Kamis, 19 Februari 2015

Cinta

"Aku mencintaimu."

Aku terdiam.

"Tolong, maafkan aku. Aku khilaf saat..."

"Khilaf?! Terus menerus berhubungan dengan wanita itu walaupun sudah kuingatkan berkali-kali itu yang kau sebut dengan khilaf? Hah! Yang benar saja! Kau tidak sadar atas cinta yang sudah kuberi dengan tulus ini? Lalu mengapa kau teruskan berhubungan dengan wanita jalang itu? Mengapa?!"

Ia terdiam, kemudian mulai terisak.

"Aku mohon... Berilah aku kesempatan..."

"Kesempatan apa lagi? Sudah cukup kuberi engkau banyak kesempatan yang sudah kau sia-siakan itu! Kau tidak ingat? Kau tidak merasa cukup dengan itu? Hei! Lihat mataku! Lihat! Tidak cukup kah semua kesempatan itu? Kau benar-benar seorang bajingan!"

Aku menahan deru napasku sendiri, berusaha menenangkan diri. Ia masih terus terisak.

"Aku mohon, maafkanlah aku... Aku... Aku benar-benar tidak berbohong saat aku bilang aku cinta..."

"Tetapi perilakumu tidak sesuai dengan apa yang kau ucapkan! Kau pikir aku perempuan bodoh? Hah? Iya? Kau pikir begitu?!"

"Tidak, tetapi..."

"Sudah, tidak ada tapi-tapian lagi!"

"Kumohon, Lisa... Maafkan aku... Aku sadar aku telah bersalah dengan menyelingkuhimu... Maaf..."

Isakannya makin kencang. Aku tidak peduli. Hatiku sudah terlalu lelah dan sakit. Kesabaranku sudah benar-benar dihabiskan oleh lelaki yang pernah aku cintai bertahun-tahun ini, yang berkata bahwa ia tidak akan mengkhianatiku.

Kupandangi ia yang duduk tak jauh di depanku lekat-lekat. Ia masih terisak, tidak bergerak dari tempat duduknya. Air mata membasahi pipinya. Aku hanya termangu.

Aku bangkit dari tempat dudukku dan mulai menghampirinya. Dengan lembut kusentuh dada bidangnya yang tak tertutup oleh pakaian dengan jemari tangan kananku.

Sungguh, aku rindu tertidur di atas dada itu.

"Jadi, Sayang... Kau benar-benar menyesal?"

Ia mengangguk pelan. Pasrah, tanpa daya.

"Tapi aku tidak."

Kutempelkan belati tajam yang sudah kusiapkan di tangan kiriku ke dada kirinya, tepat di jantungnya. Ia terkesiap. Ia meronta, tetapi tali yang membelit tubuhnya terlalu kuat.

"Lisa... Kumohon..."

"Maaf, setidaknya ia tidak akan bisa memilikimu jika aku tidak bisa. Impas, bukan?"

Kutekan belati itu. Ia berteriak.

Namun aku tidak peduli. Aku terlalu cinta padanya. Dan itu membuatku kesakitan. Setidaknya aku ingin ia merasakan sakit yang sama. Sakit yang sudah lama mendera dadaku.

"Aku mencintaimu, Sayang. Aku akan melakukannya perlahan untukmu."

Kutekan belati itu lebih keras lagi. Darah keluar dari dadanya. Ia berteriak lebih keras, dan aku tertawa.

Sungguh, apakah benar tawa itu datang dari diriku yang terlalu mencintainya? Mengapa aku tidak malah seharusnya menangis?

Aku baru ingat. Air mataku sudah kering untuknya.

"Setidaknya, biarkan aku memiliki jantung yang pernah berdegup kencang untukku itu."

"Lisa! Lisa! Kumohon! Jangaaan!"

Semakin kencang ia berteriak, semakin keras aku tertawa, semakin dalam pula belati itu menembus dada bidangnya. Untuk jantung itu, untuk cinta itu.

Rabu, 18 Februari 2015

Pulang


Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Kepalaku pusing seperti habis terbentur sesuatu. Sakit. Aku tidak dapat mengingat apapun. Sudah berapa lamakah aku tertidur? Satu jam kah? Dua hari kah? Dan di mana aku? Sudah jam berapa sekarang? Aku mendongakkan kepalaku. Ah, sudah malam rupanya. Bintang-bintang berpendar indah di atas kepalaku seperti lampu-lampu kecil untuk mendekorasi kamar adik-adik kembarku. Aku harus segera pulang agar Papa tidak memarahiku.

Papa? Pulang?

Tidak akan pernah. 

Aku baru ingat sekarang. Papa sudah mengusirku dengan sedemikian murkanya setelah pertengkaran hebat kami. Seperti baru saja terjadi, dan suara pekikan kemarahan Papa masih dapat aku dengan sekarang.

Papa tidak menyetujui hubunganku dengan Alisa. Papa juga tidak menyukai karir bermusikku dan menganggap musik adalah sampah yang tidak akan membawa keuntungan bagi siapa pun. Papa adalah seorang yang otoriter, menganggap semua perkataannya adalah benar. Dan sebagai seorang anak laki-laki pertama dalam keluarga, aku harus menuruti caranya. Cara yang ia anggap benar.

Aku muak dengan Papa.

Mama pun seakan tidak membantu. Beliau malah memperkeruh keadaan. Selalu berteriak tanpa kenal lelah dan menyuruh-nyuruhku tanpa jeda, seperti pembantu. Hei, tidak ingatkah kau bahwa aku ini anakmu? Jika tidak dituruti, maka beliau akan mengungkit segala kebaikan yang telah beliau curahkan padaku, seakan-akan jasa beliau amat sangat besar. Ya ya, aku tahu kau yang melahirkanku dan membesarkanku, Ma. Tetapi, dengan cara seperti itu malah semakin membuatku tidak menghormati dan menghargai jasa-jasamu.

Aku muak dengan Mama.

Kaila dan Kila, adik kembarku, juga amat sangat menyebalkan. Mereka senang mengganggu ketenanganku. Cerewet juga. Adik-adik yang tidak berguna.

Aku muak dengan Kaila dan Kila.

Aku muak dengan keluargaku, atau apa yang mereka sebut dengan keluarga itu. Persetan dengan mereka.

Ah, kemudian aku ingat lagi. Setelah aku diusir dari rumah, aku berlari tanpa arah. Aku benar-benar kalut. Aku berpikir akan ke rumah sahabat-sahabatku.

Sahabat-sahabatku? Para pengkhianat tukang memanfaatkan orang itu?

Tidak akan pernah.

Hanya karena aku anak seorang pengusaha kaya raya, mereka mau menghampiriku. Saat aku sedang banyak uang, mereka mengajakku makan-makan di tempat makan terenak di kota. Tentu saja, aku yang membayar. Mereka pun senantiasa mengajakku pergi ke luar kota dengan mobil pribadiku, tanpa membayar uang bensin tentunya. Apapun, sampai ketika aku ingin bercerita tentang bagaimana hancurnya hidupku, dan mereka tidak peduli.

Aku muak dengan sahabat-sahabatku, atau apa yang mereka sebut dengan ikatan persahabatan itu. Persetan dengan mereka.

Sepertinya hanya Alisa yang dapat kuandalkan. Gadis manis penurut itu, harusnya aku bisa menceritakan segala penat hatiku padanya. Akan tetapi, setelah mendapati pesan singkat mesra yang ia kirimkan kepada lelaki lain di telepon genggamnya beberapa hari yang lalu, hatiku hancur. Mengapa ia sangat tega sekali berbuat itu padaku? Padahal aku sangat setia padanya, dan aku tidak pernah lupa tanggal-tanggal penting yang kami tetapkan. Aku sering memberinya hadiah-hadiah mahal yang ia minta tanpa harus meminta ia memberikanku sesuatu juga. Aku hanya butuh kesetiaannya, dan kepercayaanku dirusaknya begitu saja. Dasar jalang.

Aku muak dengan Alisa, atau apa yang ia sebut dengan cinta mati itu. Persetan dengannya.

Kelebatan bayangan mereka melewati kepalaku. Aku semakin pusing. Berapa botol minuman yang kutenggak tadi? Seingatku aku hanya meminum dua botol setelah bertengkar dengan Papa. Atau tiga? Atau lima? Lalu, setelah itu apa?

Kepalaku benar-benar sakit sekarang. Aku tidak mau mengingat apapun lagi. Sekarang aku hanya ingin menikmati kesendirianku tanpa orang-orang yang menyakiti hatiku ada di sekitarku. Seandainya saja aku bawa gitarku tadi, aku terlalu terburu-buru keluar rumah akibat kemarahan yang amat sangat.

Aku kemudian melihat sekelilingku. Hei, aku berada di atap sebuah gedung. Bagaimana aku bisa berada di sini? Aku tidak ingat telah berlari ke atap gedung ini setelah kejadian itu. Ya sudahlah. Seharusnya aku menikmati malam ini. Namun, aneh sekali. Harusnya malam ini sangat dingin. Akan tetapi aku tidak dapat merasakan hembusan angin menyentuh kulitku yang hanya memakai kaus tipis bergambar band kesukaanku tanpa mengenakan jaket untuk melindungiku. Aku pun mulai bangkit dan berjalan ke sekelilingku dan melihat riuh rendah kota dari atas sini. Hei, ada ramai-ramai apa di bawah itu? Seperti ada sekerumunan orang mengitari sesuatu, dan ada mobil-mobil bersirine juga di sekitar situ. Apakah ada kecelakaan?

Tiba-tiba kepalaku berdenyut hebat. 

Lalu, seketika aku teringat.

Sesuatu yang tengah dikerumuni itu aku. Aku yang tubuhnya telah hancur tertabrak truk berkecepatan tinggi karena aku terlalu mabuk hingga tak sadar telah berdiri di tengah jalan dan tak sempat menghindar.

Setidaknya aku tidak perlu pulang lagi ke rumah neraka itu sekarang.

Minggu, 08 Februari 2015

Konsistensi

Bagi para pembaca blog sederhanaku ini, adakah di antara kalian yang menyadari bahwa aku hanya menuliskan lima posting pada setiap bulannya? Apakah setelah aku menanyakan ini, kalian langsung memastikannya pada lajur Arsip dan lantas berkata, "Oh... Iya juga. Mengapa ya...?" Atau apakah aku terlalu sok tahu dan salah menerka bahwa kalian hanya terus membaca posting ini sampai selesai tanpa mengecek lajur Arsip dan berpikir, "Masa bodoh dengan berapa pun jumlah posting yang kamu buat di blogmu, yang penting aku bisa membaca tulisanmu di sini," tanpa harus ambil pusing tentang jumlah tersebut? Baiklah, akan aku coba jelaskan mengapa aku hanya menuliskan lima posting setiap bulannya tanpa harus membuat banyak spekulasi apakah kalian akan benar-benar memikirkan ini atau tidak.

Pada awalnya, aku menutup blog lamaku dan membuat blog ini untuk mempertahankan penggunaan kata baku bahasa Indonesia yang tidak biasa aku gunakan dalam percakapan sehari-hari. Bisa-bisa aku dianggap sebagai seorang yang kaku dan tidak bisa diajak bercanda walaupun mungkin sudah ada anggapan seperti itu hanya karena penggunaan tatanan bahasa Indonesia yang baku kepada teman-teman sebayaku. Juga, aku adalah seorang mahasiswi sastra Inggris, sehingga aku lebih terbiasa menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia. Jadi, aku membutuhkan wadah bagiku untuk membantuku tetap mengingat bagaimana tatanan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta baku. Maka dari itu, aku membuat blog ini, yang jauh dari kata gaul dan singkat menyingkat.

Setelah memutuskan untuk membuka blog ini pada bulan Mei tahun lalu, aku pun segera memutuskan bahwa sebaiknya ada jumlah posting yang ditentukan pada blog ini, sehingga aku bisa menjadikan jumlah tersebut sebagai target yang harus diselesaikan setiap bulannya. Aku pun mencanangkan lima posting setiap bulan agar target menulis di blog ini tidak terlalu memberatkanku, mengingat aku juga masih harus menyelesaikan tugasku sebagai seorang mahasiswi. Lagipula, blog ini 'kan hanya sampingan, mengapa harus mematok angka yang jumlahnya terlalu muluk sehingga membuatku kesulitan nantinya? Jadilah lima posting setiap bulannya kutuliskan untuk pembaca sekalian, juga untukku sendiri sebagai pengingat akan banyak hal. Lima, tidak terlalu banyak, juga tidak terlalu sedikit. Angka yang cukup masuk akal dan bisa dipenuhi kapan saja. Dan kemudian lima posting setiap bulannya itu menjadi konsistensiku untuk terus mengisi blog ini.

Membicarakan masalah konsistensi, apa sebenarnya makna dari konsistensi? Menurut KBBI Daring, konsistensi adalah ketetapan dan kemantapan dalam bertindak, atau ketaatasaan. Maksud dari pengertian tersebut adalah bahwa orang yang melakukan sebuah konsistensi ialah mereka yang terus berusaha untuk melakukan hal yang sama secara berkelanjutan. Kurang lebih, berlaku konsisten bisa dianggap sebagai berkomitmen kepada diri sendiri untuk bersungguh-sungguh menjalankan suatu hal tanpa terhenti atau terhalang suatu apa pun. Konsistensi menjadi sebuah hal yang selalu kita jaga keberadaannya. Konsistensi bisa juga merupakan janji pada diri kita sendiri. Menjalankan sebuah konsistensi memang berat pada awalnya, seperti halnya ketika aku mulai membuat blog ini dan mengisinya dengan tulisan-tulisan amatirku. Namun, jika sudah terbiasa, menjalankan sebuah konsistensi yang kita janjikan kepada diri kita sendiri akan menjadi mudah.

Jadi, sudah mulai ingin menjadi konsisten?

Jumat, 06 Februari 2015

Sahabat

Aku selalu sulit menemukan sahabat yang benar-benar cocok denganku.

Itu disebabkan karena aku sangat pemilih. Aku memilih orang-orang yang benar-benar bisa kupercaya. Orang-orang yang memiliki pemikiran yang unik. Orang-orang yang memiliki kepercayaan diri dan ideologi yang jarang orang-orang mengerti. Orang-orang yang apa adanya dan tidak ditutup-tutupi. Orang-orang yang bangga menjadi dirinya sendiri. Orang-orang yang mandiri. Dan sebagainya.

Terlalu banyak syarat sebenarnya. Itulah mengapa, aku selalu sulit menemukan sahabat yang benar-benar cocok denganku.

Terkadang aku menjadi sangat naif perihal memilih orang yang cocok menjadi sahabatku. Ingin punya sahabat, tetapi tidak mau memulai lebih dahulu. Terlalu banyak mau, tetapi seringkali tidak menjadikan diri sendiri pantas untuk menjadi sahabat bagi orang lain. Terlalu pemilih, tetapi seringkali tidak bisa jujur. Seringkali pula aku menyia-nyiakan kebaikan mereka yang sudah rela mau dekat dan berbagi hari denganku. Namun, aku melakukan hal-hal yang baik kepada mereka sebisa dan sejauh kemampuanku, mendengarkan curhatan mereka dan memberi saran jika dibutuhkan, dan lain sebagainya. Namun, sepertinya masih kurang. Dan aku menyadari itu.

Mungkin itu disebabkan karena aku selalu sulit menemukan sahabat yang benar-benar cocok denganku. 

Sekalipun aku menemukan sahabat yang sudah cocok di suatu masa, entah masa sekolah atau pun masa kanak-kanak, ia bisa dipastikan akan jarang berkomunikasi lagi denganku jika akhirnya kami berpisah. Entah karena sibuk dengan hidup mereka yang baru, karena sudah memiliki teman-teman atau bahkan sahabat-sahabat baru, atau karena sudah mulai lupa denganku. Tidak masalah jika benar seperti itu, karena aku tidak pernah lupa siapa saja yang pernah benar-benar dekat denganku dan menjadi tempatku menuangkan cerita-ceritaku. Aku hanya berpikir, ingatkah mereka tentangku? Ingatkah mereka bahwa aku pernah menjadi sahabat mereka? Bagaimana perasaan mereka jika bertemu lagi denganku, apakah akan sama seperti ketika mereka masih menganggapku sebagai sahabat?

Sampai akhirnya aku agak takut untuk memulai bersahabat lagi, karena aku selalu sulit menemukan sahabat yang benar-benar cocok denganku.

Jika aku diberi satu kali kesempatan untuk bisa bertemu dengan sahabat-sahabatku, aku ingin sekali memeluk mereka satu per satu dan mengatakan bahwa aku merindukan masa-masa itu, masa-masa di mana kita masih menjadi anak-anak bau kencur yang membicarakan hal-hal tidak penting. Mungkin akan ada air mata rindu dan permohonan maaf karena pernah menjadi sahabat yang menyebalkan, jika perlu. Lalu, aku akan menanyakan kabar terbaru mereka, mendengarkan cerita mereka dengan sungguh-sungguh, pokoknya aku akan benar-benar menghabiskan waktu seharian untuk mereka, untuk menghargai ingatan mereka tentangku yang ternyata masih tetap sama seperti dulu; tetap melihatku sebagai sahabat mereka.

Terima kasih atas waktu kalian untuk sempat mengenalku lebih dalam. Dan maaf jika aku tidak sempat menghubungi kalian lagi. Aku sedikit berharap bahwa tulisanku di atas akan menjadi kenyataan, jika saja dihendaki demikian. Semoga kalian baik-baik saja di mana pun kalian berada. Aku rindu kalian.

Kamis, 05 Februari 2015

Kado

Hai, para pembaca. Apa kabar? Apakah awal tahun kalian baik-baik saja? Maaf telah menghilang selama sebulan tanpa mengisi blog sama sekali. Aku baru saja kembali dari liburanku ke tempat opa, dan sayangnya di sana tidak ada koneksi internet untukku menulis posting blog di laptop. Akhirnya, aku pun harus merelakan laptopku untuk tinggal di rumah. Walaupun sebenarnya bisa menulis melalui telepon genggam, tetapi rasanya tidak nyaman. Seperti jika biasanya makan nasi dengan sendok, akan tidak nyaman jika diminta untuk makan nasi dengan sumpit. Aku harus menunggu sampai waktunya aku pulang dan kembali menikmati menulis di blog ini.

Kemarin adalah hari ulang tahunku. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak banyak kado yang kuterima. Jangankan kado, tanggal ulang tahunku saja jarang ada yang mengingat. Biasanya yang ingat ulang tahunku hanya orang-orang terdekat, dan aku juga tidak berharap ada banyak orang yang mengingat hari ulang tahunku. Bukan bermaksud sarkastik, tetapi itulah kebenarannya. Aku juga jarang merayakan hari ulang tahunku, malah hampir bisa dipastikan hanya beberapa kali dirayakan dari umurku masih beberapa tahun sampai sekarang ini. Namun, aku tetap bersyukur bahwa aku masih diberi umur sampai setua ini untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri.

Kembali ke masalah kado. Mengingat aku jarang merayakan hari ulang tahunku, bukan berarti aku tidak pernah mendapatkan kado. Aku beberapa kali diberi hadiah-hadiah lucu oleh orang-orang terdekat. Aku sebenarnya tidak mengharapkan mereka untuk memberiku apa pun. Mengingat hari ulang tahunku dan mengucapkan selamat kepadaku saja sudah membuatku terharu, apalagi untuk repot-repot mencarikan hadiah untukku. Karena itu, aku mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada mereka yang sudah bersedia mengingat hari ulang tahunku dan terutama untuk yang rela mengucapkan selamat tepat pada pergantian hari. Merekalah sebenarnya kado terbaik untukku, yaitu orang-orang yang tidak pernah lelah untuk membagikan cinta dan perhatian mereka untukku. Sekali lagi, terima kasih untuk kalian.

Untuk tahun yang mulai tidak muda lagi, aku berharap bahwa aku akan menjadi lebih dewasa lagi. Semoga aku tidak malas dan suka menunda-nunda lagi, terutama untuk mengerjakan tugas kuliah dan menuliskan sesuatu di blog ini. Dan semoga semua orang yang kukenal dan yang tidak kukenal yang ada di sekitarku maupun jauh dariku diberi kesehatan dan selalu dilindungi oleh Tuhan.

Sekali lagi, terima kasih banyak untuk kalian semua :)