Kamis, 30 April 2015

Harapan

Lelah.

Aku sudah terlalu lelah. Semua seakan tidak mengerti bagaimana lelahnya aku yang mencoba memenuhi semua permintaan mereka.

Sadarkah mereka aku juga manusia?

Aku terduduk di bawah pohon besar di belakang rumah mewah orangtuaku. Aku memandangi rerimbunan daun di pohon ini, menerawang. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

Semua orang seakan memandangku sebagai sosok yang selalu bisa memenuhi harapan mereka. Aku tidak habis pikir. Aku sama manusianya seperti mereka, bukan Tuhan yang bisa mengabulkan segala doa.

Aku benar-benar lelah, Tuhan.

Papa memaksaku untuk mengambil alih perusahaan yang ia miliki, yang bahkan ia tahu itu bukan hal yang kuimpikan. Mama memaksaku untuk menikahi seorang dokter wanita kaya di daerah tempatku tinggal, yang bahkan ia tahu dokter itu bukanlah orang yang aku cintai. Orang-orang di sekitarku berharap bahwa aku bisa memenuhi semua hal yang mereka mau.

Bahkan seingatku, sedari kecil aku sudah dirongrong dengan mimpi-mimpi mereka.

Aku seperti tidak bisa mengendalikan hidupku sendiri. Untuk apa menjalani hidup yang tidak bisa dikendalikan sendiri?

Aku kembali menekuri setiap helai daun yang melindungiku dari teriknya siang ini. Berpikir seandainya aku bisa hidup dengan harapan-harapanku sendiri tanpa terusik dengan harapan orang-orang di sekitarku.

"Yogi! Kamu di mana, nak? Sini, tolong bantu Mama!" teriak Mama dari dalam rumah. Aku masuk dengan malas.

"Ada apa, Ma?" tanyaku. Mama menyerahkan sebuah bungkusan yang terlihat mewah padaku sembari tersenyum lebar.

"Tolong antarkan ini ke rumah Dara ya, Yog. Sekalian kamu bisa kenalan lebih dalam sama dia. Ah, coba Mama punya mantu seperti dia..."

"Mama antar sendiri saja, Yogi tidak mau ke sana." potongku. Senyum lebar Mama seketika berganti menjadi pelototan yang sudah membayangiku sejak aku kecil.

"Kamu kok melawan, sih?! Dara itu baik, lho! Coba kamu kenalan dulu lah sama dia. Toh, dia itu dokter terbaik daerah ini!" Mama mengeluarkan sentakannya yang, seperti biasanya, tidak terlalu menggangguku.

"Apa, sih, Ma. Mau dia dokter, kek, mau dia artis, kek, kalo Yogi tidak suka, ya tidak suka!" balasku dengan sengit. Mama semakin melotot.

"Kamu ini kok melawan! Dari kecil Mama asuh kamu itu tidak untuk jadi pembangkang! Kamu ini harusnya menuruti kata-kata Mama!"

"Lho, Mama tidak ikhlas merawat Yogi? Yogi juga tidak minta, kok. Lagipula, buat apa menuruti kata-kata Mama yang tidak sejalan dengan keinginan Yogi? Yogi capek memenuhi harapan Mama dan Papa, seperti dari kecil Yogi tidak punya harapan sendiri saja," bantahku. Mama terdiam sambil tetap melotot. Mungkin kehabisan kata-kata. Aku menghela napas dalam kemudian berlalu naik menuju kamarku.

Seharusnya aku tidak sekasar itu pada Mama, pikirku. Namun, aku tidak bisa tidak membantah omongan beliau. Aku sudah terlampau capek. Sekolah di tempat yang tidak pernah aku pilih, kuliah di kampus yang tidak pernah aku inginkan, dan sekarang mau memaksaku untuk menikahi orang yang aku tidak suka? Persetan macam apa sampai hidupku harus diatur sedemikian rupa oleh harapan orangtuaku?

Aku terduduk di tempat tidurku. Aku ingin terbebas dari semua harapan yang mereka ingin aku penuhi. Aku berjalan ke balkon kamarku. Memandangi pohon besar di belakang rumah mewah orangtuaku. Memandangi burung-burung yang terbang di angkasa. Menerawang.

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Aku menoleh. Mama.

"Yogi, Mama minta maaf." suaranya begitu pelan. Aku bisa mendengar suaranya tercekat di kerongkongan.

"Tapi, Mama harap kamu mau mencoba untuk setidaknya dekat dengan Dara. Siapa tahu kalian bisa menjadi pasangan yang serasi. Mama harap kamu mau menuruti permintaan Mama ini," ujarnya lagi, setengah memohon. Aku membeku di tempatku berdiri.

"Yogi harap, itu harapan terakhir yang Yogi dengar." jawabku dengan pasti.

Kemudian, aku melompat turun dan setelah merasakan benturan keras, aku tidak ingat apa-apa lagi.

Rabu, 22 April 2015

Berharga

Aku tidak seharusnya melakukan ini.

Lakukan saja, bodoh. Sebuah suara di kepalaku bergaung. Tidak akan ada yang peduli.

Tapi aku peduli, brengsek. Sergahku. Aku peduli pada diriku sendiri.

Kau memang pengecut. Taruhan kau tidak akan berani melakukannya.

Bangsat, aku berani-berani saja melakukannya. Tetapi aku masih berpikir bahwa masih ada kesempatan untukku...

Hah, terlalu banyak alasan. Kau memang seorang pengecut. Lanjutkan saja, tak akan ada yang mencarimu. Lihat, Papa dan Mama tidak akan menelponmu berulang kali seperti dulu. Mereka sibuk dengan urusan mereka. Toh, mereka pikir kau bukan anak kecil lagi. Bahkan mereka pun tidak ingat kau pernah hidup.

Sialan! Tapi aku masih punya Kak Rei...

Kakakmu itu sudah tidak peduli denganmu. Ia terlalu sibuk dengan dunianya yang sudah berhasil ia gapai dengan mudah. Sedangkan kau? Kau hanya anak buangan yang tidak dianggap. Menurutmu, untuk apa Papa dan Mama mengirimmu jauh-jauh ke sini? Hanya agar tidak melihatmu! Dan menurutmu, mengapa mereka tidak membiarkan kakak kesayanganmu itu keluar dari rumah? Karena mereka menyayanginya dan tidak dengan dirimu!

Aku mulai melemah. Suara itu benar. Aku tidak benar-benar berharga bagi orang-orang di keluargaku. Tetapi setidaknya aku masih memiliki teman-teman yang baik, pikirku lagi.

Kau yakin mereka menganggapmu teman? Suara sialan itu menyahut lagi. Kau yakin mereka bisa dipercaya? Kau benar-benar yakin mereka selalu ada untukmu? Lihat, bahkan untuk keadaanmu yang sekarang ini pun mereka tidak mengingatmu!

Tidak... Aku...

Bahkan kau sudah tidak yakin kepada dirimu sendiri. Sudah, lanjutkan saja.

Aku menangis. Aku memang selalu lemah ketika sendiri. Suara itu makin menekanku. Aku menatap pisau tajam yang sedari tadi kugenggam tanpa berani menggunakannya untuk apa pun. Dunia memang jahat padaku, pikirku. Aku tidak berharga di mata siapa pun, pun di mata dunia.

Kau sudah tahu itu. Sekarang, lakukan saja.

Seakan terhipnotis dengan suara itu, aku menggerakkan pisau itu ke pergelangan tangan kiriku yang luka goresannya baru saja mengering sejak seminggu yang lalu. Suara yang sama yang membimbingku untuk terus melukai diriku sendiri sejak aku masuk SMA. Luka yang sama di tempat yang sama.

Tunggu.

Ada apa? Sergahku. Sekarang kau yang mulai ragu.

Mengapa tidak mencobanya di tempat lain? Jantung, misalnya? Kau akan lebih cepat terbang ke nirwana daripada terus menekannya ke nadi yang tak kunjung membawamu ke surga.

Usulan yang bagus sekali. Aku tidak pernah terpikir hal seperti itu. Akhirnya, kuarahkan pisau itu tepat di dada kiriku, dan mulai kugerakkan dengan perlahan agar aku bisa menikmati sakitnya.

Persetan dengan semuanya. Aku akan segera pergi ke tempat yang mungkin lebih baik untukku.

Darah pun mulai mengalir, dan aku tidak percaya aku seberani itu.

"Kei! Apa yang kamu lakukan?!"

Aku seketika tersadar. Itu bukan suara di kepalaku.

Seseorang mendobrak pintu kamarku dan segera merebut pisau yang sudah mulai menancap dalam di dada kiriku, kemudian melemparnya ke ujung ruangan. Aku segera melihat orang itu.

"Kak Rei?"

"Kamu bodoh! Apa yang kamu lakukan?!"

"Kak Rei, aku..."

"Mengapa kau melakukan hal sebodoh ini?! Mengapa?!" Kak Rei mencoba menahan luka di dada kiriku, kemudian kulihat ia mengambil telepon genggamnya di saku celananya dengan terburu-buru. Setengah tersadar, aku pun melihat Papa dan Mama masuk ke kamarku dengan tiba-tiba dan kemudian memelukku yang terbaring pasrah.

"Kei! Ya Tuhan! Kei! Apa yang kamu lakukan, nak?" Mama menangis, Papa berusaha menghentikan pendarahanku bersama dengan Kak Rei sembari menunggu ambulan datang.

"Kupikir... Kupikir kalian semua sudah tidak mengingatku lagi... Kupikir... Aku tidak berharga bagi kalian..." Jawabku terbata-bata. Mama makin menangis.

"Ya Tuhan, Kei... Kami mencoba meneleponmu tapi tidak bisa. Apakah kau mematikan telepon genggammu?" Tanya Mama. Aku hanya mengangguk lemah.

"Kamu ini benar-benar bodoh, ya! Kami ini sudah menyiapkan kejutan untukmu! Tepat jam 12 nanti, kan, hari ulang tahunmu!" Kak Rei meneriakiku sehingga aku tersadar.

Kejutan...? Ulang tahunku...? Mereka ingat ulang tahunku...?

Seketika penglihatanku menjadi gelap dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

Senin, 13 April 2015

Sabar


Ketika kita sedang mengungkapkan isi hati kita yang tidak karuan kepada teman atau siapa pun yang kita kehendaki, biasanya jawaban paling standar yang mereka berikan jika mereka tidak punya tanggapan bagus adalah, "Kamu yang sabar, ya." Setelah itu, paling tidak kita akan bersungut-sungut dan menggerutu dalam hati, "Aku cerita begini itu untuk meminta tanggapan atau solusi, bukan malah disuruh sabar." Benar, tidak, seperti itu? 

Malah, ketika kita diberi ucapan untuk bersabar seperti itu, kita menjawab, "Ya aku sudah berusaha sabar, tapi bagaimana lagi." Kemudian orang yang kita ajak bicara mungkin hanya memamerkan senyum bingung seraya berkata, "Ya sudah, yang sabar saja." Ya, solusi untuk bersabar lagi. Dan kita pun menjadi semakin tidak sabar. "Aku butuh solusi yang benar-benar solusi, bukan tanggapan untuk bersabar!" keluh kita lagi dalam hati. 

Perlu kita sadari, sebenarnya tanggapan seperti itu tidak serta merta dilontarkan untuk menyenangkan dan menenangkan hati kita yang sedang kalut. Tanggapan untuk bersabar itu dimaksudkan memang agar kita benar-benar bersabar dalam menghadapi masalah yang sedang menimpa kita. Namun, sering kali kita menganggap bahwa lontaran untuk bersabar itu dimaksudkan untuk menyenangkan kita, atau karena mereka memang tidak punya solusi yang cukup bagus untuk diberikan kepada kita. Tidak. Tidak sesederhana itu. 

Ketika kita menghadapi masalah, apakah kita benar-benar sudah bersabar? Mungkin kita malah lupa untuk bersabar. Dengan adanya peringatan dari orang-orang yang kita ceritakan masalah kita pada mereka, kita seharusnya menyadari bahwa keluh kesah kita sebenarnya adalah kelupaan kita terhadap sabar yang kita miliki. Kita lupa untuk bersabar. Parahnya, kita malah menjawab, "Aku, kan, sudah bersabar. Sabarku ini ada batasnya." Itu malah menunjukkan bahwa kita sebenarnya lupa bahwa kita belum bersabar lebih kuat lagi. Ketika kita benar-benar sudah bersabar, pasti kita tidak akan mengeluhkan masalah kita kepada orang lain. Kita akan menghadapinya dengan tangguh dan menyelesaikannya sendiri. Apalagi dengan adanya alasan "sabar itu ada batasnya" malah membuat kita semakin terlihat lemah. Sabar itu tidak berbatas. Pembatas dari sabar kita adalah nafsu yang menguasai kita. Ketika kita bernafsu agar masalah kita selesai tetapi tidak ada usaha lebih dari kita untuk menyelesaikannya, ujung-ujungnya pasti kita tidak akan sabar menghadapi masalah itu. Akhirnya, kita malah beralasan bahwa stok sabar kita ada batasnya, sehingga kita merasa tidak perlu lagi bersabar atas masalah kita tersebut. Padahal, sabar itu tidak berbatas dan yang membatasi adalah diri kita sendiri. 

Maka dari itu, mulai sekarang jangan kecewa lagi jika kita diberi wejangan untuk bersabar oleh orang-orang yang kita ceritakan masalah kita pada mereka. Malah, harusnya kita berterima kasih sudah diingatkan kembali untuk bersabar. Dari situ, kita bisa membangun lagi usaha untuk menyelesaikan masalah kita lebih kuat lagi, dan tentu saja, sembari bersabar. 

Jadi, sudah tidak akan marah lagi jika diberi ucapan, "Sabar, ya?"

Selasa, 07 April 2015

Menyalahkan

Kita tidak sadar bahwa sedari kecil, kita telah secara tidak langsung diajarkan untuk memiliki mental menyalahkan. Seperti misalnya, ketika kita terjatuh akibat berlarian tak tentu arah, ibu kita akan cenderung berkata, "Kamu, sih, tidak hati-hati! Makanya, jangan berlarian seperti itu!" dengan nada keras daripada berkata, "Ya sudah, ayo kita bersihkan lukanya. Lain kali jika berlarian hati-hati, ya, Sayang. Kalau bisa, sih, jangan berlarian. Sakit, 'kan, jika terjatuh?" dengan nada lembut. Dari sini, kita sudah diajari untuk merasa bersalah dengan apa yang kita lakukan dan menyalahkan apa yang kita lakukan. 

Sampai kita dewasa, kita pun secara tidak sadar membawa mental menyalahkan ini pada kehidupan sehari-hari kita. Kita sering menyalahkan hal-hal yang menurut kita merugikan kita, sehingga kita lebih sering berpikir buruk daripada berpikir baik akan segala sesuatu. Semisal, kita menjemur pakaian dan ia tidak kering karena hujan, kita seringkali akan berkata, "Duh, gara-gara hujan ini bajuku tidak kering-kering!" Padahal, jika kita mau sedikit mengenyahkan mental menyalahkan kita itu, kita akan menyadari bahwa kita tidak perlu menyirami tanaman-tanaman kita yang biasa kita malas untuk menyiramnya. Juga, kita akan menyadari bahwa polusi udara berkurang karena hujan menyapu polusi tersebut. Lebih enak mana, menyalahkan hujan atau menerima hujan dengan senang hati? 

Kita juga seringkali lebih mengedepankan mental menyalahkan kita untuk menutupi kesalahan kita. Seperti misalnya, pengendara motor yang berkendara melawan arus dan kemudian tertabrak oleh mobil. Si pengendara motor ini akan kemudian memaki-maki orang yang menabrak ia ini dan berkata bahwa jangan seenaknya sendiri jika mengendarai mobil. Padahal, jelas-jelas si pengendara motor yang salah. Tetapi apa daya, mental menyalahkan sudah tertanam dalam diri si pengendara motor, sehingga ia cenderung menyalahkan si pengendara mobil daripada berkaca pada kesalahannya sendiri, yaitu berkendara melawan arus. 

Ketika kita bermental menyalahkan, kita akan cenderung berpikir negatif. Ujung-ujungnya, kita tidak akan pernah bisa bersyukur dengan apa yang kita dapatkan. Misalkan, kita diberi orangtua kita motor dan kita mengendarainya termasuk saat musim hujan. Jika kita bermental menyalahkan, kita akan cenderung berkata, "Ayah ini bagaimana, seharusnya aku diberi mobil daripada motor supaya aku tidak kehujanan! Ayah tidak sayang aku!" Padahal, jika kita mau sedikit bersyukur, kita tidak perlu lagi menyetop angkutan umum untuk sekadar pergi ke suatu tempat. Juga, masih banyak anak-anak yang harus merengek meminta dibelikan motor dan orangtuanya ternyata tidak terlalu berkecukupan. Mengapa masih mengeluh dan menyalahkan orangtua yang sudah memberi motor dengan suka rela?

Memang, susah sekali menghilangkan mental menyalahkan ketika kita dari kecil sudah secara tidak langsung dicekoki dengan hal yang semacam itu. Namun, ketika kita sudah dewasa dan bisa berpikir sendiri tanpa harus mengikuti dogma orangtua, kita seharusnya menyadari dan berusaha mengubah itu. Cara paling mudah untuk mengubah mental menyalahkan adalah dengan berkaca pada diri sendiri. Ketika kita memprotes kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak, apakah kita masih menggunakan Premium yang jelas-jelas disubsidi untuk orang-orang tidak mampu sedangkan kita sendiri bisa membeli barang-barang impor dengan harga tinggi? Ketika kita menyesali dosen kita yang memberi kita nilai yang menurut kita tidak memuaskan, apakah kita sudah berusaha dengan baik untuk mendapatkan nilai itu? Ketika kita menyalahkan teman kita yang tidak berbuat baik kepada kita, apakah kita sebenarnya sudah berbuat baik kepada semua teman kita? Dengan menyadari kesalahan kita sendiri, sebenarnya kita bisa mengurangi bahkan menghilangkan mental menyalahkan kita. Semua dimulai dari diri kita sendiri. 

Jadi, masih mau bermental menyalahkan?