Selasa, 30 Juni 2015

Bosan

Saat ini, aku sedang bosan. Aku tidak mengerti harus melakukan apa. Berselancar di internet juga tidak terlalu membantuku mengurangi rasa bosan. Aku hanya melihat-lihat lini masa dari setiap media sosialku dan aku semakin bosan. Tidak ada yang menarik. Kemudian, aku teringat belum menulis sesuatu di sini. Akhirnya, aku memutuskan untuk menulis walaupun ide sedang tidak ingin singgah di kepalaku.

Rasa bosan datang karena kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan yang sama setiap harinya, setidaknya untuk kasusku pada minggu-minggu ini. Lebih lagi, banyaknya tugas yang lumayan membuat bingung dan keharusan untuk mencari sumber referensi menambah tingkat kebosananku. Padahal, ide untuk tugas lebih mudah datang ketika aku tidak mengalami kebosanan. Tetapi, cukup sulit untuk menghilangkan kebosanan di saat tidak ada kegiatan lain selain tidur, bermain dengan ponsel, berselancar di internet, dan kemudian tidur kembali.
Ada beberapa hal yang biasanya kulakukan ketika bosan, terutama berkaitan dengan berselancar di internet. Aku biasanya membaca blog-blog orang, terutama yang berkaitan dengan ulasan produk khususnya lipstik atau ulasan tempat makan di Surabaya. Membaca ulasan-ulasan produk atau tempat akan memudahkanku untuk memilih apakah produk atau tempat tersebut layak dicoba dan cukup murah untuk dijangkau karena aku termasuk orang yang cukup pelit.
Selain membaca blog, aku biasa menonton video di Youtube atau hanya sekadar mendengarkan lagu-lagu di sana. Banyak sekali video yang suka kutonton, biasanya berupa parodi video musik terkenal atau video komedi. Aku juga suka menonton video musik terbaru dari penyanyi-penyanyi kesukaanku. Lumayan untuk menghibur kepala yang sudah mendidih akibat tugas.
Aku juga suka melihat-lihat barang-barang daring. Biasanya aku suka melihat-lihat di Instagram. Entah mengapa, melihat barang-barang secara daring memang membahayakan dompet, tetapi menyenangkan sekali. Aku biasa merencanakan barang apa yang akan kubeli, barang apa yang menarik perhatian, barang apa yang aku butuhkan, dan lain sebagainya, setelah sebelumnya membaca ulasan produk pada blog. Lagipula, pilihannya banyak sekali. Mata jadi segar saat melihat-lihat barang-barang yang lucu. Terkadang juga, ada barang yang harganya bisa berbeda beberapa ribu Rupiah dari toko daring yang satu dan yang lain. Hal ini memudahkanku sebagai calon pembeli untuk memilih toko yang paling murah. Pesan moral yang bisa didapat ialah kebosanan ternyata bisa mengakibatkan paceklik pada rekening bank.
Jika sudah tidak tahu lagi apa yang akan kulakukan, biasanya aku membuka media sosialku seperti Twitter atau Ask.Fm untuk melihat-lihat kicauan dan jawaban orang-orang yang kuikuti di sana. Lumayan menghibur, terutama Ask.Fm yang jawaban-jawabannya terkadang bisa jadi sangat lucu. Banyak juga orang-orang di Ask.Fm yang bersedia berbagi ilmu dengan pengikutnya ketika ditanya mengenai suatu hal. Jadi, di Twitter dan Ask.Fm aku hanya sibuk me-retweet atau menyukai kicauan dan jawaban yang lewat di berandaku.

Hal-hal di atas akan kulakukan ketika tidak ada orang yang bisa diajak mengobrol. Jika ada yang bisa diajak mengobrol melalui layanan pesan singkat seperti Line atau Whatsapp, kemungkinan kecil aku akan berselancar di internet. Atau ketika aku benar-benar sudah melakukan semua hal di atas, aku akan pergi tidur. Jadi bisa disimpulkan bahwa hidupku lumayan membosankan karena aku sering tidak tahu apa yang akan kulakukan.

Sepertinya aku harus kembali merevisi proposal skripsiku.

Jumat, 26 Juni 2015

Percaya

Aku sangat tahu pasti ia benar-benar mempercayaiku, percaya bahwa aku benar-benar mencintainya. Aku adalah segalanya, begitu katanya. Betapa manisnya.

Bukan salahku jika dia membosankan. Dia hanya seorang perempuan manis yang mudah diperdaya. Dan aku menyukai tantangan. Aku tidak terlalu suka dengan perempuan-perempuan polos seperti dia.

Ia menyadari bahwa dirinya tidak lagi menyenangkan untukku setelah kami menjadi sepasang kekasih. Tetapi, ia selalu berusaha menyenangkanku, walaupun ia tahu tanggapanku hanya datar saja. Tentu, itu melukai perasaannya. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin ia memenuhi kebutuhanku. Apa pun itu.

Kurasa ia pun tidak peduli.

Ia sering berkata bahwa ia percaya padaku. Ia percaya aku tidak akan menduakannya. Ia percaya aku mencintainya. Aku hanya tersenyum datar menanggapi kata-katanya. Untunglah, ia tidak pernah benar-benar dapat membaca pikiranku.

Ia tidak pernah keberatan ketika aku selalu fokus pada ponselku ketika kami kencan. Ia tidak pernah keberatan ketika aku langsung meninggalkannya ketika ia ingin pelukan hangatku sekali lagi. Ia tidak pernah keberatan ketika aku tidak pernah membelikannya hadiah apa pun untuk hari jadi kami. Ia tidak pernah keberatan.

Ia hanya ingin cintaku, katanya.

Sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi.

Seminggu yang lalu, aku bertengkar hebat dengannya. Ia secara tidak sengaja menemukan pesan singkat mesra dari kekasih gelapku di ponselku saat kutinggalkan sebentar ke kamar kecil. Ia tidak percaya dengan apa yang kulakukan, katanya waktu itu sambil menangis. Aku hanya tepekur menatapnya. Ia menangis sangat keras. Ia mengusirku pulang. Dan aku pun, tanpa melakukan apa pun untuk menenangkannya, pulang.

Tidak ada kontak darinya sampai hari ini.

Ia mengirimkan pesan singkat yang mengatakan ia ingin aku menemuinya di rumahnya. Mungkin dia sudah kembali percaya padaku. Setidaknya, kepercayaannya padaku masih ada. Aku bisa meminta maaf padanya seperti biasa.

Aku berjalan menuju rumahnya, seperti biasa. Tidak ada orang, katanya, seperti biasa. Sampai di rumahnya, ia sudah menyambutku di depan rumah, tidak cukup biasa kali ini. Tetapi, apalah artinya. Ia pasti sudah memaafkanku.

Ia pun mempersilakan aku masuk ke rumah, dan seperti biasa, kulayangkan ciuman yang ia percaya sangat mesra itu ke bibirnya. Ia menikmatinya. Ciuman yang cukup lama dan hangat.

Bahkan hangatnya terasa sampai perutku.

Eh, apa ini? Perutku terasa perih. Seketika kuhentikan ciumanku dan kulihat ke arah perutku.

Darah. Belati. Apa ini?

Ia menusukku tepat di perut sebegitu dalam?

Kontan kupegang perutku yang berdarah. Kulihat ia dengan tatapan tak percaya. Ia menangis.

"Maaf, aku terlalu percaya padamu dan menyakiti diriku sendiri. Maaf, aku terlalu mencintaimu. Maaf aku harus melakukan ini," ucapnya seraya mencabut belati itu dan menusukkannya lagi ke perutku beberapa kali. Aku mengerang kesakitan, tetapi tak bisa melawan. Kesadaranku pun mulai menipis.

Bahkan sampai titik ini, aku benar-benar tidak percaya ia bisa melakukan itu padaku.

Senin, 15 Juni 2015

Kamu

Aku menggigil. Entah karena suhu ruangan yang terlalu rendah, atau karena tangisku yang tidak bisa berhenti sejak satu jam yang lalu. Aku lelah menangis. Aku lelah memikirkan hal yang tidak harus kupikirkan saat ini.

Kamu.

Kamu selalu tahu bahwa aku terlalu memikirkanmu. Kau adalah pria yang baik. Aku yang bodoh. Aku yang terlalu keras kepala. Kau sudah terlalu sabar menghadapiku. Tetapi, apa yang kuberikan? Hanya rasa sakit hati yang kini bercokol di hatimu.

Aku kembali terisak mengingat hal itu.

Aku melirik ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempatku berbaring. Tidak ada pesan darimu. Sama sekali. Air mata kembali mengalir.

Tidakkah kamu mengingatku? Tidakkah kamu tahu bahwa aku sedang sekarat dilanda rindu? Tapi, aku bisa berbuat apa? Aku terlalu takut untuk meraihmu kembali. Terlalu takut untuk menyakiti hatimu lagi.

Tetapi, aku rindu.

Setengah tersadar, aku kembali teringat semua kenangan indah yang pernah menghiasi hari-hariku denganmu. Kau yang begitu baik dan ramah, terlebih kepada semua orang di sekitarmu, membuatku cemburu. Ditambah lagi, banyak wanita yang suka padamu. Akan tetapi, engkau memilihku.

Aku, yang tidak ada apa-apanya ini.

Aku bangga bisa menjadi pilihanmu. Bangga bisa kaupercaya dengan sepenuh kalbu. Bangga bisa jadi tempat ceritamu. Bangga bisa menjadi seorang wanita yang selalu kaubanggakan.

Hingga hari itu tiba. Hari di mana semua itu hancur berkeping-keping.

Aku akan menyalahkan rasa cemburuku kali ini.

Kau menemui wanita itu. Seorang yang sudah sangat lama kukenal. Dan aku tahu pasti ia menyukaimu, yang aku tahu tidak sebesar rasaku padamu. Kau tidak mengatakan tentang pertemuan itu padaku. Dan ketika aku tahu, hatiku sesak. Aku menanyakan pada diriku sendiri, apakah aku sudah tidak begitu menarik perhatianmu? Aku sedih. Sedih akan kenyataan bahwa kau tidak mengatakan yang sebenarnya saat itu. Walaupun pada akhirnya kau menceritakan yang sebenarnya, aku sudah terlalu terbakar rasa cemburu. Kau mengatakan kau tidak melakukan apa-apa. Itu hanya urusan kerja. Aku tidak peduli. Dan aku mengambil keputusan yang pada akhirnya membuatku menyesal.

Aku memintamu memilih dia atau aku.

Aku bodoh, memang. Kau segera mengepak barang-barangmu dan keluar dari rumah. Kau sudah terlalu lelah pada tuduhan-tuduhan tak beralasanku. Aku juga sudah terlalu lelah pada rasa cemburuku.

Kau pergi tanpa tatapan di mataku, tanpa kecupan di bibirku, tanpa salam pada hatiku. Dan aku hanya menatap punggungmu yang berlalu meninggalkan pintu rumahku.

Tidak ada kata perpisahan.

Beberapa hari kemudian, teman dekatmu bertanya padaku tentangmu dan kepindahanmu. Aku menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dan ia pun membalas ceritaku dengan cerita tentang pertemuanmu dengan wanita itu.

Cerita yang sangat membuatku menyesal telah memintamu memilih.

Aku pulang ke rumah dengan gontai. Tangis berderai dari pintu taksi sampai di pintu kamar. Aku limbung, tidak kuat. Aku menyesal. Dan kini, aku kehilanganmu.

Aku kehilangan hidupku sendiri.

Aku harus menebus kesalahanku dengan apa? Kecewa dan lelahmu tak akan terbalas, sepertinya. Gengsi pun tak akan menyelesaikan semuanya. Aku pun meraih ponselku.

Maafkan aku. Hatiku menginginkan apa yang ia inginkan, itu kamu. Kumohon, kembalilah. Aku sungguh menyesal dengan apa yang telah kukatakan. Kumohon, kembalilah...

Kemudian kukirimkan pesan singkat itu. Aku kembali menangis. Menangisi kebodohanku, tentu saja. Tetapi, aku tidak membutuhkan balasanmu. Aku hanya ingin mengatakan apa yang ingin kukatakan.

Hatiku menginginkan apa yang ia inginkan.

Kamu. 

Minggu, 07 Juni 2015

Mengobrol

Siapa, sih, yang tidak suka mengobrol? Menghabiskan waktu dengan mengobrol itu memang mengasyikkan. Akan tetapi, terkadang banyak orang tidak mengetahui etika mengobrol yang benar. Entah itu mengobrol di dunia nyata mau pun di dunia maya.

Mungkin bagi sebagian orang, mengobrol, apa lagi yang hanya sepintas lalu, tidak perlu dilakukan dengan benar dan serius. Banyak orang yang ketika diajak mengobrol, entah dengan topik berbobot atau pun topik ringan, malah asyik dengan telepon genggamnya. Mereka tidak menyadari bahwa hal ini bisa saja membuat orang yang mengajak mereka mengobrol menjadi tidak nyaman. Bahkan, lebih dari itu, orang yang mengajak mereka mengobrol bisa merasa tidak dihargai. Mereka mengajak mengobrol bukan untuk diacuhkan, bukan? Alih-alih menatap mata, mereka malah melihat layar telepon genggam sambil asyik sendiri. Apalagi jika dilakukan dalam kelompok. Masing-masing orang memegang telepon genggam masing-masing. Tidak ada obrolan yang berarti. Lalu, apa inti dari berkumpul jika tidak digunakan untuk mengobrol, tetapi malah bermain dengan telepon genggam masing-masing?

Hal yang berbeda terjadi di dunia maya. Terkadang ketika kita mengajak orang lain mengobrol melalui pesan singkat, mereka membalas lama sekali. Entah apa yang dilakukan sehingga tidak bisa membalas pesan kita dengan cepat. Terutama ketika kita membutuhkan informasi sesegera mungkin. Anehnya, ketika kita bertemu mereka di dunia nyata, mereka selalu memegang telepon genggam mereka. Entah apa yang mereka lakukan dengan telepon genggam mereka tersebut. Mungkin kita memaklumi jika terjadi satu atau dua kali. Paling tidak, kita berpikir bahwa mereka sibuk, atau mereka sedang meladeni orang lain. Akan tetapi, ketika hal ini terjadi berulang kali, pastinya kita heran juga. Mengapa harus setiap saat? Sama seperti apa yang terjadi di dunia nyata, hal ini dapat membuat kita merasa tidak dihargai. Mungkin kita tidak harus berkali-kali mengirimkan pesan kepada mereka karena khawatir akan mengganggu mereka. Akan tetapi, kesal juga, kan, jika obrolan singkat kita dibalas dalam waktu yang sangat lama tanpa ada penjelasan seperti, "Maaf, aku sedang sibuk. Maaf, ya, jika aku agak lama membalas pesanmu."? Kita pasti akan lebih mengerti jika ada alasannya.

Mengobrol mungkin memang pekerjaan yang sepele dan hanya dilakukan untuk mengisi waktu luang. Akan tetapi, mengobrol harus dilakukan dengan etika juga agar orang yang mengajak bicara tidak merasa tidak enak ketika tidak diperlakukan dengan semestinya.

Jumat, 05 Juni 2015

Diam




Aku adalah orang yang sulit menyatakan apa yang aku rasa ketika aku benar-benar emosi. Aku lebih memilih diam daripada mengatakan hal-hal yang tidak ingin kukatakan. Aku juga menghindari salah kata dan salah paham. Aku hanya tidak ingin orang yang membuatku emosi menjadi tidak mengerti atas apa yang aku rasakan. 

Dan sejujurnya, diam juga hanya menambah ketidaktahuan mereka. 

Aku seringkali berharap bahwa mereka bisa mengerti begitu saja isi hatiku tanpa aku harus mengatakan pada mereka. Aku seringkali berharap mereka bisa membaca isi otakku dan kemudian merenunginya dengan tanpa memaksaku untuk menceritakan apa yang aku pikirkan. 

Yang pada akhirnya aku tahu, harapan seperti itu adalah harapan palsu nan konyol. 

Walaupun aku sudah tahu, aku tetap berharap seperti itu. Itu membuatku kesal. Mengapa logikaku tidak benar-benar bisa berjalan dengan baik seiring dengan lidahku yang tidak benar-benar bisa melafalkan maksud dengan benar? Mengapa aku tidak bisa menjadi lebih waras? Mengapa aku tidak bisa memperbaiki diriku sendiri? Bahkan, mengapa aku mempertanyakan hal yang aku seharusnya tahu jawabannya? 

Dan aku masih tetap terdiam, menunggu dan menahan diri agar emosiku mereda dengan sendirinya.