Minggu, 23 November 2014

Proses

Beberapa hari yang lalu, aku menemani Mas memperbaiki Play Station 3 (PS3) miliknya yang rusak. Kami menuju pusat perbaikan konsol game di Surabaya. Ketika sampai, Mas mengatakan pada orang yang ahli dalam membetulkan konsol game di sana apa kerusakan pada PS3 miliknya. Setelah menganalisis kerusakan pada PS3 tersebut dan menyetujui harga perbaikannya, Mas kemudian menanyakan apakah perbaikannya bisa ditunggu, dan ternyata bisa. Kami pun menunggu sambil melihat proses perbaikan PS3 tersebut. Kami menyaksikan bahwa ternyata memperbaiki PS3 tidaklah mudah. Banyak sekali komponen rumit yang ada di dalamnya, dan hampir semua komponen tersebut tidak berukuran besar. Hal tersebut akan sangat menyulitkan jika orang yang mencoba memperbaikinya tidak ahli dan memiliki mata yang sangat jeli. Aku melihat sang ahli meneliti isi komponen PS3 tersebut, lalu mencoba mencocokkan satu komponen dengan komponen yang lain, kemudian memasangkan komponen tersebut pada komponen yang lain, dan sebagainya. Ketika kukira sudah selesai, ternyata masih belum bisa membuat PS3 tersebut bergerak sesuai dengan yang seharusnya. Dan sang ahli itu pun terus mencoba berulang kali, mengganti komponen yang tidak sesuai dengan komponen yang lebih baik, kemudian memasangkannya lagi satu dengan yang lain. Begitu seterusnya sampai pada akhirnya, PS3 milik Mas kembali berfungsi dengan normal. Kami pun sangat puas. Tidak sia-sia kami menunggu cukup lama sembari menyaksikan proses dibetulkannya PS3 milik Mas.

Terkadang kita tidak terlalu suka dengan proses, terutama bagi kita yang terlalu berorientasi pada hasil. Kita hanya peduli dengan apa yang akan kita dapatkan pada akhirnya harus bagus, dan tidak peduli dengan bagaimana cara kita mendapatkan hasil akhir yang bagus tersebut. Kita seringkali berpikir bahwa proses tidak penting, yang penting adalah apa yang akan kita peroleh nantinya. Sebetulnya, berorientasi pada hasil itu sah-sah saja. Semua orang pasti ingin mendapatkan hasil yang baik dengan proses yang tidak lama. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika orientasi pada hasil tersebut tidak disertai dengan proses yang pantas pula. Semisal, kita ingin mendapatkan nilai yang baik pada ujian suatu mata kuliah. Karena kita merasa kita tidak terlalu percaya pada kemampuan kita sendiri, kita meminta jawaban dari teman kita yang kita rasa lebih mampu dalam mata kuliah tersebut. Ketika kita sudah berhasil mendapatkan jawaban tersebut dan berhasil dalam ujian tersebut, tuntaslah sudah apa yang menjadi keinginan kita: nilai yang baik pada ujian mata kuliah tersebut. Namun, apakah proses yang kita lalui juga sepadan dengan apa yang kita dapatkan? Tentu tidak.

Aku selalu kagum dengan orang-orang yang selalu mengutamakan proses dan terkadang tidak terlalu mementingkan hasil akhir yang mereka dapatkan. Mereka sangat tekun dalam mencari jawaban atas persoalan apa pun yang mereka terima. Dengan menikmati proses, seseorang dilatih menjadi sabar dan teliti. Sabar, karena mereka tidak bisa sesegera itu dalam menemukan hasil yang mereka mau. Dan teliti, karena mereka dituntut untuk mencari jawaban dengan benar dan hati-hati jika mereka menginginkan hasil yang baik. Walaupun pada akhirnya mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, tapi setidaknya mereka mendapatkan hal lain: kesabaran, ketelitian, dan pengetahuan akan proses yang salah. Ketika mereka tahu satu proses yang tidak betul, mereka akan mencari proses yang lain sampai mereka mendapatkan hasil yang mereka mau. Seperti halnya Thomas Alfa Edison yang disebut orang-orang banyak mengalami kegagalan dalam menciptakan bola lampu. Itu menurut sudut pandang orang kebanyakan. Namun, Edison malah mengatakan bahwa ia tidak gagal, ia hanya menemukan 10.000 cara yang salah dalam membuat bola lampu. Itu artinya Edison adalah orang yang menikmati proses. Ia menghargai setiap proses yang ia lewati meskipun itu adalah proses yang salah. Ia tidak lantas menyebut dirinya gagal hanya karena 10.000 cara yang tidak berfungsi tersebut. Ia tetap berpikir positif bahwa ia akan berhasil pada akhirnya. Tidak mudah bagi seseorang untuk berpikir positif ketika ia menemukan banyak proses yang tidak menghasilkan apa yang ia inginkan. Bahkan, ahli memperbaiki PS3 pada cerita di atas juga menemui kendala, jika itu apa yang orang penikmat hasil katakan. Ia sempat mengalami beberapa kali kesulitan dalam memperbaiki PS3 tersebut, dan beberapa kali harus membongkar komponen-komponen yang seharusnya sudah tepat untuk diperbaiki kembali. Namun, aku tidak melihat hal tersebut sebagai sebuah kendala. Mungkin memang komponen yang terpasang tidak cocok, sehingga ia harus mengganti dengan komponen yang lain. Meski aku adalah orang yang tidak sabaran dengan proses panjang yang terlihat tidak akan berhasil, akan tetapi aku cukup puas juga melihat pada akhirnya sang ahli ini berhasil menemukan komponen yang tepat. Tanpa menikmati proses, kita tidak akan dapat benar-benar menikmati hasil yang kita dapatkan.

Jadi, sudah mulai belajar menikmati proses?

Minggu, 16 November 2014

Cuek

Semua orang mengatakan bahwa aku terlampau cuek. Bahkan Umi juga berpendapat demikian. Aku terkadang tidak mengerti mengapa orang-orang beranggapan bahwa aku terlalu cuek. Sampai seorang teman mengatakan bahwa ia iri padaku karena aku bisa menjadi sangat cuek, sampai-sampai aku seperti tidak memperhatikan masalah apa pun yang aku hadapi.

Menurutku, aku tidak terlalu cuek sebenarnya. Aku hanya tidak ingin masalah yang menghadangku membuatku terhenti terlalu lama sehingga aku tidak bisa melanjutkan perjalananku yang masih amat panjang. Aku hanya mengesampingkan masalah-masalah tersebut, menyusunnya dari yang paling mudah dan paling sulit, kemudian menyelesaikannya. Jika terlampau sulit sehingga aku akan memakan waktu yang agak lama untuk menyelesaikannya, aku akan berusaha pelan-pelan untuk menyelesaikannya. Jika menurutku masalah tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik, maka aku akan cenderung tidak peduli dan menganggap bahwa masalah tersebut selesai sampai orang yang bersangkutan mau duduk dan membicarakan masalah ini di hadapanku.

Aku tahu, terlalu banyak masalah dalam hidup ini. Terlalu banyak rintangan yang menghadang. Namun, jika kita membiarkan masalah tersebut terus menerus menghalangi kita, apakah kita akan tetap diam di tempat sampai seseorang menolong kita? Tentu tidak. Kita seharusnya maju dan berusaha menghadapi itu, bukannya malah merenungi mengapa kita tidak bisa menghadapi masalah-masalah tersebut. Toh, masalah-masalah tersebut tidak akan selesai jika kita hanya terus merenunginya. Mereka akan bisa selesai jika kita kerjakan dan selesaikan. Kalau tidak bisa? Ya sudah, pakai cara yang lain. Banyak jalan menuju Roma. Tidak bisa dengan cara ini? Gunakan cara yang lain. Tidak perlu sampai disesali jika akhirnya gagal. Toh, kita masih bisa mencoba lagi. Aku adalah seseorang yang tidak terlalu peduli pada hasil. Namun, jika tidak sesuai harapan, aku bisa menjadi sangat kecewa. Akan tetapi, pada akhirnya aku akan berpikir bahwa merenungi hal yang sudah berlalu hanyalah membuang waktu. Dan jadilah aku kembali menjadi orang yang masa bodoh akan itu.

Pada akhirnya, cuek dapat membawa manfaat tersendiri bagi kita. Kita tidak akan terlalu sakit hati dengan masalah yang ada dan menghadang. Kita akan dapat berpikir dengan cara yang paling mudah; biarkan saja, semua pasti selesai. Dan ketika kita menjadi cuek, yang paling kesal mungkin adalah orang-orang di sekitar kita yang menganggap bahwa betapa mudahnya kita menghadapi masalah yang sulit dengan begitu santainya. Namun, manfaat cuek ini hanya berlaku dalam menghadapi masalah saja. Jika untuk kehidupan sosial, janganlah menjadi orang yang cuek. Ketika kita terlalu cuek dengan keadaan di sekitar kita, maka label apatis akan serta merta disematkan pada kita oleh orang-orang sekitar.

Jadi, sudah mulai cuek dalam menghadapi masalah?

Minggu, 09 November 2014

Serapan

Beberapa hari yang lalu, aku membantu adik perempuan Mas mengerjakan tugas sekolah yang diberikan guru kepadanya. Kebetulan tugas tersebut adalah tugas bahasa Indonesia. Tugas yang diberikan tidak banyak, hanya beberapa soal berupa pilihan ganda dan sedikit soal esai. Karena ini adalah tugas bahasa Indonesia, kami harus mengerjakan tugas ini dengan teliti. Kami pun mulai membaca wacana pendek yang ada satu per satu karena setiap beberapa soal yang diberikan selalu berdasarkan pada satu wacana pendek. Ketika aku mulai membaca perintah soal yang diberikan, lalu berlanjut pada wacana pendek pertama, aku mulai mengernyitkan dahi. Ini adalah buku latihan soal bahasa Indonesia untuk siswa sekolah menengah atas (SMA), mengapa terlihat sangat tidak berbahasa Indonesia? Aku melihat banyak sekali kata serapan yang digunakan di buku latihan tersebut, seperti "konjugasi". Aku terheran-heran. Seingatku, dulu ketika aku masih duduk di bangku SMA, tidak ada kata serapan semacam "konjugasi" digunakan dalam buku pelajaran bahasa Indonesia saat itu. Kami masih menggunakan "kata hubung" sebagai kata bahasa Indonesia dari kata serapan "konjugasi" yang berasal dari bahasa Inggris, conjugation.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia daring (dalam jaringan), kata serapan merupakan kata yang diserap dari bahasa lain. Entah itu dari bahasa asing mau pun bahasa daerah. Menurut beberapa sumber, ada beberapa proses penyerapan bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia, yaitu proses adopsi, adaptasi, dan penerjemahan. Proses adopsi adalah penyerapan yang mengambil kata asli dari bahasa asing atau bahasa daerah secara menyeluruh tanpa adanya perubahan, semisal kata "mall". Kemudian, proses adaptasi adalah proses pengambilan makna dari bahasa lain dan ejaannya disesuaikan dengan bahasa Indonesia. Semisal, dalam bahasa Inggris ada kata verification, kemudian kata tersebut diambil ke dalam bahasa Indonesia dan diubah sedikit menyesuaikan dengan ejaan dalam bahasa Indonesia. Sehingga akhirnya kita dapati kata "verifikasi" dalam kamus bahasa Indonesia kita. Lalu, proses penerjemahan adalah proses penyerapan yang merujuk pada konsep suatu kata dalam bahasa asing ataupun bahasa daerah, kemudian dicarilah padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh, kata try out dalam bahasa Inggris dipadankan dengan kata "uji coba" dalam bahasa Indonesia. Proses-proses penyerapan bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia ini membuat kosakata bahasa Indonesia semakin kaya, sehingga terkadang kita tidak terlalu bisa membedakan mana kata asli bahasa Indonesia dan mana kata serapan.

Menurutku, kata serapan tidak seharusnya digunakan, terutama dalam buku pelajaran bahasa Indonesia untuk pelajar, jika tidak dengan sangat terpaksa sekali. Terpaksa dalam artian tidak ada padanan kata yang pas dalam bahasa Indonesia sehingga kata serapan harus digunakan. Ketika seorang siswa dibiasakan menggunakan kata serapan, maka akibatnya akan menjadi tidak baik bagi siswa tersebut ke depannya. Ia tidak akan benar-benar mengenal kata asli bahasa Indonesia yang sebenarnya dan malah akan lebih mengenal kata serapan yang kemungkinan besar lebih banyak diambil dari bahasa asing. Miris sekali membayangkan jika kata asli bahasa Indonesia banyak yang terlupakan sehingga akhirnya hilang dan tergantikan dengan istilah-istilah asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Aku sedih mendengar adik perempuan Mas menyebut kata "regulasi" daripada kata "peraturan". Aku sedih melihat buku bahasa Indonesia untuk siswa SMA lebih memilih kata "konjugasi" daripada "tanda hubung". Aku sedih melihat petinggi-petinggi negara lebih menggunakan kata "edukasi" daripada "pendidikan". Memang mereka memiliki arti dan maksud yang sama, dan mungkin dengan menggunakan kata serapan akan membuat mereka terlihat lebih cerdas dibanding ketika mereka menggunakan kata asli bahasa Indonesia. Namun, lebih memilih kata serapan daripada kata asli bahasa Indonesia tidak akan serta merta melestarikan kata asli bahasa Indonesia itu sendiri. Bayangkan saja jika di masa depan kata "peraturan", "tanda hubung", dan "pendidikan" menghilang dari Kamus Besar Bahasa Indonesia daring dan tergantikan oleh kata "regulasi", "konjugasi", dan "edukasi", siapa yang akan bertanggung jawab atas hilangnya kata-kata tersebut? Apakah kita mau kata-kata asli bahasa Indonesia benar-benar hilang dan tidak digunakan sama sekali oleh anak cucu kita? Apakah kita mau kata-kata tersebut bernasib sama seperti kata "mangkus" dan "sangkil" yang akhirnya lebih dikenal sebagai "efektif" dan "efisien"? Tentu tidak, bukan? Dan aku bersyukur sekali ternyata masih banyak orang yang mau lebih memperhatikan hal ini, seperti beberapa orang di Kaskus yang mengajak Kaskuser lainnya untuk lebih sadar dalam penggunaan kata asli bahasa Indonesia. Semoga dengan adanya orang-orang yang peduli dengan keberadaan kata asli bahasa Indonesia, maka penggunaan kata serapan apalagi istilah asing dalam kehidupan sehari-hari akan berkurang.

Jadi, masih terbiasa menggunakan kata serapan?

Selasa, 04 November 2014

Kepergian

Aku baru saja terbangun ketika mendapati pesan singkat di telepon genggamku. Ternyata itu merupakan pesan singkat dari Mas yang memberitahuku bahwa kucing kesayangan keluarga Mas telah tiada. Padahal, kucing tersebut sudah menemani keluarga Mas sembilan tahun lamanya, sehingga wajar saja jika seluruh keluarga Mas saat ini dirundung kesedihan yang mendalam. Sebagai kucing kesayangan, ia telah dianggap sebagai keluarga oleh Mas. Tak urung aku pun bersedih. Kepergiannya adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh keluarga Mas. Adik perempuan Mas pun sampai menangis tak tertahankan. Aku sempat menemani kucing ini berobat satu minggu yang lalu karena tidak bisa buang air, dan setelah ditangani ia sudah agak sehat, itu kata dokter. Dan ia memang terlihat lebih sehat daripada sebelum dibawa ke dokter. Namun, beberapa hari kemudian ia kembali tidak bisa buang air, bahkan sudah tidak mau makan. Hal yang aku sesalkan adalah penanganannya yang terlambat. Seminggu baru dibawa kembali ke dokter. Akhirnya, sudah terlambat, air seninya sudah bercampur dengan darah, menandakan ginjalnya sudah terserang. Dan ternyata, pagi ini ia sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Kepergian seseorang atau pun seekor hewan peliharaan memang menyedihkan, terutama mereka yang pergi dan kita tahu mereka tidak akan pernah kembali. Memang tidak ada yang tahu pasti kapan seseorang akan pergi dalam waktu lama, dan apakah mereka akan kembali sesuai harapan kita. Namun, ketika kita tahu mereka tidak akan kembali selama-lamanya, sakit yang didera sangatlah perih. Seketika ingatan yang melekat dalam pikiran berhamburan keluar, membuat kita mengingat saat-saat mereka masih ada dan hadir di sisi kita. Tak ayal, kepedihan dalam hati membawa kesedihan yang akhirnya berhasil membobol bendung di mata. Mengenang mereka seperti menghujamkan belati ke dada. Seakan tak percaya, kita masih akan tetap bertanya pada diri sendiri, benarkan mereka telah pergi? Sesuatu yang akan selalu kita tolak kebenarannya. Namun, tidak bisa. Mereka tetap pergi meninggalkan kita.

Akan tetapi, apa guna menangisi mereka yang telah pergi? Memang, sedih pasti ada. Tangis pasti mengalir. Walaupun begitu, kita sudah tahu bahwa mereka tidak akan kembali. Benar-benar tidak akan dan tidak bisa kembali ke kehidupan kita yang sekarang dan masa depan. Di balik kepergian yang ditinggalkan selalu ada sedih, selalu ada lara, selalu ada air mata. Tetapi, selalu ada kekuatan dan ketegaran di balik setiap kepergian. Selalu ada keteguhan dan keyakinan dalam dada. Mereka pergi untuk hidup baru yang lebih baik bagi mereka. Memang sudah waktunya bagi mereka untuk pergi, dan kita tidak bisa menolak kepergian mereka. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah mendoakan agar mereka tetap mendapat yang terbaik di sana, agar mereka tetap terjaga oleh-Nya, agar mereka tidak dirundung kesedihan seperti kita yang mereka tinggalkan. Dan kita yang ditinggalkan harus selalu berusaha tegar atas kepergian mereka. Kita harus yakin bahwa kepergian mereka bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk terus bersedih dan berhenti melanjutkan hidup kita sendiri. Namun, lebih dari itu, kita juga harus terus berbuat yang terbaik. Apa yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Toh, mereka sudah pergi, dan kita tidak bisa membuat mereka kembali lagi. Jadi, tetaplah menatap masa sekarang dan masa depan, terimalah kenyataan bahwa kita akan tetap menjadi orang yang sama walaupun harus mengalami kepahitan atas kepergian mereka, dan hadapilah hidup walaupun tanpa mereka di sisi kita. Dan mereka yang pergi akan tetap hidup selamanya dalam kenangan kita.

Selamat jalan, Boim. Kami akan selalu merindukanmu...

Senin, 03 November 2014

Lampau

Malam ini, aku dan kedua temanku sedang mengobrol asyik melalui layanan pesan Line. Kami membicarakan banyak hal yang, tentu saja, di luar obrolan mengenai tugas seperti biasa. Kami membicarakan apa saja, dari cerita mengenai perasaan, pikiran, hingga kembali ke obrolan tentang tugas. Sampai ketika kami membicarakan masa-masa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas kami yang menurut kami sangatlah alay, aku menjadi tersadar. Masa-masa itu sudah sangat jauh dari masa aku berpijak sekarang. Saat-saat tersebut adalah saat-saat di mana aku masih sangat tidak stabil dan punya banyak ambisi. Masa-masa tersebut adalah masa-masa di mana aku masih menjadi diriku yang sangat pendiam dan apatis, walaupun sampai sekarang ternyata aku masih apatis tetapi sikap diamku sudah lumayan berkurang. Saat-saat tersebut adalah saat-saat di mana aku melakukan banyak sekali kesalahan yang aku ingin sekali memperbaikinya meski aku tahu aku tidak akan pernah bisa lagi kembali ke sana. Apa pun itu, masa-masa itu sudah sukses aku lewati dan aku tinggalkan di waktu lampau hingga akhirnya aku bisa berdiri di masa sekarang tanpa ragu-ragu.

Ketika mengingat masa lampau, kita terkadang teringat tentang apa yang dulu telah kita lakukan terhadap orang-orang yang mungkin tidak pernah lagi kita temui sekarang, teringat tentang bagaimana suksesnya kita dahulu, teringat tentang apa yang kita rasakan terhadap orang-orang tertentu, dan apa saja yang bisa kita ingat, semuanya seakan membawa kita kembali ke masa dulu. Tentang kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, kita seakan ingin kembali untuk memperbaiki itu semua. Tentang orang-orang yang kita sakiti dan tidak sempat dimintai maaf, kita seakan ingin kembali untuk memohon maaf sedalam-dalamnya kepadanya. Tentang orang-orang yang pernah kita temui dan tidak pernah kembali, kita seakan ingin kembali untuk membicarakan hal yang baik kepada mereka walau hanya untuk yang terakhir kali. Mengingat masa lampau memang terkadang membawa banyak penyesalan, penyesalan atas apa yang seharusnya dan tidak seharusnya kita lakukan. Menyesal mengapa tidak lebih banyak melakukan kebaikan kepada orang lain, menyesal mengapa menyakiti perasaan orang lain, menyesal mengapa tidak mengambil kesempatan bagus yang telah terlewat, dan penyesalan lainnya.

Namun, dari apa yang kita dan orang lain lakukan di masa lampau, kita mendapatkan banyak pelajaran berharga jika kita ingin mempelajarinya lagi daripada meratapi dan menyesalinya. Kita dapat belajar bahwa di masa sekarang dan masa depan kita tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Belajar bahwa di masa sekarang dan masa depan kita dapat melakukan apa yang dulu kita lakukan dengan lebih baik lagi. Belajar bahwa di masa sekarang dan masa depan kita harus bisa mengambil kesempatan dan tidak menyia-nyiakannya. Belajar bahwa di masa sekarang dan masa depan kita tidak akan menyakiti siapa-siapa lagi. Belajar bahwa di masa sekarang dan masa depan kita tidak akan mengikuti jejak kesalahan orang lain yang kita tahu. Semua kesalahan dan kebaikan yang pernah dilakukan di masa lampau benar-benar dapat dipelajari. Seperti ucapan Mas suatu waktu, "Hal-hal yang baik harus diambil dan dipertahankan, sedangkan hal-hal yang buruk harus dibuang dan tidak dilakukan lagi di masa depan."

Jadi, sudah siap belajar dari masa lampau?