Jumat, 31 Oktober 2014

Jarak

Saat ini aku sedang menikmati kesendirianku, menikmati sunyi yang menemani tanpa seorang pun hadir di sisiku. Ya, aku memang sedang sendirian di rumah tanpa ada orang lain. Umi sedang pergi dengan Abi untuk sekian waktu lamanya, Adik Besar sedang menuntut ilmu di kota lain, dan Adik Kecil dititipkan Umi kepada tetangga karena tahu bahwa aku cukup sibuk untuk menikmati dunia perkuliahanku sendiri sehingga aku tidak perlu repot-repot mengurus Adik Kecil. Aku tidak merasa takut atas perginya mereka ke tempat mereka masing-masing. Aku hanya merasa sunyi. Aku yang terbiasa mencium tangan Umi sebelum pergi kuliah dan pulang ke rumah menjadi agak janggal dengan ketidakhadiran beliau saat aku kembali dan ketika aku akan pergi. Adik Kecil yang suaranya kuanggap bising dan kemalasannya akan mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan gurunya yang kuanggap mengganggu pun seperti tidak tersisa. Karena Abi memang bekerja di luar kota, aku menjadi terbiasa dengan ketidakhadiran beliau. Adik Besar memang sering pergi sehingga aku tidak terlalu khawatir. Namun, tetap saja, ada rasa ganjil yang menerpa. Keterpisahan untuk dua atau tiga hari mungkin tidak akan terlalu mengganjal perasaanku. Namun, lebih dari itu, jarak yang memisahkan kami semua akan sangat terasa.

Jarak yang terbentang memang terkadang menjadi penghalang yang sangat besar untuk keyakinan seseorang atas orang lain. Entah itu hanya berbeda perumahan sampai berbeda benua, semua jarak yang memisahkan memang terkadang membuat orang meragu. Ragu akan orang yang meninggalkan mereka akan kembali atau tidak, akan tetap menjadi orang yang sama yang mereka kenal selama ini, atau akan berubah. Jarak menjadi momok yang menakutkan bagi beberapa orang. Namun, jarak menjadi hal yang tidak terlalu mengkhawatirkan bagi sebagian orang yang lain. Kepercayaan menjadi hal yang sangat utama dalam menghadapi jarak, dan orang-orang yang tidak khawatir ini tetap berpegang pada kepercayaan itu. Percaya bahwa orang-orang yang pergi akan kembali, bahwa orang-orang yang meninggalkan akan tetap pulang, bahwa orang-orang yang terpisah sekian puluh bahkan sekian ribu kilometer akan tetap menjadi orang yang sama.

Aku, jujur saja, sangat kagum dengan orang-orang yang dapat mengalahkan jarak dengan kepercayaan mereka. Kagum dengan bagaimana mereka tetap yakin kepada orang-orang yang meninggalkan mereka dan akan kembali walau harus memakan waktu yang cukup lama. Seperti seorang ayah yang harus pergi ke tempat yang berbeda demi mencari nafkah bagi keluarganya. Mungkin keluarganya keberatan pada awalnya, tetapi akhirnya beliau tetap diperbolehkan pergi walau dengan berat hati. Mereka yakin bahwa beliau akan tetap kembali pada mereka. Beliau akan tetap berkumpul lagi dengan mereka. Beliau akan tetap menjadi ayah mereka. Memang ada rasa rindu di hati, ada rasa sesak di dada, ada rasa takut menyelimuti. Namun, hal itu akan berganti dengan kebahagiaan saat bertemu lagi dengan beliau. Sehingga jarak menjadi tidak terasa lagi hadirnya. Mereka mungkin bisa bertemu dalam dunia maya atau teknologi yang lain, tetapi kehadiran nyata seseorang tidak dapat menggantikan pertemuan semu. Akan tetapi, jangan semata-mata menyalahkan jarak. Dengan berjarak, kita dilatih untuk menjadi lebih kuat dan dapat menaruh kepercayaan kita kepada orang yang meninggalkan kita untuk sementara waktu. Kita dilatih untuk bersabar atas setiap pertemuan yang tertunda. Dan semua itu akan menjadi lebih bernilai karena adanya jarak yang sudah melatih kesabaran, kepercayaan, dan kekuatan kita.

Dan aku percaya, mereka semua akan kembali lagi pada waktunya.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Melegenda

Tanggal 15 kemarin, aku dan Mas menghadiri acara Jatim Fair 2014 yang diadakan di Grand City. Bukan untuk melihat-lihat pameran yang ada, tentu saja, melainkan untuk melihat bintang tamu pada konser yang melengkapi rangkaian acara Jatim Fair 2014. Bintang tamu pada hari itu adalah Sheila On 7. Karena aku dan Mas merupakan penggemar lagu-lagu Sheila On 7, maka kami dengan serta merta pergi ke Grand City hanya untuk menyaksikan Duta dan kawan-kawan beraksi di atas panggung. Namun, yang berpikir demikian bukan hanya kami berdua. Banyak sekali orang yang juga datang ke acara ini untuk menyaksikan Sheila On 7 secara langsung. Tidak mengherankan memang, karena Sheila On 7 merupakan band yang sangat terkenal pada masanya pun pada masa kini. Lagu-lagu mereka tidak pernah terkalahkan oleh lagu-lagu dari penyanyi-penyanyi baru. Malah, lagu mereka tetap dipuja-puja karena kepuitisannya. Jadi, tidak mengherankan jika aku dan Mas harus bersedia berdiri cukup lama untuk menunggu kehadiran Duta dan kawan-kawan sembari berdesak-desakan dengan orang-orang yang juga bersemangat untuk menanti mereka beraksi di atas panggung. Semangat penonton ini sampai membuat keadaan cukup ricuh, tetapi tetap terkendali. Namun, tetap saja ada yang pingsan pada acara tersebut karena tidak kuat disesaki oleh penonton yang lain. Penonton terlalu padat memenuhi lapangan. Akan tetapi, rasa lelah dan panas yang mulai merayapi tubuh terbayar dengan penampilan Sheila On 7 pada malam itu. Duta benar-benar terlihat seperti tidak pernah menua. Dia tetap terlihat aktif dan atraktif di panggung, membuat semua penonton semakin bersemangat mengikuti lagu yang ia lantunkan. Setiap lagu yang dinyanyikan oleh Duta seperti dihapalkan di luar kepala oleh para penonton. Mereka semua menyanyikan dengan semangat dan berlompatan mengikuti irama musik pada refrain setiap lagu yang terlantun. Aku pun sama bersemangatnya dengan mereka. Aku ikut menyanyikan lagu-lagu Sheila On 7 walaupun tidak akan terdengar oleh diriku sendiri karena riuhnya suasana saat itu. Aku tidak menyangka akan melihat Duta secara langsung. Walaupun hanya bisa memandang dari jauh, namun aku cukup puas bisa melihat penyanyi kesukaanku. Dan hebatnya lagi, suaranya sama seperti rekamannya. Ini membuktikan bahwa ia benar-benar menjaga suaranya dengan baik dan ia memang benar-benar penyanyi yang handal. Penampilan Duta, Eross, Adam, dan Brian malam itu sungguh mengagumkan. Tidak mengherankan jika Sheila On 7 menjadi salah satu dari sekian penyanyi dan band legenda di Indonesia, yang lagu-lagunya tidak hilang ditelan oleh waktu.

Menjadi legenda itu tidak pernah mudah. Ketika seseorang menjadi legenda, ia pasti pernah menghadapi berbagai macam halangan dan rintangan untuk itu. Sehingga, ketika ia sudah sukses, kesuksesannya tidak akan serta merta hilang dengan cepat. Ia akan tetap dikenang, ia akan tetap diingat, ia akan tetap dihargai dan dijunjung tinggi walaupun ia tidak seproduktif dulu, dan karya-karyanya akan tetap dihargai dan dipuja-puja. Dan kebanyakan orang yang menjadi legenda tetap menganut ilmu padi; semakin berisi semakin runduk. Ia tetap rendah hati dan merasa harus terus berusaha memperbaiki karyanya. Karena itu, seorang legenda tetap dicintai. Karyanya dicintai, dan dirinya pun dicintai karena sikapnya yang tidak membuat orang muak. Mereka tetap menjadi orang yang apa adanya walau label legenda melekat pada diri mereka. Mereka berlaku seperti itu karena mereka tahu apa yang mereka hadapi saat label legenda masih belum sampai pada mereka. Mereka tetap orang biasa yang sederhana tanpa sikap yang muluk-muluk, dan karena itu mereka dicintai. Sehingga, kerja keras mereka tetap dihargai untuk waktu yang sangat lama.

Jadi, sudah siap untuk melegenda?

Sabtu, 11 Oktober 2014

Listrik

Di era kemajuan teknologi seperti saat ini, kita semua sangat bergantung pada listrik untuk penerangan dan pemanfaatan teknologi yang lain. Padahal pada zaman dahulu, orang-orang lebih bergantung kepada minyak tanah untuk digunakan sebagai penyala pelita. Listrik pada zaman dahulu pun tidak seperti sekarang, yang bisa dengan mudah kita gunakan untuk menyalakan komputer, misalnya, tanpa harus susah payah menciptakan alat pembangkit listrik terlebih dahulu. Dahulu, untuk menciptakan listrik, orang-orang perlu menemukannya dalam ketidaksengajaan. Dari ketidaksengajaan, mereka kemudian berpikir bahwa ketidaksengajaan tersebut bisa dilanjutkan menjadi sesuatu yang berguna bagi mereka. Tidak heran mengapa orang zaman dahulu lebih kreatif daripada orang zaman sekarang. Mereka lebih banyak berpikir untuk menemukan sesuatu, baru kemudian mereka pakai. Tidak seperti orang zaman sekarang yang lebih menitikberatkan kepada kemudahan dan tidak perlu bersusah payah menciptakan sesuatu untuk dipakai terlebih dahulu.

Seluruh dunia saat ini sangat membutuhkan listrik. Pun di Indonesia, listrik menjadi sangat penting bagi kehidupan masyarakatnya. Di Indonesia, listrik disediakan oleh PLN atau Perusahaan Listrik Negara. PLN memiliki andil yang sangat besar bagi ketersedian listrik di Indonesia. Jika PLN tidak menyediakan listrik semisal dua jam saja, maka masyarakat Indonesia akan menjadi sangat kesulitan untuk melakukan aktifitas sehari-hari mereka. Orang-orang yang membutuhkan listrik untuk perangkat elektronik mereka akan kesulitan untuk menggunakan perangkat mereka jika mereka tidak mendapatkan pasokan listrik bagi perangkat mereka. Para blogger tidak bisa menuliskan apapun pada blog mereka, pekerja kantoran tidak bisa melanjutkan pekerjaan mereka, pelajar tidak bisa mencari referensi secara mudah, hal-hal yang seharusnya dilakukan secara daring (online) semisal pendaftaran ke perguruan tinggi menjadi terhambat, pun negara sendiri akan mengalami kerugian jika tidak ada aliran listrik. Sehingga peran PLN dalam mengalirkan listrik ke seluruh Indonesia menjadi sangat penting.

Namun, apakah kita sering terpikir bahwa tidak semua daerah di Indonesia bisa bebas menerima aliran listrik seperti kita yang, misalnya, sedang membaca tulisan ini? Tentu tidak. Jika kita melihat gambar di awal post ini, kita akan menyadari bahwa ternyata listrik belum merata ke seluruh Indonesia. Jadi, tugas PLN tidak berhenti sampai di pulau Jawa dan beberapa daerah di sekitar pulau Jawa saja. PLN masih memiliki tugas yang lebih besar lagi untuk menyebarkan listrik ke seluruh pelosok Indonesia, yang tentu saja pelaksanaannya tidak mudah. Kita bisa saja menyalahkan negara dan PLN karena listrik belum sampai ke tempat saudara-saudara kita di daerah lain di Indonesia yang tidak terdapat listrik. Atau bahkan kita tidak peduli dan cenderung apatis karena merasa ini bukan tugas kita untuk menyampaikan aspirasi kita. Padahal, peranan kita juga terhitung penting. Kita bisa memberikan kontribusi kita kepada PLN agar PLN dapat melaksanakan tugas besar ini. Dengan hal kecil yang ditumpuk sedikit demi sedikit, maka itu akan menjadi hal besar. Seperti penemuan listrik dalam ketidaksengajaan tadi, kita bahkan bisa membuat pengaruh yang lebih besar lagi bila disengaja. Seperti misalnya memberikan ide terbaik kita untuk PLN agar dapat melakukan tugas mereka dengan lebih baik lagi.

Karena aku adalah orang yang tidak terlalu kreatif seperti orang-orang zaman dahulu yang ketika ingin menggunakan listrik saja harus repot-repot menggosokkan batu amber, aku akan memberikan ide yang sederhana saja. Sebaiknya PLN cepat tanggap dalam mengatasi keluhan-keluhan yang ada di setiap daerah. Untuk menjadi cepat tanggap, dibutuhkan orang-orang yang benar-benar cakap dalam bidangnya dan sangat bertanggung jawab dalam pekerjaannya, serta berdedikasi untuk kesejahteraan negara. Karena PLN adalah satu-satunya perusahaan penyedia listrik bagi Indonesia, maka otomatis orang-orang yang bekerja di dalamnya berjasa sangat besar bagi negara. Aku menganggap para pekerja di PLN sebagai pahlawan pada saat ini dikarenakan kesigapan mereka dalam menyediakan listrik bagi negara. Dan tidak semua orang bisa sembarangan disebut sebagai pahlawan, karena yang pantas disebut sebagai pahlawan adalah orang-orang yang benar-benar berdedikasi pada pekerjaannya. Sehingga, untuk melihat apakah seseorang benar-benar berdedikasi, harus ada penyeleksian yang teliti. Jangan hanya dilihat dari kecakapan akademis atau nilai tertulis saja. Kecakapan moral juga perlu diutamakan. Maka, orang-orang yang sungguh-sungguh berniat untuk berdedikasi pada negara, cakap dalam hal kelistrikan, dan bertanggung jawab harus menjadi pertimbangan nomor satu dalam penyeleksian petugas PLN agar orang-orang yang tidak bertanggung jawab tidak dapat mengambil alih tugas mulia ini. Selain pemilihan orang-orang khusus untuk menjadi petugas PLN, penyejahteraan para petugas PLN juga harus dipikirkan. Ketika petugas tidak dijamin kesejahteraan diri maupun keluarganya, sudah tentu ia tidak akan maksimal dalam melakukan pekerjaannya. Sehingga, hidup para petugas PLN harus disejahterakan agar mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia pula. Lalu, dikarenakan banyak keluhan, sebaiknya PLN memberi pengumuman yang jelas bagi daerah-daerah yang akan diberlakukan pemadaman serta memberikan pula alasan yang jelas mengapa akan terjadi pemadaman. Entah pengumuman melalui ketua RT/RW, atau melalui petinggi-petinggi desa yang dihormati. Sehingga masyarakat sekitar daerah pemadaman dapat melakukan persiapan untuk mematikan alat-alat elektronik dan lampu mereka agar tidak rusak ketika listrik kembali dinyalakan.

Pada akhirnya, kita semua harus yakin bahwa PLN akan menjadi lebih baik ke depannya. Semoga PLN dapat mengalirkan listrik ke seluruh penjuru Nusantara tanpa terkecuali, agar semua orang dapat merasakan manfaat dari listrik dan dapat berterima kasih kepada PLN selaku penyedia listrik satu-satunya bagi Indonesia.

Selamat Hari Listrik Nasional, PLN.

(sumber gambar: google.com)

Rabu, 08 Oktober 2014

Pertanggungjawaban

Pernahkah kalian terpikirkan bahwa kalian akan menghadapi dunia yang lebih rumit lagi dari apa yang kalian hadapi sekarang? Pernahkah kalian merasa bahwa kalian telah menjadi lebih tua dari sebelumnya dan merasa bahwa kalian memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi dari sebelumnya? Atau kalian malah merasa bahwa apa yang harus dihadapi nanti, harusnya dipikirkan nanti saja dan sebaiknya mengurusi masalah yang dihadapi kini?

Aku pernah memikirkan semua hal yang ada di atas. Tentu saja tidak dalam waktu yang bersamaan. Terkadang memikirkan salah satunya di pagi hari, terkadang terpikirkan hal yang lain lagi di malam hari. Memikirkan bahwa dunia menjadi lebih rumit, memikirkan bahwa semakin berat tanggung jawab yang harus dipikul, tetapi lebih memilih untuk menjalani apa yang ada di depan mata saja daripada harus repot-repot memikirkan tanggung jawab di masa depan.

Sebenarnya, mengapa kita harus repot-repot memikirkan hal-hal yang harus dipertanggungjawabkan entah kini ataupun nanti? Bukankah lebih enak dan santai jika kita hanya membiarkan semua hal berlalu begitu saja tanpa harus bersusah payah memikirkan tanggung jawab yang harus dipikul? Bukankah lebih enak jika kita terus menjadi seperti anak kecil yang polos dan tidak tahu apa-apa, yang tidak dibebani masalah dan hanya bermain sepanjang waktu? Dan akankah kita selamanya seperti itu?

Kita hidup di dunia sudah tentu dibekali dengan banyak hal, dan semua hal itu pasti akan dipertanggungjawabkan pada akhirnya. Tidak salah sebenarnya jika kita tidak memikirkan sejenak apa yang akan menjadi tanggung jawab kita nanti. Namun, karena seiring berjalannya waktu, setiap orang yang menjadi dewasa akan dihadapkan dengan kenyataan bahwa apa yang ia kerjakan seluruhnya akan dipertanggungjawabkan. Entah itu masalah pendidikan, pekerjaan, pernikahan, dan lain sebagainya. Tidak salah juga jika kita hanya ingin menghadapi apa yang ada di depan mata tanpa memikirkan apa yang akan datang kemudian. Namun, seperti ketika kita akan melakukan perjalanan jauh, kita seharusnya mengantisipasi apa yang akan terjadi. Kita harus melakukan banyak persiapan. Dan untuk melakukan persiapan, kita harus mengira-ngira apa yang akan kita hadapi nantinya. Begitu pula dengan tanggung jawab. Apa yang akan kita siapkan untuk hal-hal yang akan kita pertanggungjawabkan nanti sudah pasti harus dipikirkan dari sekarang. Dan anak kecil tidak perlu memikirkan hal seperti itu. Itu adalah hal yang harus orang dewasa lakukan. Bahkan anak kecil pun sedari dini sudah diajari untuk bertanggung jawab terhadap diri dan sekitanya. Mengapa kita yang dewasa tidak mengantisipasi untuk itu pula?

Jadi, sudah siap untuk bertanggung jawab?

Rabu, 01 Oktober 2014

Kedewasaan

Pertama-tama, aku mengucapkan maaf kepada para pembaca blog ini, baik yang selalu mengikuti tulisanku dari awal hingga sekarang maupun yang hanya lewat. Aku meminta maaf karena pada bulan September kemarin aku tidak menuliskan apa-apa di sini. Bukan berarti aku sedang malas dan tidak memiliki ide. Aku sedang berada pada masa membiasakan diri lagi dengan urusan perkuliahanku. Di semester ini, aku sedang benar-benar disibukkan dengan tugas-tugas yang menumpuk dan meminta untuk segera dikerjakan. Setiap minggu, ada saja tugas-tugas yang diberikan oleh setiap dosen dari mata kuliah yang berbeda. Oleh sebab itu, aku sedang berusaha membagi waktuku agar bisa mengerjakan tugas-tugas tersebut supaya tidak terbengkalai seperti semester-semester sebelumnya. Konsekuensinya, aku harus fokus pada apa yang menjadi tugasku dan tidak perlu memikirkan apa yang harus aku tulis di sini. Sehingga, jadilah sebulan lalu aku tidak memposting apa-apa karena aku memang sedang tidak berusaha mencari ide untuk dibagikan. Namun, di akhir bulan, mendadak aku mendapatkan beberapa ide yang sayangnya tidak sempat aku tuliskan. Akhirnya, aku memutuskan untuk mulai menulis lagi di bulan Oktober ini karena aku merasa sudah terbiasa dengan kehebohan tugas yang menumpuk. Sekali lagi, aku minta maaf kepada para pembaca.

Malam ini, aku seketika mendapatkan sesuatu untuk dituliskan ketika seorang teman menunjukkanku suatu hal. Hal tersebut membuatku berpikir, betapa tidak dewasanya sang penulis dengan menggunakan ruang publik (dalam hal ini, media sosial) untuk menunjukkan ketidaksukaannya kepada seseorang. Padahal, sebagaimana yang kita tahu, seharusnya suatu masalah diselesaikan secara baik-baik oleh kedua belah pihak yang bersangkutan. Bukannya malah mengumbar ketidaksenangannya terhadap seseorang kepada khalayak ramai. Orang yang melihat mungkin malah akan berpandangan aneh dan sinis kepada orang tersebut. Aku hanya berpikir, memang benar ungkapan bahwa dewasa itu bukan tentang usia, melainkan tentang cara seseorang bersikap.

Kita semua mungkin pernah menemui hal seperti di atas, mengenai bagaimana orang-orang yang kita anggap dewasa karena usianya yang sudah dianggap seperti itu, ternyata tidak bersikap selayaknya orang dewasa. Memang tidak salah ketika kita mengatakan manusia di usia 20 tahun ke atas adalah manusia dewasa. Namun, ketika orang tersebut tidak berperilaku selayaknya orang dewasa, apakah masih pantas jika kita menyebutnya sebagai orang dewasa? Sebenarnya, bagaimana seseorang bisa disebut sebagai dewasa?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dewasa berarti seseorang yang sudah bukan anak-anak atau remaja lagi. Di Indonesia, seseorang dikatakan sudah dewasa ketika usianya sudah tidak belasan lagi, semisal 20 tahun ke atas. Selain itu, masih menurut KBBI, dewasa adalah seseorang yang sudah matang pikiran atau pandangannya. Ketika merujuk pada pengertian ini, maka usia sudah tidak bisa menjadi patokan seseorang dikatakan dewasa. Pada pengertian ini, akal pemikiran seseoranglah yang dijadikan patokan apakah seseorang bisa dikatakan dewasa atau tidak. Bisa jadi anak usia belasan tahun pemikirannya lebih matang daripada seorang bapak usia paruh baya. Jadi, usia tidak bisa menentukan kedewasaan seseorang dalam hal ini.

Menurutku, orang yang sudah dewasa adalah ia yang tahu bagaimana harus bersikap dengan tepat dalam tiap situasi dan kondisi. Sikap yang tepat merupakan hasil dari pemikiran yang telah matang. Semisal, ia tahu bagaimana harus berbicara dengan kelompok masyarakat yang berbeda, atau bagaimana ia harus berbicara pada khalayak ramai di media sosial. Keberadaan media sosial, menurutku, membuat banyak orang menjadi berkurang kedewasaannya. Dengan dalih kebebasan berpikir dan berpendapat, setiap orang tentu saja dapat menuliskan apa pun yang mereka mau sajikan kepada ruang publik. Ini membuat banyak orang terkesan menjadi labil. Dalam banyak situasi, banyak tulisan-tulisan yang tidak tepat penggunaannya di media sosial. Apa yang tidak semua orang harus tahu malah menjadi rahasia umum. Dari masalah ini, kita bisa menilai apakah orang-orang seperti ini sudah berpikiran matang atau belum, sudah melalui proses pendewasaan atau belum. Contoh-contoh seperti itu banyak kita temui di mana saja di dunia maya, bahkan pula di dunia nyata. Sehingga, dengan melihat pada contoh nyata di sekitar di sekitar kita, kita bahkan seharusnya bisa menilai diri kita sendiri apakah kadar kedewasaan kita sudah cukup atau kurang, sudah stabil atau belum, bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Dari itu, ketika kita sudah bisa menilai, maka kita bisa menilai pantaskan diri kita disebut sebagai orang dewasa yang kedewasaan atau orang dewasa yang kekanak-kanakan, dan itu merupakan pilihan dari masing-masing individu.

Jadi, sudah merasa dewasa?