Jumat, 31 Juli 2015

Mampat

sumber gambar

Sejujurnya, malam ini aku tidak ada keinginan untuk menulis. Rasanya kepalaku sedang mampat, tidak bisa diajak memikirkan hal-hal bagus untuk dituliskan. Inspirasi terasa hilang entah ke mana. Dan yang bisa kutuliskan di sini untuk menggenapkan jumlah post bulan ini hanyalah mengeluhkan otakku yang tidak mau berjalan dengan semestinya.


Terlalu banyak pikiran, kata orang-orang. Cih, masih muda tetapi sudah banyak pikiran. Bagaimana masa tuanya nanti? Pikirku. Entahlah, tetapi harus kuakui memang aku sedang memikirkan banyak hal. Apakah itu mengenai skripsiku, kapan aku akan lulus, bagaimana aku bisa mendapatkan pekerjaan nantinya, kapan aku akan mengambil S2, bagaimana nasib percintaanku ke depannya, apakah aku akan lulus secepatnya, apa yang harus kutulis di sini, bagaimana harus mengubah diri menjadi lebih baik, dan sebagainya. Saking rumit dan pusingnya, sampai apa yang baru saja kutulis menjadi sangat kacau. Tetapi, apalah peduliku. Toh, aku hanya ingin memenuhi keharusanku dalam mengisi blog ini.

Memang, pikiranku sedang sangat mampat. Harusnya aku mencari hiburan, seperti kata dosen waliku satu semester yang lalu. Dan buruknya, aku bukanlah orang yang mudah mencari hiburan untuk diriku sendiri. Pikiranku sedang mudah teralihkan. Aku menjadi tidak fokus. Harusnya aku bersenang-senang.

Harusnya aku menyenangkan diriku sendiri.

Harusnya aku.

Harusnya.

Terlalu banyak kata 'harusnya'.

Mungkin aku terlalu lelah.

Selasa, 21 Juli 2015

Dia

sumber gambar
Maafkan aku. Hatiku menginginkan apa yang ia inginkan, itu kamu. Kumohon, kembalilah. Aku sungguh menyesal dengan apa yang telah kukatakan. Kumohon, kembalilah...

Kurasakan denyut di jantungku berlari semakin kencang. Dadaku seperti diremas kuat-kuat oleh seseorang. Sakit. Sesak. Kilatan-kilatan adegan yang tak ingin kuingat bersemburat layaknya cat air berwarna-warni yang dicipratkan ke kepalaku.

Dia.

Aku tahu pesan singkat itu berisi penyesalan yang amat mendalam darinya, gadis cantikku. Namun, aku terlanjur terlalu sakit hati karena tuduhan-tuduhannya. Bahkan, ia sampai hati menyuruhku memilih antara ia dan wanita yang ia cemburui.

Bodoh. Tentu saja aku memilihmu, wanitaku, rutukku dalam hati.

Sayang sekali, ia tidak menyadarinya.

Aku menimang-nimang ponselku, menimbang apakah aku harus membalas pesan darinya atau membiarkannya saja. Aku sudah bisa membayangkan apa yang ia lakukan sekarang. Meringkuk di tempat tidurnya yang nyaman, tempat kami biasa bercengkerama, sembari menyelimuti dirinya dari hembusan pendingin ruangan yang diatur sedemikian dingin dan menangis meratapi apa yang telah ia lakukan. Suatu kebiasaan yang aku hapal dengan pasti, karena biasanya aku akan ada di sana, memeluknya agar ia merasa hangat dan dilindungi.

Seandainya saja aku bisa melakukan itu sekarang. Tapi ia yang membuatku harus menahan diri untuk saat ini.

Sejak kejadian itu, aku pergi dari rumahnya, yang selama ini kuanggap sebagai tempat pulang dan mendapatkan banyak cinta di dalamnya. Aku mengemasi seluruh barangku dan kembali ke apartemenku yang dingin. Kuundang semua sahabatku ke apartemenku agar aku bisa menyingkirkan sejenak semua kejadian itu. Aku minum-minum sampai mabuk untuk melupakan senyum manisnya. Tetapi, yang kuracaukan hanya dia.

Dia, dia, dia. Wanitaku.

Sahabat-sahabatku memahamiku dengan baik. Mereka membuatku tetap berada di alam sadarku dan mencoba memberikan banyak solusi. Aku pun mulai bisa berdiri lagi sampai saat aku menerima pesan singkat itu.

Kumohon, kembalilah...

Kalimat terakhirnya sungguh menghancurkan hatiku. Ia sangat menderita, aku tahu. Aku pun ingin kembali, ingin memeluknya sekali lagi, ingin mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi aku tersakiti, dan ia tidak menyadari betapa sakitnya aku saat ia menuduhku yang tidak-tidak.

Kupandangi ponselku sejenak, kemudian menuliskan beberapa patah kalimat yang semoga akan ia cerna dengan baik dalam kesedihannya.

Aku ingin kita berdua berjalan dalam takdir kita masing-masing dulu untuk saat ini. Maaf, aku egois. Tetapi aku ingin kamu berpikir dan memperbaiki diri, hal yang sama yang akan aku lakukan sekarang. Semoga kamu baik-baik saja di sana, maafkan aku.

Segera kumatikan ponselku setelah pesan singkatku terkirim, kemudian kembali menekuri pekerjaan yang sudah aku tinggalkan beberapa jam yang lalu ketika pesan singkat darinya datang. Agar aku bisa segera melupakan sakit ini.

Dan dia.

Jumat, 17 Juli 2015

Maaf

sumber gambar

Hari ini, Ramadhan sudah berganti menjadi Syawal. Itu adalah pertanda bahwa hari ini adalah hari raya umat Muslim seluruh dunia, yaitu Idulfitri. Untuk itu, aku selaku penulis dan pemilik blog Narasi Satu Kata ini memohon maaf sebanyak-banyaknya kepada para pembaca dan aku mohon didoakan agar menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.


Idulfitri, selain identik dengan opor ayam, ketupat, dan mudik, identik pula dengan tradisi maaf-memaafkan. Setiap orang berusaha meminta maaf kepada orang-orang terdekat entah melalui pesan singkat, layanan chat, telepon, atau bertemu langsung. Momen ini pun dimanfaatkan banyak orang untuk merangkai kata-kata indah atau lucu untuk meminta maaf, terutama orang-orang yang menggunakan aplikasi layanan chat dan pesan singkat. Namun, sayangnya, kata-kata tersebut tidak dikirimkan secara personal, melainkan disebar kepada banyak orang sekaligus dalam satu waktu. Sehingga, pesan utama yang berusaha disampaikan tersebut tidak terasa spesial.

Seringkali, pasti kita ingin menerima pesan berupa permintaan maaf dari orang-orang tertentu terutama dalam momen Idulfitri. Tetapi, ketika kita menerima pesan yang isinya sepertinya juga dikirimkan pada orang lain (biasanya terlihat dari susunan kalimat dan ketiadaan nama orang yang dituju), kita akan merasa bahwa permintaan maaf itu tidak tulus. Kita akan merasa percuma saja membuat paragraf panjang nan indah tanpa ketulusan berarti untuk meminta maaf. Malah, bisa jadi kita menganggap lebih baik tidak mengucapkan sekalian daripada tidak ada kesan tulus dan spesial dalam pesan tersebut. Kita jadi malas membalas pesan tersebut. Alih-alih, mungkin kita akan menjawab, "Sama-sama, ya!" atau "Aku juga minta maaf ya," tanpa ada obrolan lebih lanjut. Padahal, satu pesan permohonan maaf bisa menghubungkan kembali tali silaturahmi yang mungkin sudah lama tidak tersambung.

Menurutku, ketika kita mengirimkan pesan permohonan maaf kepada orang lain, terutama dalam momen lebaran ini, akan lebih baik jika kita menyebutkan nama panggilan si penerima pesan atau sapaan kepadanya. Mereka akan merasa lebih spesial dan khusus dalam menerima pesan itu, walaupun mungkin isi pesan yang kita kirimkan kepada satu dan lain orang adalah sama. Juga akan ada kesan tulus dalam pesan itu, seolah kita benar-benar meminta maaf hanya kepada orang itu. Mungkin, yang akan terjadi selanjutnya adalah si penerima pesan membalas dengan sukacita, dan tali silaturahmi yang sudah lama terputus pun akan tersambung kembali.

Jadi, jangan malas membubuhkan nama si penerima dalam pesanmu. Bisa jadi itu adalah awal yang baik untuk kalian. Tidak perlu panjang dan bertele-tele. Walaupun pendek, jika terkesan tulus dan khusus, si penerima pesan akan senang dan benar-benar memaafkan kesalahanmu yang mungkin kamu tidak pernah menyadarinya.

Selamat Hari Raya Idulfitri, semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Rabu, 15 Juli 2015

Pencemburu

"Aku tidak ingin berpacaran lagi."

Ia menoleh, seperti agak terkaget.

"Ada apa? Mengapa tiba-tiba kamu berbicara seperti itu?" Ia menatapku lekat-lekat.

Aku memandang langit sore yang berwarna jingga kemerahan. Burung-burung mulai kembali ke peraduannya, muadzin sudah bersiap-siap dengan mik di langgar, dan kami di sini masih duduk sejak tadi.

"Aku merasa berdosa. Aku telah menyelingkuhi Tuhan," jawabku.

"Menyelingkuhi Tuhan bagaimana? Memangnya sekarang kamu menyembah selain Dia?" Nada suaranya tampak bingung. Aku menangkap adanya rasa khawatir dari suaranya. Mungkin ia takut aku menjadi tidak waras.

"Tidak, aku tetap senantiasa mencumbu-Nya di tengah malam. Aku juga masih selalu mencium-Nya di setiap sujudku. Aku masih setia pada-Nya."

"Lalu, maksudmu menyelingkuhi Dia itu bagaimana?" Tanyanya lagi. Ia sangat penasaran dengan omonganku yang makin tidak karuan menurutnya.

"Kamu tahu, ketika aku berpacaran, aku akan sedikit demi sedikit menjauh dari-Nya. Bukan nama-Nya lagi yang kusebut dalam deru napasku. Bukan keagungan-Nya lagi yang kuingat dalam pikiranku. Bukan Ia lagi yang kumasukkan dalam hatiku, melainkan makhluk-Nya yang tidak berdaya. Cintaku seperti bergeser dari-Nya ke makhluk ciptaan-Nya. Padahal aku tahu bahwa Tuhan itu Maha Pencemburu. Tetapi aku malah menyelingkuhinya."

"Lho, tapi kan ada yang disebut dengan hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan makhluk?" Kejarnya. Aku menghela napas.

"Iya, tetapi hubunganmu dengan makhluk ciptaan-Nya itu tercipta karena hubunganmu dengan Tuhan. Kamu cinta makhluk-Nya karena kamu cinta pada-Nya. Seperti ketika kamu menikah atas perintah-Nya, berarti kamu menuruti keinginan-Nya. Kamu cinta pada-Nya, maka kamu menikah sesuai dengan perintah yang Ia mau."

"Namun, bagaimana mungkin seorang majikan mencemburui hambanya? Kita ini hamba-Nya, bagaimana Ia bisa cemburu pada kita?" Tanyanya lagi.

"Kamu harus sadar bahwa kamu itu milik-Nya. Dan selayaknya pemilik, Ia berhak merasa cemburu jika ada orang lain yang berusaha menggantikan posisi-Nya di hatimu. Sama seperti ketika kamu punya kucing. Ketika kucingmu lebih memilih bermain dengan orang lain dan malas bermain denganmu, pasti kamu kesal, kan? Kamu akan berpikir bahwa kamu lah pemilik kucing itu, jadi yang berhak dipilih oleh kucing itu harusnya kamu."

"Begitu ya..."

"Karena Tuhan adalah Sang Pencemburu, Ia bisa melakukan apa saja yang Ia mau lakukan pada hamba-Nya agar mereka kembali mengingat-Nya." Aku mulai menatapnya. Raut wajahnya antara kebingungan tetapi seperti baru saja mendapat setitik cahaya petunjuk.

"Kamu tahu, ketika aku sedang bertengkar sampai akhirnya berpisah dengan mantanku yang terakhir, aku akhirnya menyadari bahwa Tuhan sedang sangat cemburu padaku. Aku terlalu sibuk mengingat hamba-Nya yang satu itu tanpa mengingat-Nya sama sekali. Ia ingin aku ingat pada-Nya. Maka dari itu Ia membuat skenario seperti itu." Lanjutku. Ia mengangguk-angguk.

"Jadi, jangan sampai cinta kita kepada makhluk-Nya mengalahkan cinta kita pada-Nya ya..." Ucapnya. Aku mengangguk.

"Iya, karena Dia lah Sang Maha Pencemburu. Maka dari itu, aku sudah tidak ingin menyelingkuhi-Nya lagi."

Sabtu, 11 Juli 2015

Mempercayai


Aku sedikit mengalami masalah dalam mempercayai orang lain.

Mungkin bukan sedikit. Mungkin lebih banyak dari yang aku sadari.

Kadangkala aku terlalu mudah untuk mempercayai orang lain, terutama saat aku menceritakan kisah-kisah yang kualami. Kadangkala pula aku terlalu tidak percaya pada orang lain walaupun sudah mengenal mereka sejak lama. Antara sangat percaya sekali atau tidak percaya sama sekali.

Seringkali kepercayaanku atas seseorang (atau lebih) tidak beralasan. Asalkan mereka membuatku sangat nyaman menjadi diriku sendiri, aku tidak akan segan menceritakan hal-hal yang biasa kupendam sendiri dalam hati. Jeleknya, aku akan sangat mudah membuka diri untuk menceritakan hal-hal yang tidak seharusnya kuceritakan pada mereka ketika aku sudah terlalu percaya walaupun baru kenal belum sampai sehari. Hanya karena atas dasar nyaman, aku membeberkan semua isi hati dan kepalaku pada mereka dengan senang hati.

Seringkali pula aku tidak bisa mempercayai orang dengan tanpa alasan. Biasanya hatiku akan berbisik bahwa aku tidak seharusnya percaya pada orang ini dan itu. Seketika itu pula aku menutup diri. Aku tidak berani menceritakan apa yang kupendam ketika aku tidak percaya pada mereka. Walaupun sudah kenal lama sekali, jika aku tidak bisa percaya, aku tidak akan menceritakan hal-hal pribadiku pada mereka. Hatiku yang biasanya membuatku berlaku demikian. Aku jadi terlalu curiga dan tidak nyaman ingin menceritakan banyak hal dan ujung-ujungnya kupendam sendiri walaupun aku butuh bercerita.

Mempercayai orang lain itu memang tidak bisa dipaksakan. Mempercayai orang lain itu ibarat merelakan orang lain membaca buku harian paling rahasia milikmu dan kamu berpikir mereka tidak akan mengatakannya pada siapa-siapa. Mempercayai orang lain juga bisa diibaratkan seperti kamu membiarkan orang lain menembak apel di atas kepalamu dan berpikir ia tidak akan meleset. Kamu rela mereka mengetahui isi hatimu. Kamu rela membagi apa yang kamu rasakan pada mereka. Kamu percaya mereka bisa membantumu menyelesaikan masalah, atau paling tidak menjadi pendengar yang baik. Di saat itu pula lah kamu membuka dirimu yang sebenarnya pada mereka.

Namun, seringkali orang tidak menyadari bahwa kepercayaan adalah barang mewah yang tidak bisa didapatkan banyak orang. Mereka menyepelekan kepercayaan yang diberikan orang lain pada mereka dan cenderung menganggap bahwa kepercayaan adalah hal yang biasa saja. Mereka jadi seenaknya sendiri dengan kepercayaan yang telah diberikan. Dan sebagai orang yang terlalu gampang percaya, aku kadang tidak menyadari apakah orang-orang yang aku beri hak istimewa itu akan menyepelekan kepercayaanku itu atau tidak. Hal itu terkadang membuatku menyesal mengapa aku bisa terlalu percaya pada orang lain.

Mungkin terkadang aku juga seperti itu. Akan tetapi bukan menyepelekan kepercayaan orang lain, melainkan lebih kepada pertanyaan, "Mengapa mereka bisa percaya padaku untuk menjadi tempat mereka mencurahkan isi hati?" Aku tidak merasa bahwa aku adalah orang yang seharusnya diberi hak istimewa tersebut. Akan tetapi, aku tidak akan menolak jika ada satu dua orang yang ingin bercerita tentang kisah tergelap mereka. Bagusnya, aku adalah orang yang mudah melupakan masalah orang lain yang dibeberkan kepadaku. Sekalipun ingat, aku tidak tertarik untuk membaginya dengan orang lain karena menurutku mereka tidak perlu tahu. Jadi, aku seringkali tidak akan membocorkannya pada orang lain. Mungkin suatu hari nanti aku akan membuka tempat praktik untuk menerima curhatan orang. Aku sangat menghargai kepercayaan mereka itu. Namun, aku belum tentu akan melakukan hal yang sama kepada mereka. Hatiku yang akan menimbang apakah aku harus atau tidak harus percaya pada mereka.

Akan tetapi, kepercayaanku pada orang lain bisa diubah sesuai dengan sikap mereka padaku. Jika mereka menunjukkan sikap yang bisa membuatku percaya pada mereka, aku akan percaya walaupun awalnya aku menutup diri dari mereka. Tetapi jika mereka menunjukkan sikap yang tidak sesuai hati kecilku, bisa jadi kepercayaanku pada mereka kucabut begitu saja tanpa mereka mengetahuinya. Namun, biasanya orang-orang yang kupercaya atau tidak kupercaya akan merasakan langsung perubahan sikapku ketika aku sudah menaruh atau mengambil hak istimewa mereka tersebut, entah itu semakin cerewet atau semakin diam.

Aku akui, sepertinya aku memang mengalami masalah dalam mempercayai orang lain.