Jumat, 30 September 2016

@awkarin

sumber gambar
Mengapa aku menuliskan nama akun di judul tulisan terakhir di bulan September ini? Karena nama akun tersebut amat viral akhir-akhir ini.

(Maaf jika aku turut membuat orang bodoh terkenal di blog ini. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa apa yang ia lakukan tidak sepatutnya adik-adik dan anak-anak kita contoh.)

Akun Instagram @awkarin menjadi terkenal beberapa bulan terakhir, bahkan pemilik akun tersebut, Karin Novilda, sampai diundang oleh KPAI secara eksklusif. Apa pasal?

Semua kejadian ini bermula saat Karin (atau mulai baris ini kita sebut saja dia Awkarin sesuai nama akun miliknya) mengunggah foto-fotonya bersama yang saat itu adalah pacarnya di akun Instagram miliknya. Mungkin akan banyak yang berpikir, hanya mengunggah foto bersama pacar di Instagram saja kok ujung-ujungnya bisa diundang langsung oleh KPAI, kok bisa? Masalahnya, yang ia unggah bukan foto biasa. Foto-foto yang ia unggah rupanya berisi kegiatan yang tidak sepantasnya diunggah ke dunia maya. Foto ia berciuman dengan pacarnya, merokok, dan lain sebagainya. Padahal mereka berdua masih SMA (yah, walaupun anak kuliah dan orang yang sudah menikah juga seharusnya tidak boleh mengunggah hal seperti itu di akun mereka). Banyak yang akhirnya menghujat dia di media sosial atas foto-foto tersebut. Ia malah semakin tidak berhenti. Tidak sampai lima bulan kemudian, ia diputuskan oleh pacarnya itu tepat beberapa menit sebelum hari ulang tahun pacarnya. Padahal Awkarin sudah menyiapkan kejutan besar-besaran untuk pacarnya saat itu. Akhirnya setelah acara kejutan ulang tahun itu terlaksana, ia membuat video klarifikasi. Diawali dengan acara kejutan ulang tahun sang mantan pacar, ia kemudian memberi penjelasan kepada netizen atas rasa cintanya pada sang mantan pacar dan bagaimana ia telah berkorban banyak untuk sang mantan pacar, lengkap dengan derai air mata yang tak terbendung dan sahabat setia di sisinya. Video tersebut jadi viral terutama di ask.fm. Banyak orang semakin mencemooh dia atas video klarifikasi yang ia buat itu.

Apakah sampai di situ ia tidak berhenti?

Tidak.

Setelah itu, ia semakin liar. Ia banyak berkata kasar dan kotor di vlog yang ia buat dan di akun Snapchat miliknya. Ia semakin parah dalam merokok dan mabuk-mabukan. Ia jadi sering dugem. Ia suka berpakaian terbuka. Dan parahnya, semua hal yang ia lakukan ini ditiru oleh anak-anak sekolah, paling banyak anak SD dan SMP. Mereka tiba-tiba menjadi penggemar militan Awkarin. Mereka membela mati-matian demi like dan follow back dari sang idola. Demi terlihat keren, mereka melakukan apa yang sang idola lakukan dan mengunggahnya di dunia maya. Hal ini membuat banyak orang tua resah akan anaknya. Melihat kejadian ini, mungkin banyak orang berpikir, ke mana orang tua Awkarin? Mengapa anak yang seperti itu malah dibiarkan saja? Mereka sebenarnya tidak acuh tak acuh pada keadaan Awkarin. Mereka malah sebenarnya sedih sekali dengan keadaan anak sulung mereka itu. Namun, mereka tidak bisa apa-apa karena Awkarin tinggal di Jakarta seorang diri dan orang tuanya tinggal di daerah asal mereka. Sehingga, orang tua Awkarin tidak bisa mengarahkan Awkarin seperti saat ia SMP dulu.

Demi membenarkan apa yang ia perbuat, Awkarin berkolaborasi dengan Young Lex, seorang yang mengakunya rapper muda, untuk membuat lagu. Lagu dan video musik mereka ini sangat menyita perhatian netizen karena lirik lagu yang mereka nyanyikan itu berisi tentang pembelaan mereka bahwa mereka hanyalah anak-anak yang walaupun nakal namun mereka tidak menyusahkan orang tua secara finansial. Mereka, dalam lagu tersebut, mengaku bahwa mereka tidak ingin berpura-pura menjadi anak baik, sehingga mereka terus saja menunjukkan kenakalan mereka dengan mengatasnamakan ketidakmunafikan. Lirik lagu kontroversial itu kemudian dijadikan bahan cemoohan di jagat internet. Mereka semakin gencar dibicarakan, dan hingga saat ini video lagu tersebut sudah ditonton enam juta kali dan mendapat dislike sebanyak 230.000-an. Banyak komentar pedas dengan nada sinis bertengger di kolom komentar video tersebut. Young Lex sebagai pengunggah video tersebut tidak terima dengan banyaknya komentar tidak enak yang sebenarnya lucu-lucu itu dan kemudian malah membalasi atau menghapus komentar-komentar tersebut.

Jika aku boleh berpendapat, sebenarnya perilaku Awkarin yang tidak patut ini diakibatkan keinginan Awkarin untuk mendapatkan perhatian. Semakin ia dianggap berperilaku kontroversial, semakin senang ia. Semakin ia dibicarakan banyak orang, semakin menjadi dia. Ia butuh perhatian, namun ia menariknya dengan cara yang sama sekali tidak dianggap lazim oleh kebanyakan orang. Ia merasa butuh dipuja dan dipuji. Hal itu dibuktikan dengan beberapa foto yang diunggahnya di akun Instagram-nya dan di foto itu, orang-orang tidak bisa menuliskan komentar karena kolom komentar tersebut dinonaktifkan. Ia juga merasa ingin dimaklumi atas perbuatannya, maka dari itu ia membuat lagu kolaborasi dengan Young Lex dan video klarifikasi atas semua yang terjadi. Ini hanya menunjukkan ketidakdewasaan Awkarin dalam menyelesaikan masalahnya, entah karena ia memang benar-benar tidak mampu berpikir apa yang benar atau memang ia merasa ia selalu benar. Ia seperti tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang menurut ia wajar, dan tidak ada orang yang bisa memberitahunya akan hal itu karena ia sendiri menolak untuk diberitahu. 

Sungguh kasihan sekali Awkarin ini. Sebenarnya banyak sekali yang peduli dengannya. Banyak yang mencoba menasihatinya di samping semua cemoohan yang dilontarkan padanya. Namun, semua nasihat dan anjuran yang diberikan baik-baik padanya tetap tidak dia acuhkan, alih-alih ia menganggap mereka sebagai para pembencinya. Padahal mereka peduli pada Awkarin selain untuk menyelamatkan lebih banyak anak bangsa dari kerusakan parah yang Awkarin perbuat. Seandainya saja ia lebih bisa menerima kritik dan nasihat serta tidak berbuat semaunya sendiri, mungkin ia akan lebih bisa menerima bentuk perhatian kecil dari orang-orang di sekitarnya. Namun, ia melakukan sebaliknya, sehingga perlahan orang-orang di sekitarnya tidak tahan dan menjauh akibat perilakunya sendiri. Ia malah menerima perhatian yang tidak seharusnya dari orang-orang yang malah memuja apa saja yang ia lakukan, sehingga ia semakin merasa apa yang ia lakukan adalah benar.

Jika kita mendapati anak-anak seperti Awkarin ini, segera dekati dan beri perhatian yang ia butuhkan. Anak-anak seperti Awkarin ini tidak akan ada jika kita sebagai orang terdekatnya bisa memberi arahan dan perhatian yang tepat untuk mereka.

Kamis, 29 September 2016

Kembali

sumber gambar
Tuhan...
Dengan menyebut nama mulia-Mu
Aku menyapa tergugu
Kapan Kau akan menjemputku?
Aku amat merindukan-Mu
Tetapi aku tahu
Kau belum ingin bertemu denganku
Karena aku masih berpeluh
Dan dosa masih meliputiku

Tuhan...
Kau Maha Mendengar dari Sana
Kau Maha Melihat jagat raya
Akankah Kau menungguku di Sana
Dengan tangan terbuka?
Atau dengan membuang muka?
Aku takut jika terjadi yang kedua
Lalu kuharus mengadu pada siapa?

Tuhan...
Kapan kita akan bertemu?
Kau tahu aku
Sulit mengungkapkan apa inginku
Aku selalu terdiam membisu
Karena tak tahu bagaimana harus berlaku
Aku malu pada-Mu
Dan akhirnya hanya bisa tersedu

Tuhan...
Pantaskah aku bertanya seperti ini?
Pantaskan aku meminta sebanyak ini?
Pantaskah aku memohon seberat ini?
Aku malu sekali
Bicara pada-Mu hanya ketika sakit hati
Sedang di lain hari
Menyapa-Mu sejenak saja harus berat hati

Tuhan...
Kau Maha Ikhlas dipanggil dengan nama apa saja
Kau Maha Pengasih memberi pada siapa saja
Bahkan padaku
Hamba-Mu yang jarang pernah khusyuk
Dengan makhluk-Mu lebih sering kuberasyik masyuk
Ciptaan-Mu seringkali membuatku mabuk

Tuhan...
Aku sering tak sadarkan diri
Dengan keberadaan-Mu di sini
Padahal aku tahu pasti
Kau melihatku dari segala sisi

Tuhan...
Jika Kau hendaki panjang umurku
Aku harap Kau persingkat hidupku
Karena aku tidak mau
Terlalu lama menunggu untuk bertemu
Pun jika Kau teruskan begitu
Aku ingin hilangkanlah rasa haru
Atas rasa cemburuku pada makhluk-Mu
Karena sepantasnya cemburuku
Hanya kupersembahkan pada-Mu

Rabu, 28 September 2016

Anak

sumber gambar
Enam bulan adalah waktu yang sangat lama. Begitu banyak hal yang terjadi selama enam bulan ini. Dari drama di kehidupan nyata seperti penyusunan skripsi, sidang skripsi, persiapan berkas yudisium, pernyataan kelulusan, wisuda, sampai drama-drama di media sosial seperti pengakuan Awkarin dan akibat dari kelakuannya, Kim Kardashian melawan Taylor Swift, Ayu TingTing dan Raffi Ahmad, Khloe Kardashian melawan Chloe Moretz, Selena Gomez melawan tagar di media sosial, dan lain sebagainya. Kasus paling baru yang sedang disorot saat ini adalah Mario Teguh melawan anaknya yang tidak pernah ia anggap, Kiswinar. Untuk narasi ini, aku akan membahas kasus paling baru saja. Yang lainnya akan kubahas di tulisan yang lain jika aku tidak terlalu malas.

Kalian pasti tahu Pak Mario Teguh yang mulanya tenar dengan acara motivasinya di sebuah stasiun televisi. Ia selalu digambarkan sebagai seorang ayah dan suami yang baik dengan kondisi keuangan yang stabil dan ketenaran yang menasional. Ia dikenal juga dengan jargon-jargon yang ia ciptakan seperti 'Sahabat Super,' 'Itu,' dan lain sebagainya, lengkap dengan intonasi yang ia tekankan pada jargon-jargon tersebut. Banyak orang merasa termotivasi setelah menonton acara beliau, tetapi aku bukan salah satunya. Dulu, saat awal-awal aku menonton acara beliau, aku cukup terhipnotis dengan kata-kata mutiara yang beliau ucapkan. Tetapi, aku merasa mimik wajah beliau menyatakan hal yang sebaliknya. Aku merasa aneh dengan itu sehingga aku pun tidak lagi mengikuti acara beliau.

Selang bertahun-tahun kemudian, ketika aku sudah lebih canggih lagi dalam memakai internet, aku senang sekali masuk ke forum-forum yang membahas tentang berita artis-artis yang tidak tercium oleh publik. Aku ke sana hanya sekadar membaca beritanya saja, lebih untuk memuaskan keingintahuan dan kebosananku. Saat terlalu jauh berselancar, aku menemukan berita tentang Pak Mario Teguh. Orang yang dicitrakan sempurna itu ternyata memiliki cerita terpendam juga rupanya. Dalam forum tersebut, diceritakanlah bahwa ia memiliki anak dari perkawinannya yang terdahulu. Padahal di media sosialnya, Pak Mario selalu menyatakan bahwa ia hanya pernah menikah satu kali dan hanya memiliki anak dari perkawinannya yang sekarang. Dalam forum tersebut juga disebutkan bahwa anak Pak Mario dari perkawinan sebelumnya itu cukup tenar di media sosial karena usahanya sendiri. Karena aku penasaran, aku coba cari akun sang anak. Dan, benar saja, ia cukup terkenal di ask.fm.

Si anak ini, Mas Kiswinar, amat aktif di ask.fm. Ia merupakan seorang guru dan sekarang ini sedang mengencani seorang wanita baik yang sama tenarnya di media tersebut. Mas Kis, begitu ia disapa, terkadang ditanyai macam-macam oleh penanya di media tersebut (seringkali anonim) dan bahkan dicurhati pula. Mas Kis seringkali menjawab dengan lucu, dan terkadang pula ia menjawab dengan sedikit curcol (baca: curhat colongan) terutama untuk pertanyaan-pertanyaan yang berisi tentang curhatan tentang orangtua. Pernah ia menyatakan kerinduannya pada ayahnya yang tidak pernah ia temui, dan secara implisit ia juga pernah menyatakan bahwa ayahnya tidak menganggapnya. Itu hanya sesekali, sebelum semuanya menjadi viral.

Tiba-tiba saja, Mas Kis buka-bukaan soal dirinya dan Pak Mario di salah satu acara televisi. Ia menyatakan bahwa Pak Mario tidak pernah menganggapnya sebagai anak dan tidak ingin Mas Kis menemui beliau lagi, namun Mas Kis akan tetap terus mencintai Pak Mario sebagai seorang ayah. Akibatnya, keluarga Pak Mario di-bully oleh netizen, sampai-sampai anak perempuan Pak Mario menon-aktifkan akun-akun media sosialnya. Kesal akan hal ini, Pak Mario akhirnya menanggapi semua hal yang terjadi pada keluarganya itu di stasiun televisi yang berbeda. Ia berkata Mas Kis bukanlah anak-anak lagi. Ia harusnya bisa mandiri dan hebat di umurnya yang sudah 30 tahun ini. Bahkan tercetus frasa 'bekas anak' demi menampik status Mas Kis sebagai anaknya. Pak Mario pun akhirnya menantang Mas Kis untuk tes DNA. Cemooh berbalik ke Mas Kis dan keluarga. Pertarungan antara ayah dan anak ini membentuk dua kubu, kubu yang memihak Pak Mario dan kubu yang mendukung Mas Kis.

Tentu saja Mas Kis tidak menolak untuk menjawab tantangan Pak Mario tersebut. Didukung penuh oleh keluarga Pak Mario dan ibundanya, ia bersedia untuk tes DNA. Bahkan mulai santer terdengar bahwa dulunya saudara lelaki Pak Mario yang berprofesi sebagai dokter di Surabaya pernah bersedia mengurus segala hal mengenai tes DNA tersebut demi mengetahui apakah Mas Kis benar-benar anak Pak Mario. Namun, dulu beliau mangkir. Sekarang, seluruh masyarakat yang mengikuti perseteruan ini kembali terbelah dua; satu pihak yang memaksa Mas Kis untuk tes DNA, dan pihak lain yang meminta Mas Kis untuk diam saja karena ia punya bukti kuat. Bukti apa itu? Tak lain adalah akta lahir. Di akta lahir tersebut jelas tertera nama Sis Maryono Teguh di kolom nama ayah, yang tak lain dan tak bukan adalah nama asli Pak Mario. Pihak yang memaksa Mas Kis untuk tes DNA menganggap akta tersebut hanyalah selembar kertas yang tak berarti apa-apa. Hubungan darah tidak bisa dibuktikan hanya dengan itu, kata mereka. Padahal akta kelahiran adalah bukti hukum yang kuat untuk memberi status seorang anak. Cerita terus berjalan dan sampai saat ini, beritanya sampai pada Deddy Corbuzier disomasi bersama dengan Mas Kis dan adik perempuan Pak Mario demi keinginan Pak Mario untuk membatalkan rencana tes DNA yang dianggap sudah tidak penting lagi.

Sungguh akan menjadi amat panjang tulisan ini karena inti yang akan aku tuliskan sebenarnya bukan kisah penolakan Pak Mario akan keberadaan Mas Kis. 

Kebanyakan orang tua seringkali lupa bahwa anak bukanlah boneka yang bisa dipakaikan baju apa saja sesuai yang mereka inginkan. Mereka lupa anak bukanlah kucing yang jika lapar tinggal diberi makan saja. Kebanyakan orang tua lupa bahwa anak memiliki perasaan dan pikiran sendiri. Mereka juga memiliki hak di samping kewajiban menaati orang tua yang sudah mengurus mereka sejak kecil. Pada kasus Mas Kis, ia ingin dicintai oleh ayahnya juga, tidak hanya oleh ibunya. Ia bisa merasa kehilangan, ia bisa merasa kosong, ia bisa merasa rindu. Mungkin Pak Mario lupa bahwa seorang anak tetaplah seorang anak, entah ia berasal dari darahnya atau bukan. Anak yang merasa orang tuanya berubah saja bisa merasa amat kehilangan, apa lagi seorang anak yang secara terang-terangan tidak dianggap oleh orang tuanya.

Aku baru menyadari bahwa seorang anak yang telah menjadi orang tua pun akan selamanya tetap menjadi anak bagi orang tuanya. Aku melihat Abi yang selalu kembali pulang ke rumah Mbah demi bisa mencium tangan kedua orang tuanya dan menceritakan masalah serta isi hatinya pada Mbah Putri. Aku melihat Ummi yang senantiasa mengirimkan doa dan bacaan Yasin untuk Oma yang sudah terlebih dulu meninggalkan beliau. Bahkan sampai di umur mereka yang lebih tua dari Mas Kis, mereka tetap menghormati dan merasakan kehilangan serta kerinduan mendalam saat jauh dari orang tuanya. Mereka tetap hormat dan mendoakan yang terbaik untuk orang tua mereka. Mereka tetap menjadi anak bagi orang tua mereka, sampai setua apa pun mereka.

Seharusnya Pak Mario bersyukur memiliki anak yang baik seperti Mas Kis. Di luar sana, berapa banyak orang tua yang susah payah menginginkan anak. Berapa banyak lagi orang tua yang ingin anaknya menjadi anak yang sekadar disuruh membelikan bumbu dapur ke toko kelontong depan gang saja tidak menolak. Berapa banyak lagi orang tua yang bersedih melihat anaknya menghambur-hamburkan uang orang tuanya untuk hal-hal tidak berguna. Setidaknya Mas Kis tidak seperti itu. Setidaknya ia mengakui bahwa Pak Mario itu adalah ayahnya dan ingin beliau datang di hari pernikahannya. Setidaknya ia tidak menginginkan harta beliau, malah ia hanya butuh kasih sayang dari beliau. Setidaknya ia masih mengakui ia rindu dan kehilangan.

Karena seringkali orang tua lupa bahwa anak juga adalah manusia berperasaan, sama seperti mereka yang melahirkannya.

Selasa, 20 September 2016

Utang

sumber gambar
"Aku masih berutang padamu." Ucapnya singkat malam itu. Aku, yang sedang terpaku pada novel yang baru saja kubeli, seketika menoleh demi memandang wajahnya.

"Utang apa?" Tanyaku.

"Utang kesetiaan." Jawabnya singkat dengan mimik wajah serius.

"Ah, apaan sih, kamu. Bisa aja gombalannya." Sahutku sambil memukul pundaknya pelan. Dia hanya tertawa, seperti puas dengan reaksiku.

"Tetapi aku serius, aku masih berutang itu padamu." Ucapnya lagi. Aku hanya tersenyum.

"Iya, iya. Segera dibayar, ya. Kutunggu." Jawabku sambil mencubit pipi tembemnya.

Sepertinya itu saat terakhir aku bisa benar-benar menikmati waktu berduaku dengannya, sebelum banyak hal terjadi setelah itu. Saat itu, aku hanya mengira ia bercanda atas apa yang ia ucapkan.

Lama setelah itu, kami sibuk syuting serial televisi mengenai keluarga kecil kami yang harmonis, aku sibuk membangun bisnis demi masa depan anak kami, dia sibuk syuting ini-itu di berbagai stasiun televisi, dan semua kesibukan lainnya. Semuanya amatlah normal saat itu.

Sampai wanita itu mendekat lagi.

Ya, sebelumnya ia pernah mendekati suamiku saat kami belum menikah. Saat itu aku hanya menganggap ia teman dekat suamiku yang memang amat supel dan ramah pada siapa saja.

Namun, keadaannya sekarang berbeda.

"Kami tidak ada apa-apa, kok. Tanya saja sama orangnya langsung. Jangan tanya sama saya, saya tidak tahu apa-apa." Kulihat ia di televisi memberi kejelasan saat diwawancarai wartawan.

Dasar pembohong, makiku dalam hati. Tentu saja kamu tahu semuanya. Kamu itu pelakunya. Semua orang juga sudah tahu kamu itu wanita penggoda. Semua gosip yang beredar itu sudah dikonfirmasi oleh berbagai pihak, dan semua orang melapor padaku. Apa yang aku bisa lakukan saat itu? Menampik semuanya, menganggap semuanya hanya gosip. Aku harus bisa berpikir positif terhadap suamiku saat ia berkata semua itu hanya kabar burung, dan aku percaya begitu saja.

Tetapi, segalanya berubah dengan cepat. Suamiku menjadi tidak seromantis dulu. Ia selalu marah saat melihatku. Ia lebih memilih pergi dari rumah daripada bermain dengan anakku atau hanya sekadar bersantai di sebelahku. Dan berkat kamu, suamiku tidak tidur di sampingku selama beberapa bulan setelah kau dekati lagi. Bahkan, ia tidak pulang selama empat minggu terakhir.

Masih bilang tidak tahu apa-apa?

"Yah, saya sama dia hanya sahabat. Dia menganggap saya kakak, saya anggap dia adik. Itu saja, sih. Tidak ada hubungan lebih. Semua yang dikabarkan orang-orang itu hanya gosip. Saya pun masih baik-baik saja dengan istri saya, kemarin baru saja ditemani syuting. Tanya saja sama dia kalau tidak percaya." Kali ini suamiku yang memberi kejelasan di layar kaca. Aku hanya bisa mengembuskan napas berat. Padahal kemarin kami tidak bertemu sama sekali.

Bahkan, sampai sekarang kamu pun belum melunasi utangmu, Sayang.

Jumat, 16 September 2016

Pemimpin

sumber gambar
Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata "pemimpin"? Seseorang yang berada di garis depan setiap pertempuran kah? Atau seseorang yang menunggu sembari melenggang di baris paling buncit kah?

Pemimpin adalah orang yang diteladani, bukan untuk ditakuti. Di depan ia disegani, di belakang ia dihormati. Ia memberi contoh, bukan memberi cemooh. Pemimpin bukanlah seseorang yang menikmati hasil belaka, namun melalui proses juga.

Pemimpin tidaklah pandang bulu. Ia mengajak semua orang untuk maju. Ia tidak menyebut orang berjabatan rendah sebagai bawahan, alih-alih ia menyebut mereka sebagai rekan. Ia menghargai semua kolega dan menganggap mereka sama rata. Tidak ada yang dibedakan karena semuanya memiliki pencapaian yang sama di masa depan.

Pemimpin tidak hanya berdiri di depan atau di belakang saja. Ia juga berdiri di sisi para koleganya. Tidak hanya sekadar berdiri, ia lebih kepada mengayomi. Ia tidak memerintah, ia lebih kepada memberi arah. Ia tidak mengeluh walaupun ia berpeluh. Ia juga rela merasakan susah, namun tidak rela untuh duduk berpasrah. Ia tidak hanya rajin menceramahi, tetapi ia juga harus dapat memahami. Ia memikirkan semua masukan, dan yang kontra tidak dianggap lawan.

Pemimpin bertumbuh bersama rekan-rekannya. Ia tidak ingin berdiri di puncak sendiri saja. Apalah arti kesuksesan jika hanya ia seorang yang mendapatkan? Ia menganggap kesuksesan itu adalah hasil dari orang-orang yang mau untuk maju. Meskipun misalnya mereka sempat tumbang, setidaknya mereka akan berkembang seiring bimbingan sang pimpinan.

Apa jadinya jika kamu menemukan seorang pemimpin yang tidak sesuai dengan tulisan di atas?

Mungkin dia bukan seorang pemimpin, tetapi dia seorang bos.

Senin, 11 Januari 2016

KKN

sumber gambar
Besok aku akan berangkat ke salah satu desa di kabupaten Sampang di pulau Madura untuk melaksanakan KKN. Iya, aku baru saja mengambil mata kuliah KKN di semester tua ini karena aku terlalu malas dan banyak menganggur di semester ini tidak memiliki banyak tanggungan perkuliahan, sehingga kusisakan KKN untuk kunikmati di semester akhir.

Sesuai dengan namanya, KKN atau Kowah-Kowoh Nganggur Kuliah Kerja Nyata adalah kontribusi nyata kita sebagai mahasiswa kepada masyarakat sekitar. Kontribusi tersebut bisa berupa program kerja untuk membangun desa, memberi penyuluhan kepada masyarakat, atau pun mengajar anak-anak desa. Kebanyakan program KKN ini dilakukan di desa atau kelurahan di beberapa kabupaten di Jawa Timur. Pengembangan untuk daerah yang didatangi inilah yang akan dinilai untuk melihat seberapa jauh mahasiswa bisa memberikan tenaganya bagi masyarakat sekitar.

Dalam kurun waktu satu bulan, para mahasiswa akan dikelompokkan dan kemudian ditempatkan di desa atau kelurahan yang sudah ditentukan. Jadi, selain membaur dengan masyarakat di desa dan kelurahan setempat, para mahasiswa juga dituntut untuk bisa berbaur dengan teman sesama mahasiswa dari berbagai fakultas berbeda pada satu universitas yang sama. Aku bersyukur mendapatkan teman-teman yang suka bekerja sama dan selalu bahu membahu dalam menyusun rencana untuk keperluan kami di sana. Walaupun mungkin mereka memang sangat sibuk akibat urusan perkuliahan kemarin, tetapi mereka sangat menyenangkan.

Awalnya, kupikir program KKN hanyalah program untuk sekadar memberi penyuluhan atau mengajar masyarakat sekitar. Namun, ternyata KKN lebih dari itu. Di desa atau kelurahan yang akan mahasiswa tempati, mahasiswa akan "berkuliah" secara langsung kepada masyarakat dan "bekerja" secara nyata untuk masyarakat. Tidak hanya sekadar melakukan program kerja yang sudah disiapkan kelompok jauh-jauh hari di Surabaya, tetapi juga lebih dari itu. Kontribusi apa yang dapat kita berikan kepada masyarakat, seberapa senang masyarakat menerima kita di tempat mereka, seberapa jauh kita dapat mengenali mesyarakat daerah tersebut, serta apa hasil nyata yang dapat kita berikan kepada mereka. Itulah kuliah kerja nyata yang sebenarnya menurut ketua kelompokku. Bukan sekadar pindah tidur dan berkegiatan ala kadarnya di sana, tetapi bagaimana masyarakat merasa terbantu dengan adanya program KKN yang akan, sedang, dan telah berjalan di daerah tempat mereka tinggal.

Semoga kami yang akan berangkat KKN besok dapat membawa manfaat yang besar bagi daerah yang akan kami tempati.

Minggu, 10 Januari 2016

Berhenti

sumber gambar
"Maukah kau berhenti?"

Itu satu tanyamu
Tanya yang tak kumengerti
Tanya yang berbeda kutanggapi
Tanya yang bingung kusahuti

Sungguh, itu tanya yang kuanggap dengan salah arti
Seketika itu pula, nestapa menyelimuti hati
Bertanya pula hati ini,
"Apa yang salah pada diri ini?"

"Maukah kau berhenti?"

Itu satu tanyamu
Tanya yang menyesakkan dada
Seolah semuanya adalah akhir dunia
Seketika semua terasa hampa

Kemudian, katamu...

"Maukah kau berhenti, dan kita istirahat sejenak lalu berjalan bersama kembali?"

Sabtu, 09 Januari 2016

Pemberian

koleksi pribadi
Adalah jawaban yang masih sama persis seperti ketika aku tanya dia beberapa tahun yang lalu. Pemberian. Itulah yang ia jawab ketika kemarin malam kutanya apa arti nama depan dari keseluruhan nama lengkapnya, hanya untuk memastikan jika ingatanku benar. Nama yang unik dan aneh memang selalu menarik perhatianku, terutama nama-nama yang tidak umum dan jarang dipakai oleh kebanyakan orang. Terutama nama depan itu, nama depan seorang wanita yang selamanya akan tetap menjadi gadis muda karena nama belakangnya memiliki arti 'gadis muda' secara harfiah.

Aku ingat betul sudah berapa lama aku mengenal wanita ini. Sudah hampir empat tahun. Tetapi rasanya seperti sudah lama sekali. Seperti aku terlalu mengenal dia. Seperti ia terlalu mengenal aku. Terlalu dekat. Terlalu aneh untuk dipikirkan, tetapi sangat nyata dan terasa. Ia adalah sosok wanita yang keibuan. Maka, tidak aneh apabila aku menganggapnya sebagai ibu yang tidak pernah kupunya. Mungkin aku memang selalu membutuhkan sosok ibu di sekitarku bahkan ketika aku tidak sedang berada di rumah. Dan, ya, dia memang benar-benar memiliki kualitas itu. Dia selalu ada, bahkan ketika aku jarang ada untuknya. Dia selalu di sana, mengawasi tanpa menghakimi. Membantu tanpa diminta. Sampai terkadang aku merasa seperti anak malas yang selalu mendurhakai ibunya, tidak peduli dan seenaknya sendiri. Tetapi ia selalu terima itu, bahkan ketika ia butuh teman di kala menunggu tetapi aku malah pulang terlebih dahulu karena beberapa hal. Ia selalu menerima dengan lapang dada. Entah apa material yang membentuk hatinya sehingga ia bisa terlalu sabar seperti itu, sebuah kualitas yang belum bisa aku miliki.

Terlalu banyak cerita yang terjadi bersamanya, setidaknya dalam hidupku sendiri. Entah aku tokoh utamanya, entah ia tokoh utamanya. Terkadang bergantian secara tidak sadar. Pernah kami mengalami masalah yang cukup besar sehingga kami harus kehilangan kebersamaan selama satu semester. Namun, ternyata semesta sudah mengatur agar kami bersama lagi di semester berikutnya, sampai sekarang. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi itu terjadi begitu saja. Jika kami berdua ingat tentang hal itu, kami hanya akan menertawakan kekonyolan kami saat kami tidak menyapa satu sama lain selama hampir enam bulan perkuliahan itu. Aneh, memang, rasa sakit hati dan rasa bersalah kami malah kami tertawakan berdua. Sampai-sampai ia bertanya, "Memang boleh, ya, mengatakan hal yang menyakitkan kita kepada orang yang menyakiti kita?" Dan kujawab, "Boleh saja, justru bagus seperti itu. Tidak perlu mengatakannya kepada orang lain." Konyol, aku tahu. Tetapi kami tidak peduli.

Ia adalah seseorang yang sebenarnya memiliki banyak potensi tetapi terlalu rendah diri. Ia merasa tidak bisa melakukan apa pun yang dianggap benar, dan pun ketika ia melakukan hal yang benar, ia tidak merasa hal yang ia lakukan itu benar. Aku sampai harus memarahinya berkali-kali akan hal itu. Ia benar-benar memiliki kemampuan yang menakjubkan yang bahkan aku sendiri belum tentu bisa melakukannya. Kemampuannya untuk menghapal kosa kata bahasa Inggris yang bahkan aku tidak pernah dengar sangat luar biasa. Dan ia bisa menirukan banyak aksen Inggris dari hampir berbagai penjuru Inggris dan sebagian Amerika, sebuah kemampuan yang aku sangat iri sekali padanya. Dan seringkali ia menggangguku dengan aksen British yang kental tetapi lucu untuk didengar. Ia senang merajut, dan hasilnya cukup rapi. Ia pernah memberiku sebuah wadah rajut yang sangat lucu untuk ponselku dengan cuma-cuma, yang tidak pernah aku pakai lagi karena takut kotor disebabkan warnanya yang terang. Ia senang membaca, dan ia menghabiskan hampir dari seluruh uang jajannya hanya untuk membeli buku dan novel yang menurutnya bagus. Koleksi bukunya sangat banyak, dan hampir semuanya berbahasa Inggris. Aku selalu bisa menanyakan rekomendasi novel yang bagus padanya dan kemudian mencari terjemahannya karena aku paling malas membaca novel berbahasa Inggris. Dan satu hal yang selalu identik dengan dia, yaitu jurnal tahunan. Ia selalu mencatat tenggat waktu tugas, utang, daftar barang yang harus dibeli, dan lainnya dalam sebuah jurnal. Jurnalnya selalu penuh dan setiap tahun ia pasti berganti jurnal. Ia sangat telaten dengan hal itu, hal yang sangat tidak akan pernah aku lakukan karena aku tidak serajin itu. Dan karena ia memiliki daftar hal yang harus ia lakukan sepanjang waktu dan membawanya ke mana-mana, ia akan selalu ingat apa pun. Dan dari pengamatanku, ia adalah orang yang paling bertanggung jawab yang pernah aku temui. Ia akan selalu berusaha memenuhi janjinya, dan ia tidak akan mangkir dari tugas apa pun yang dibebankan padanya walaupun itu harus menyusahkannya. Dan masih banyak lagi hal-hal darinya yang membuatku kagum sekaligus iri padanya.

Ia selalu menganggapku sebagai seorang sahabat yang baik, padahal aku belum merasa melakukan hal yang sepadan seperti yang ia lakukan padaku. Aku belum bisa menjadi seorang sahabat yang baik baginya. Ia selalu bisa kuandalkan, dan aku selalu menghilang ketika ia butuhkan. Aku terkadang merasa tidak adil padanya. Akan tetapi, aku akan selalu berusaha membantunya. Mungkin bagi sebagian orang, ia adalah orang yang cukup sulit untuk didekati, atau bahkan menyusahkan, atau bahkan aneh. Tetapi, hal itu lah yang juga ada pada diriku. Mungkin sifat-sifat itu yang membuat kami cocok satu sama lain. Karena kami tahu masing-masing dari kami cukup sulit didekati dengan cara biasa, kami melakukan pendekatan pada satu sama lain dengan cara kami sendiri. Karena kami tahu kami sama-sama menyusahkan, kami akhirnya tahu bahwa ada yang selalu bisa dan mau kami repotkan ketika kami ada keperluan. Dan karena kami tahu bahwa kami aneh, kami bisa menjadi aneh bersama tanpa harus mengubah diri kami yang sesungguhnya. Kami bisa menerima satu sama lain dengan mudah, dan kami tidak menuntut adanya perubahan yang berarti dari diri masing-masing, kecuali untuk sikap-sikap yang menurut kami tidak patut untuk dilakukan.

Ia adalah orang yang bijaksana, setidaknya lebih bijaksana daripada aku. Ia sering merasa bahwa ia tidak bisa memberi nasihat yang bagus ketika aku menceritakan masalahku dan aku membutuhkan solusi yang tepat. Tetapi, tidak masalah bagiku. Setidaknya ada tempat untuk membagi keresahan sehingga aku tidak perlu menyimpannya sendiri. Pun ketika kukatakan padanya bahwa aku sedang tidak ingin menceritakan masalahku karena aku sedang mencoba menyelesaikannya sendiri, ia menjawab, "Seharusnya kamu cerita, jangan dipendam sendiri. Setidaknya kamu bisa berbagi denganku agar beban yang kamu angkat berkurang." Memang, setelah aku bercerita, aku merasa lega karena aku merasa didengarkan. Aku merasa diperhatikan. Aku merasa ada yang masih peduli dengan keadaanku, seberapa pun menyusahkannya aku. Pun, kadang solusi darinya cukup bagus, walaupun seringkali tidak kulakukan. Kita tidak akan benar-benar mendengarkan solusi ketika kita sedih, toh? Dan ia selalu mengingatkanku dengan caranya sendiri. Ia sering mengingatkanku dengan kata-kataku sendiri yang ia kutip dari banyak percakapan kami, yang seringkali membuatku malu sendiri karena aku bisa mengucapkan hal-hal tersebut tetapi belum bisa melakukannya sendiri.

Mungkin tulisan ini tidak cukup panjang untuk menceritakan banyak hal tentang wanita ini. Tetapi, satu hal yang aku tahu dan aku syukuri, ia memang benar-benar pemberian Tuhan untuk hidupku yang cukup berantakan ini. Ia akan selalu membantuku merapikan banyak hal dalam kehidupanku, pun ketika aku terlalu malas untuk merapikannya sendiri.

Selamat ulang tahun, Mes. Semoga kita lulus tepat waktu dan kemudian dapat beasiswa S2 setelah itu, ya.

Jumat, 08 Januari 2016

Kegelisahan

sumber gambar
Dulu, saat aku masih rajin-rajinnya menonton Stand Up Comedy melalui YouTube, aku sempat menonton salah satu comic (entah siapa, aku lupa karena sudah lama sekali) sedang tampil. Dalam materi yang ia sampaikan, ia menyatakan bahwa ia gelisah dengan suatu hal (yang aku juga sudah lupa apa kegelisahan yang ia katakan waktu itu) dan akhirnya kegelisahan itu ia tampilkan menjadi materi lelucon yang ia bawakan dalam penampilannya saat itu. Aku saat itu berpikir, "Gelisah saja bisa jadi materi, keren juga orang ini." Tetapi, penampilannya saat itu tidak terlalu berkesan dalam hatiku, yang dibuktikan dengan kelupaanku akan siapa comic tersebut beserta materi yang ia bawakan waktu itu.

Namun, malam ini, aku ingat kembali. Bukan tentang siapa comic itu ataupun apa materi yang ia gelisahkan saat itu, tetapi mengenai bagaimana kegelisahannya itu bisa menjadi materi lawakan yang cukup berbobot.

Aku cukup yakin bahwa aku bisa menuliskan suatu hal yang cukup bagus karena belum bisa menjadi "sangat bagus sekali" atau "bagus sekali" di blog ini karena adanya kegelisahan yang sangat mengganggu pikiranku. Kegelisahan itu ada dan berputar-putar di otakku sehingga mau tidak mau aku harus segera menuliskannya agar tidak hilang. Setelah dituangkan dalam bentuk tulisan, kegelisahan itu lambat laun menghilang dari kepalaku. Entah gelisah karena tugas yang belum diselesaikan, gelisah karena miris melihat banyaknya penggunaan kata serapan bahasa asing daripada kosakata asli bahasa Indonesia, atau gelisah dengan kebiasaanku yang suka menunda-nunda pekerjaan. Selagi belum kupindah kegelisahan itu ke dalam tulisan di blog ini, kegelisahan itu akan selalu ada dan mengganggu. Semakin aku menggelisahkan suatu hal, semakin banyak yang bisa kutuliskan dalam sebuah narasi.

Akan menjadi hal yang berbanding terbalik ketika aku tidak menggelisahkan suatu hal apa pun tetapi memaksa untuk menulis. Biasanya tulisanku akan cenderung pendek dan tidak ada apa-apanya. Semakin aku tidak memiliki kegelisahan apa pun, semakin aku tidak bisa menulis. Maka dari itu, akan terlihat sekali bedanya ketika aku menuliskan sesuatu yang terlihat bagus dengan sesuatu yang terlihat sangat biasa sekali karena jika disebut jelek itu keterlaluan sekali dilihat dari tingkat kegelisahan yang aku rasakan. Aku menyadari hal ini ketika aku menyelesaikan tulisanku kemarin mengenai peralihan bahasa. Karena aku amat sangat gelisah dengan hal ini, maka aku merasa mudah untuk menuliskan apa yang aku gelisahkan tersebut dalam sebuah narasi yang lumayan enak untuk dibaca.

Seperti sebuah tulisan yang sudah lama dibuat oleh sahabatku di blognya, ia menyatakan bahwa sebuah rasa sakit yang ditimbulkan oleh pikiran bisa dikurangi dengan cara dituliskan. Begitu pula dengan kegelisahan. Ketika ada rasa gelisah yang mengganjal dalam waktu yang lama, sebaiknya segera dituliskan agar rasa gelisah itu berkurang. Lagi pula, banyak sekali hasil karya orang-orang terkenal yang dibuat berdasarkan kegelisahan terdalam mereka, entah melalui lagu, puisi, gambar, atau artikel. Dan lagi, kegelisahan yang dituangkan dalam bentuk hasil karya semacam itu biasanya seakan memiliki jiwa dan makna yang dalam tidak seperti tulisan-tulisanku di blog ini.

Jadi, cobalah untuk menuangkan kegelisahanmu dalam secarik kertas, siapa tahu dapat mengurangi beban yang ada dalam kepalamu.

Kamis, 07 Januari 2016

Peralihan

sumber gambar
Dua hari yang lalu, aku membeli sebuah majalah remaja di salah satu toko buku di salah satu mal di Surabaya. Aku membeli majalah ini hanya karena tertarik dengan bonus yang diberikan secara cuma-cuma oleh majalah ini, yaitu agenda untuk diisi sepanjang tahun 2016. Isu dari majalah tersebut sejujurnya memang tidak menarik perhatianku. Aku hanya tertarik lantaran sampul agenda yang menjadi bonus dari majalah tersebut tebal dan berwarna hitam, yang merupakan warna favoritku. Agenda bonus tersebut cukup tebal, dan aku tidak yakin apakah aku membayar sekian puluh ribu untuk majalah remaja itu atau malah agendanya. Aku bahkan sejujurnya tidak peduli.

Sampai hari ini, baru agendanya saja yang kusentuh dan kuisi dengan beberapa hal. Majalah yang menjadi produk utama penjualan malah kubiarkan tergeletak begitu saja di kamar dan malah baru kubaca sore tadi, meskipun sudah kubawa ke kampus untuk mengisi waktu luang (yang sialnya malah tidak jadi kubaca di kampus). Sesampainya aku di rumah, aku mencoba membuka-buka majalah itu dari halaman paling belakang dan membaca beberapa bagian dari beberapa artikelnya. Tidak sampai satu artikel kuhabiskan, aku sudah membolak-balik lembaran demi lembaran majalah tersebut sampai tidak sadar bahwa aku sudah sampai ke sampul depan majalah.

Ternyata, aku benar-benar tidak tertarik, malah cenderung merasa aneh saat membaca majalah tersebut. Hal yang paling mencolok saat aku mencoba membaca satu per satu kalimat yang ada dalam artikel-artikel dalam majalah itu adalah banyaknya penggunaan bahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa Indonesia dalam setiap kalimatnya. Peralihan semacam ini cukup menggangguku. Memang, banyak artikel dalam majalah tersebut yang membahas tentang artis atau pun penyanyi Hollywood. Dan juga, memang sekarang ini penggunaan bahasa Inggris yang diselipkan dalam percakapan berbahasa Indonesia juga sudah jamak dilakukan oleh kebanyakan anak muda Indonesia. Akan tetapi, apakah peralihan bahasa semacam ini diperlukan dalam menyampaikan berita dalam sebuah media cetak? Seingatku, majalah-majalah remaja pada saat aku SMP tidak terlalu banyak menggunakan peralihan bahasa dalam tiap artikelnya. Mungkin beberapa artikel di majalah pada zaman itu menggunakan bahasa Inggris pada judul artikelnya, tetapi di bagian isi artikel mereka tetap menggunakan bahasa Indonesia untuk menyampaikan informasi terkait saat itu.

Mungkin beberapa (atau bahkan banyak) orang akan menganggapku sebagai orang yang konvensional dan tidak gaul. Namun, hal ini lah yang mungkin akan membuat kebanyakan dari generasi muda Indonesia yang tidak mengindahkan pentingnya menggunakan bahasa yang tepat terutama dalam media tulisan, yang sejatinya kesalahan sekecil apa pun bisa dilihat dengan mudah dengan mata telanjang. Tidak seperti percakapan, yang hanya bisa didengar sekali lalu dan tidak bisa dideteksi kesalahannya kecuali jika pendengarnya benar-benar menyimak. Dan lagi, media cetak semacam majalah remaja ini dapat dengan mudah mempengaruhi cara berpikir generasi muda saat ini. Jika peralihan bahasa tersebut digunakan untuk menyebut beberapa istilah yang memang tidak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia, mungkin masih sah dilakukan. Akan tetapi, menggunakan peralihan bahasa di hampir keseluruhan artikel dalam media cetak itu seharusnya tidak perlu. Hal itu hanya akan dianggap aneh. Apalagi jika tata bahasa Inggrisnya tidak tepat, malah akan menjadi lebih aneh lagi. Hal ini akan membuat generasi muda Indonesia malas memikirkan kosa kata asli bahasa Indonesia dan cenderung akan seenaknya mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, dan hal tersebut adalah yang seharusnya tidak perlu dilakukan.

Jika boleh memberi saran, sebaiknya majalah tersebut fokus dengan satu bahasa dalam satu artikelnya, semisal dalam satu artikel yang membahas artis luar negeri ia menggunakan bahasa Inggris, dan dalam artikel lain yang membahas hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia ia menggunakan bahasa Indonesia. Atau seluruh majalah menggunakan satu bahasa saja, alih-alih mencampur dua bahasa dalam kalimat-kalimat di tiap artikelnya. Dengan begitu, majalah tersebut akan lebih enak dibaca, alih-alih memaksakan diri untuk mengikuti sesuatu yang dianggap gaul tetapi tidak tepat guna.