itu satu tanyamu
Tanya yang tak kumengerti
Tanya yang berbeda kutanggapi
Tanya yang bingung kusahuti

Sungguh, itu tanya yang kuanggap dengan salah arti
Seketika itu pula, nestapa menyelimuti hati
Bertanya pula hati ini,
"Apa yang salah pada diri ini?"

"Maukah kau berhenti?"

Itu satu tanyamu
Tanya yang menyesakkan dada
Seolah semuanya adalah akhir dunia
Seketika semua terasa hampa

Kemudian, katamu...

"Maukah kau berhenti, dan kita istirahat sejenak lalu berjalan bersama kembali?"

Sabtu, 09 Januari 2016

Pemberian

koleksi pribadi
Adalah jawaban yang masih sama persis seperti ketika aku tanya dia beberapa tahun yang lalu. Pemberian. Itulah yang ia jawab ketika kemarin malam kutanya apa arti nama depan dari keseluruhan nama lengkapnya, hanya untuk memastikan jika ingatanku benar. Nama yang unik dan aneh memang selalu menarik perhatianku, terutama nama-nama yang tidak umum dan jarang dipakai oleh kebanyakan orang. Terutama nama depan itu, nama depan seorang wanita yang selamanya akan tetap menjadi gadis muda karena nama belakangnya memiliki arti 'gadis muda' secara harfiah.

Aku ingat betul sudah berapa lama aku mengenal wanita ini. Sudah hampir empat tahun. Tetapi rasanya seperti sudah lama sekali. Seperti aku terlalu mengenal dia. Seperti ia terlalu mengenal aku. Terlalu dekat. Terlalu aneh untuk dipikirkan, tetapi sangat nyata dan terasa. Ia adalah sosok wanita yang keibuan. Maka, tidak aneh apabila aku menganggapnya sebagai ibu yang tidak pernah kupunya. Mungkin aku memang selalu membutuhkan sosok ibu di sekitarku bahkan ketika aku tidak sedang berada di rumah. Dan, ya, dia memang benar-benar memiliki kualitas itu. Dia selalu ada, bahkan ketika aku jarang ada untuknya. Dia selalu di sana, mengawasi tanpa menghakimi. Membantu tanpa diminta. Sampai terkadang aku merasa seperti anak malas yang selalu mendurhakai ibunya, tidak peduli dan seenaknya sendiri. Tetapi ia selalu terima itu, bahkan ketika ia butuh teman di kala menunggu tetapi aku malah pulang terlebih dahulu karena beberapa hal. Ia selalu menerima dengan lapang dada. Entah apa material yang membentuk hatinya sehingga ia bisa terlalu sabar seperti itu, sebuah kualitas yang belum bisa aku miliki.

Terlalu banyak cerita yang terjadi bersamanya, setidaknya dalam hidupku sendiri. Entah aku tokoh utamanya, entah ia tokoh utamanya. Terkadang bergantian secara tidak sadar. Pernah kami mengalami masalah yang cukup besar sehingga kami harus kehilangan kebersamaan selama satu semester. Namun, ternyata semesta sudah mengatur agar kami bersama lagi di semester berikutnya, sampai sekarang. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi itu terjadi begitu saja. Jika kami berdua ingat tentang hal itu, kami hanya akan menertawakan kekonyolan kami saat kami tidak menyapa satu sama lain selama hampir enam bulan perkuliahan itu. Aneh, memang, rasa sakit hati dan rasa bersalah kami malah kami tertawakan berdua. Sampai-sampai ia bertanya, "Memang boleh, ya, mengatakan hal yang menyakitkan kita kepada orang yang menyakiti kita?" Dan kujawab, "Boleh saja, justru bagus seperti itu. Tidak perlu mengatakannya kepada orang lain." Konyol, aku tahu. Tetapi kami tidak peduli.

Ia adalah seseorang yang sebenarnya memiliki banyak potensi tetapi terlalu rendah diri. Ia merasa tidak bisa melakukan apa pun yang dianggap benar, dan pun ketika ia melakukan hal yang benar, ia tidak merasa hal yang ia lakukan itu benar. Aku sampai harus memarahinya berkali-kali akan hal itu. Ia benar-benar memiliki kemampuan yang menakjubkan yang bahkan aku sendiri belum tentu bisa melakukannya. Kemampuannya untuk menghapal kosa kata bahasa Inggris yang bahkan aku tidak pernah dengar sangat luar biasa. Dan ia bisa menirukan banyak aksen Inggris dari hampir berbagai penjuru Inggris dan sebagian Amerika, sebuah kemampuan yang aku sangat iri sekali padanya. Dan seringkali ia menggangguku dengan aksen British yang kental tetapi lucu untuk didengar. Ia senang merajut, dan hasilnya cukup rapi. Ia pernah memberiku sebuah wadah rajut yang sangat lucu untuk ponselku dengan cuma-cuma, yang tidak pernah aku pakai lagi karena takut kotor disebabkan warnanya yang terang. Ia senang membaca, dan ia menghabiskan hampir dari seluruh uang jajannya hanya untuk membeli buku dan novel yang menurutnya bagus. Koleksi bukunya sangat banyak, dan hampir semuanya berbahasa Inggris. Aku selalu bisa menanyakan rekomendasi novel yang bagus padanya dan kemudian mencari terjemahannya karena aku paling malas membaca novel berbahasa Inggris. Dan satu hal yang selalu identik dengan dia, yaitu jurnal tahunan. Ia selalu mencatat tenggat waktu tugas, utang, daftar barang yang harus dibeli, dan lainnya dalam sebuah jurnal. Jurnalnya selalu penuh dan setiap tahun ia pasti berganti jurnal. Ia sangat telaten dengan hal itu, hal yang sangat tidak akan pernah aku lakukan karena aku tidak serajin itu. Dan karena ia memiliki daftar hal yang harus ia lakukan sepanjang waktu dan membawanya ke mana-mana, ia akan selalu ingat apa pun. Dan dari pengamatanku, ia adalah orang yang paling bertanggung jawab yang pernah aku temui. Ia akan selalu berusaha memenuhi janjinya, dan ia tidak akan mangkir dari tugas apa pun yang dibebankan padanya walaupun itu harus menyusahkannya. Dan masih banyak lagi hal-hal darinya yang membuatku kagum sekaligus iri padanya.

Ia selalu menganggapku sebagai seorang sahabat yang baik, padahal aku belum merasa melakukan hal yang sepadan seperti yang ia lakukan padaku. Aku belum bisa menjadi seorang sahabat yang baik baginya. Ia selalu bisa kuandalkan, dan aku selalu menghilang ketika ia butuhkan. Aku terkadang merasa tidak adil padanya. Akan tetapi, aku akan selalu berusaha membantunya. Mungkin bagi sebagian orang, ia adalah orang yang cukup sulit untuk didekati, atau bahkan menyusahkan, atau bahkan aneh. Tetapi, hal itu lah yang juga ada pada diriku. Mungkin sifat-sifat itu yang membuat kami cocok satu sama lain. Karena kami tahu masing-masing dari kami cukup sulit didekati dengan cara biasa, kami melakukan pendekatan pada satu sama lain dengan cara kami sendiri. Karena kami tahu kami sama-sama menyusahkan, kami akhirnya tahu bahwa ada yang selalu bisa dan mau kami repotkan ketika kami ada keperluan. Dan karena kami tahu bahwa kami aneh, kami bisa menjadi aneh bersama tanpa harus mengubah diri kami yang sesungguhnya. Kami bisa menerima satu sama lain dengan mudah, dan kami tidak menuntut adanya perubahan yang berarti dari diri masing-masing, kecuali untuk sikap-sikap yang menurut kami tidak patut untuk dilakukan.

Ia adalah orang yang bijaksana, setidaknya lebih bijaksana daripada aku. Ia sering merasa bahwa ia tidak bisa memberi nasihat yang bagus ketika aku menceritakan masalahku dan aku membutuhkan solusi yang tepat. Tetapi, tidak masalah bagiku. Setidaknya ada tempat untuk membagi keresahan sehingga aku tidak perlu menyimpannya sendiri. Pun ketika kukatakan padanya bahwa aku sedang tidak ingin menceritakan masalahku karena aku sedang mencoba menyelesaikannya sendiri, ia menjawab, "Seharusnya kamu cerita, jangan dipendam sendiri. Setidaknya kamu bisa berbagi denganku agar beban yang kamu angkat berkurang." Memang, setelah aku bercerita, aku merasa lega karena aku merasa didengarkan. Aku merasa diperhatikan. Aku merasa ada yang masih peduli dengan keadaanku, seberapa pun menyusahkannya aku. Pun, kadang solusi darinya cukup bagus, walaupun seringkali tidak kulakukan. Kita tidak akan benar-benar mendengarkan solusi ketika kita sedih, toh? Dan ia selalu mengingatkanku dengan caranya sendiri. Ia sering mengingatkanku dengan kata-kataku sendiri yang ia kutip dari banyak percakapan kami, yang seringkali membuatku malu sendiri karena aku bisa mengucapkan hal-hal tersebut tetapi belum bisa melakukannya sendiri.

Mungkin tulisan ini tidak cukup panjang untuk menceritakan banyak hal tentang wanita ini. Tetapi, satu hal yang aku tahu dan aku syukuri, ia memang benar-benar pemberian Tuhan untuk hidupku yang cukup berantakan ini. Ia akan selalu membantuku merapikan banyak hal dalam kehidupanku, pun ketika aku terlalu malas untuk merapikannya sendiri.

Selamat ulang tahun, Mes. Semoga kita lulus tepat waktu dan kemudian dapat beasiswa S2 setelah itu, ya.

Jumat, 08 Januari 2016

Kegelisahan

sumber gambar
Dulu, saat aku masih rajin-rajinnya menonton Stand Up Comedy melalui YouTube, aku sempat menonton salah satu comic (entah siapa, aku lupa karena sudah lama sekali) sedang tampil. Dalam materi yang ia sampaikan, ia menyatakan bahwa ia gelisah dengan suatu hal (yang aku juga sudah lupa apa kegelisahan yang ia katakan waktu itu) dan akhirnya kegelisahan itu ia tampilkan menjadi materi lelucon yang ia bawakan dalam penampilannya saat itu. Aku saat itu berpikir, "Gelisah saja bisa jadi materi, keren juga orang ini." Tetapi, penampilannya saat itu tidak terlalu berkesan dalam hatiku, yang dibuktikan dengan kelupaanku akan siapa comic tersebut beserta materi yang ia bawakan waktu itu.

Namun, malam ini, aku ingat kembali. Bukan tentang siapa comic itu ataupun apa materi yang ia gelisahkan saat itu, tetapi mengenai bagaimana kegelisahannya itu bisa menjadi materi lawakan yang cukup berbobot.

Aku cukup yakin bahwa aku bisa menuliskan suatu hal yang cukup bagus karena belum bisa menjadi "sangat bagus sekali" atau "bagus sekali" di blog ini karena adanya kegelisahan yang sangat mengganggu pikiranku. Kegelisahan itu ada dan berputar-putar di otakku sehingga mau tidak mau aku harus segera menuliskannya agar tidak hilang. Setelah dituangkan dalam bentuk tulisan, kegelisahan itu lambat laun menghilang dari kepalaku. Entah gelisah karena tugas yang belum diselesaikan, gelisah karena miris melihat banyaknya penggunaan kata serapan bahasa asing daripada kosakata asli bahasa Indonesia, atau gelisah dengan kebiasaanku yang suka menunda-nunda pekerjaan. Selagi belum kupindah kegelisahan itu ke dalam tulisan di blog ini, kegelisahan itu akan selalu ada dan mengganggu. Semakin aku menggelisahkan suatu hal, semakin banyak yang bisa kutuliskan dalam sebuah narasi.

Akan menjadi hal yang berbanding terbalik ketika aku tidak menggelisahkan suatu hal apa pun tetapi memaksa untuk menulis. Biasanya tulisanku akan cenderung pendek dan tidak ada apa-apanya. Semakin aku tidak memiliki kegelisahan apa pun, semakin aku tidak bisa menulis. Maka dari itu, akan terlihat sekali bedanya ketika aku menuliskan sesuatu yang terlihat bagus dengan sesuatu yang terlihat sangat biasa sekali karena jika disebut jelek itu keterlaluan sekali dilihat dari tingkat kegelisahan yang aku rasakan. Aku menyadari hal ini ketika aku menyelesaikan tulisanku kemarin mengenai peralihan bahasa. Karena aku amat sangat gelisah dengan hal ini, maka aku merasa mudah untuk menuliskan apa yang aku gelisahkan tersebut dalam sebuah narasi yang lumayan enak untuk dibaca.

Seperti sebuah tulisan yang sudah lama dibuat oleh sahabatku di blognya, ia menyatakan bahwa sebuah rasa sakit yang ditimbulkan oleh pikiran bisa dikurangi dengan cara dituliskan. Begitu pula dengan kegelisahan. Ketika ada rasa gelisah yang mengganjal dalam waktu yang lama, sebaiknya segera dituliskan agar rasa gelisah itu berkurang. Lagi pula, banyak sekali hasil karya orang-orang terkenal yang dibuat berdasarkan kegelisahan terdalam mereka, entah melalui lagu, puisi, gambar, atau artikel. Dan lagi, kegelisahan yang dituangkan dalam bentuk hasil karya semacam itu biasanya seakan memiliki jiwa dan makna yang dalam tidak seperti tulisan-tulisanku di blog ini.

Jadi, cobalah untuk menuangkan kegelisahanmu dalam secarik kertas, siapa tahu dapat mengurangi beban yang ada dalam kepalamu.

Kamis, 07 Januari 2016

Peralihan

sumber gambar
Dua hari yang lalu, aku membeli sebuah majalah remaja di salah satu toko buku di salah satu mal di Surabaya. Aku membeli majalah ini hanya karena tertarik dengan bonus yang diberikan secara cuma-cuma oleh majalah ini, yaitu agenda untuk diisi sepanjang tahun 2016. Isu dari majalah tersebut sejujurnya memang tidak menarik perhatianku. Aku hanya tertarik lantaran sampul agenda yang menjadi bonus dari majalah tersebut tebal dan berwarna hitam, yang merupakan warna favoritku. Agenda bonus tersebut cukup tebal, dan aku tidak yakin apakah aku membayar sekian puluh ribu untuk majalah remaja itu atau malah agendanya. Aku bahkan sejujurnya tidak peduli.

Sampai hari ini, baru agendanya saja yang kusentuh dan kuisi dengan beberapa hal. Majalah yang menjadi produk utama penjualan malah kubiarkan tergeletak begitu saja di kamar dan malah baru kubaca sore tadi, meskipun sudah kubawa ke kampus untuk mengisi waktu luang (yang sialnya malah tidak jadi kubaca di kampus). Sesampainya aku di rumah, aku mencoba membuka-buka majalah itu dari halaman paling belakang dan membaca beberapa bagian dari beberapa artikelnya. Tidak sampai satu artikel kuhabiskan, aku sudah membolak-balik lembaran demi lembaran majalah tersebut sampai tidak sadar bahwa aku sudah sampai ke sampul depan majalah.

Ternyata, aku benar-benar tidak tertarik, malah cenderung merasa aneh saat membaca majalah tersebut. Hal yang paling mencolok saat aku mencoba membaca satu per satu kalimat yang ada dalam artikel-artikel dalam majalah itu adalah banyaknya penggunaan bahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa Indonesia dalam setiap kalimatnya. Peralihan semacam ini cukup menggangguku. Memang, banyak artikel dalam majalah tersebut yang membahas tentang artis atau pun penyanyi Hollywood. Dan juga, memang sekarang ini penggunaan bahasa Inggris yang diselipkan dalam percakapan berbahasa Indonesia juga sudah jamak dilakukan oleh kebanyakan anak muda Indonesia. Akan tetapi, apakah peralihan bahasa semacam ini diperlukan dalam menyampaikan berita dalam sebuah media cetak? Seingatku, majalah-majalah remaja pada saat aku SMP tidak terlalu banyak menggunakan peralihan bahasa dalam tiap artikelnya. Mungkin beberapa artikel di majalah pada zaman itu menggunakan bahasa Inggris pada judul artikelnya, tetapi di bagian isi artikel mereka tetap menggunakan bahasa Indonesia untuk menyampaikan informasi terkait saat itu.

Mungkin beberapa (atau bahkan banyak) orang akan menganggapku sebagai orang yang konvensional dan tidak gaul. Namun, hal ini lah yang mungkin akan membuat kebanyakan dari generasi muda Indonesia yang tidak mengindahkan pentingnya menggunakan bahasa yang tepat terutama dalam media tulisan, yang sejatinya kesalahan sekecil apa pun bisa dilihat dengan mudah dengan mata telanjang. Tidak seperti percakapan, yang hanya bisa didengar sekali lalu dan tidak bisa dideteksi kesalahannya kecuali jika pendengarnya benar-benar menyimak. Dan lagi, media cetak semacam majalah remaja ini dapat dengan mudah mempengaruhi cara berpikir generasi muda saat ini. Jika peralihan bahasa tersebut digunakan untuk menyebut beberapa istilah yang memang tidak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia, mungkin masih sah dilakukan. Akan tetapi, menggunakan peralihan bahasa di hampir keseluruhan artikel dalam media cetak itu seharusnya tidak perlu. Hal itu hanya akan dianggap aneh. Apalagi jika tata bahasa Inggrisnya tidak tepat, malah akan menjadi lebih aneh lagi. Hal ini akan membuat generasi muda Indonesia malas memikirkan kosa kata asli bahasa Indonesia dan cenderung akan seenaknya mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, dan hal tersebut adalah yang seharusnya tidak perlu dilakukan.

Jika boleh memberi saran, sebaiknya majalah tersebut fokus dengan satu bahasa dalam satu artikelnya, semisal dalam satu artikel yang membahas artis luar negeri ia menggunakan bahasa Inggris, dan dalam artikel lain yang membahas hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia ia menggunakan bahasa Indonesia. Atau seluruh majalah menggunakan satu bahasa saja, alih-alih mencampur dua bahasa dalam kalimat-kalimat di tiap artikelnya. Dengan begitu, majalah tersebut akan lebih enak dibaca, alih-alih memaksakan diri untuk mengikuti sesuatu yang dianggap gaul tetapi tidak tepat guna.