Minggu, 31 Agustus 2014

Terlambat

Hari ini adalah hari terakhir liburan semester empat. Itu artinya, besok aku sudah akan menghadapi semester baru. Dan parahnya lagi, kelas pertama hari esok jatuh pada jam tujuh pagi. Senin dan jam tujuh pagi mungkin bukanlah kombinasi yang sangat bagus untuk semua orang. Namun, aku harus tetap berusaha masuk tepat waktu besok pagi walaupun dengan rasa enggan melawan kantuk untuk hadir di kelas besok. Akan tetapi, aku takut akan terlambat. Besok adalah hari senin, dan jam tujuh pagi merupakan jam macet di daerah Surabaya. Namun, tak apalah. Aku akan tetap berusaha agar tidak terlambat.

Terlambat merupakan keadaan di mana seseorang hadir pada suatu kegiatan dengan tidak tepat waktu. Bisa jadi ketidaktepatan kehadiran orang ini memakan waktu yang sebentar atau lama. Sebagai seorang mahasiswa, aku sudah pasti tahu rasanya terlambat. Rasanya sangat tidak mengenakkan bagiku, pun bagi dosen yang sedang mengajar di kelas saat aku datang terlambat. Aku merasa tidak enak ketika datang terlambat karena aku membuat perhatian seluruh orang di kelas teralihkan sementara kepada kehadiranku yang tidak tepat waktu. Apalagi dosen yang mengajar pun pasti merasa tidak senang dengan kehadiran seorang mahasiswa yang terlambat karena itu artinya beliau harus menjelaskan lagi kepada mahasiswa yang terlambat apa yang tengah dibahas selama ketidakhadiranku (walaupun sang dosen pun tidak harus mengulangi penjelasan yang telah dijelaskan karena mahasiswa seharusnya mandiri dalam mencari dan memahami materi yang dijelaskan baik ia hadir maupun tidak), juga karena merasa disela oleh kehadiranku di tengah pelajaran. Dan menyela itu tidak baik, bukan?

Ketika dosen memperbolehkan masuk ke kelas ketika terlambat dalam jangka waktu tertentu, tentu ini sangat menyenangkan dan menenangkan bagi mahasiswa karena itu artinya akan ada tambahan waktu untuk memasuki kelas beliau, entah sepuluh menit atau lima belas menit. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa beliau sudah berusaha datang tepat waktu untuk kita? Mengapa kita masih terlambat saja? Datang tepat waktu menjadi sebuah usaha kita untuk menghormati sang dosen, sebenarnya. Dan ketika kita sudah terlambat datang dan bahkan masuk begitu saja tanpa seijin dosen yang mengajar, apakah itu sopan? Bagaimana seseorang bisa disebut sebagai mahasiswa jika etika kesopanan saja tidak ia laksanakan? Walaupun sudah diberi tenggat waktu untuk terlambat, setidaknya minta ijin terlebih dahulu apakah diperbolehkan masuk atau tidak. Itu terasa lebih sopan dan tidak akan membuat dosen sakit hati. Apalagi untuk dosen yang tidak memberi tenggat waktu khusus untuk keterlambatan, entah mau terlambat sepuluh menit atau tiga puluh menit menjadi sama saja bagi beliau. Beliau akan tetap memperbolehkan masuk. Justru dosen yang seperti ini tidak boleh dianggap remeh dan kita malah menjadi seenaknya menerlambatkan diri. Malah, kita harusnya tetap berusaha masuk tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan. Ketika aku mendapati dosen yang tidak memberi tenggat waktu khusus untuk keterlambatan seperti di atas dan aku terlambat lebih dari dua puluh menit, aku tidak akan masuk ke kelas beliau. Aku akan pergi ke mana saja di kampus, tapi tidak ke kelas beliau. Aku berusaha menghormati beliau yang telah berusaha tepat waktu dengan ketidakhadiranku. Menurutku, aku lebih suka menghormati beliau dengan cara seperti itu daripada harus masuk ke kelas beliau yang artinya aku harus menyela beliau dan merasa tidak enak sendiri karena telah sangat terlambat.

Namun, terkadang juga terpikirkan olehku bahwa orang-orang yang datang terlambat (termasuk aku) sudah berusaha tiba tepat waktu tetapi terhalang oleh banyak hal. Semisal, rumahku berjarak satu jam dari kampus. Maka dari itu, bisa saja terjadi banyak hal di jalan, seperti macet dan sebagainya. Setidaknya, aku sudah berusaha untuk hadir di kelas secepat yang aku bisa. Akan tetapi, hal ini sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan. Jika aku mau datang tidak terlambat, setidaknya aku harus berangkat lebih awal dari yang telah dijadwalkan agar aku tidak terlambat. Dan banyak juga dosen serta mahasiswa yang rumahnya jauh seperti aku, bahkan bisa jadi lebih jauh lagi, yang datang benar-benar tepat waktu atau bahkan lebih awal di kelas. Sebenarnya, masalah tepat waktu atau terlambat adalah keinginan dari diri sendiri, apakah kita mau datang tepat waktu atau datang terlambat. Jika kita ingin datang tepat waktu, maka kita pasti akan berusaha datang tepat waktu. Namun, jika kita ingin bermalas-malasan lebih dulu, maka sudah pasti kita akan terlambat karena kita tidak berniat untuk datang tepat waktu.

Jadi, sudah siap untuk tidak terlambat?

Sabtu, 30 Agustus 2014

Kebahagiaan

Kemarin malam, aku sedang tidak ada ide untuk menuliskan sesuatu pada blog ini sampai seorang teman tiba-tiba bertanya, "Apa arti kebahagiaan menurutmu?" Aku sempat bingung akan menjawab apa karena pertanyaan ini memiliki jawaban yang bersifat relatif. Relatif karena jawaban yang akan didapat pasti berbeda jika ditanyakan kepada orang yang berbeda pula.

Kebahagiaan bisa diartikan sebagai suatu keadaan tidak merasa susah dan sedih, serta merasa senang dan gembira. Kebahagiaan bagi setiap orang tentu saja berbeda. Ada yang menerapkan standar kebahagiaan bagi dirinya jika ia memiliki materi yang lebih dari orang lain. Ada pula yang merasa bahwa ia akan mendapat kebahagiaan jika ia bisa hidup dengan nyaman. Banyak sekali standar dari kebahagiaan tiap orang. Namun, tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan akan mudah datang ketika seseorang memiliki harta berlimpah. Atau, kebahagiaan bisa dapat menghampiri jika seseorang memiliki sesuatu yang tidak pernah dimiliki orang lain. Sebetulnya tidak bisa dikatakan salah juga definisi kebahagiaan tersebut. Memang tidak salah ketika seseorang merasa bahagia ketika ia memiliki rumah mewah dengan banyak perabot mahal serta baju-baju keluaran butik ternama dan semua hal yang paling indah di dunia. Tidak salah juga ketika seseorang merasa bahagia ketika ia meminta dibelikan sesuatu yang mahal oleh orangtuanya kemudian dikabulkan dengan cepat. Memang tidak salah, namun tidak bisa disebut benar juga.

Kebahagiaan yang sebenarnya tidak tergantung pada materi atau benda apapun. Mungkin beberapa tidak sependapat mengenai hal ini. Mungkin beberapa merasa benda tertentu akan membuatnya merasa bahagia. Namun, kebahagiaan yang sebenarnya terletak pada perasaan bersyukur yang muncul dalam diri kita. Ketika seseorang selalu merasa bersyukur atas apa yang ia miliki dan dapatkan, maka orang itu akan selalu merasa bahagia dan tidak merasa kekurangan. Walaupun ia tidak memiliki rumah yang sangat besar dan mewah, ia akan tetap bahagia karena ia ternyata masih memiliki sebuah rumah untuk dihuni. Walaupun ia tidak memiliki baju-baju keluaran butik ternama, ia akan tetap bahagia karena ternyata ia masih mampu membeli beberapa potong baju untuk menutupi tubuhnya dan melindunginya dari sengatan sinar matahari. Walaupun ia tidak memiliki banyak uang untuk membeli barang-barang mahal yang ia inginkan, ia akan tetap bahagia karena ternyata ia masih bisa mendapatkan uang untuk sekadar jajan atau membeli sesuatu yang mudah didapat, pun ia akan tetap bahagia karena ia ternyata masih memiliki orangtua yang masih mampu menghidupinya. Dari hal-hal sederhana yang bisa disyukuri, maka kebahagiaan pun bisa didapat dengan mudah. Ketika seseorang tidak mensyukuri apa yang ia miliki, ia akan selalu merasa susah dan tidak dapat tenang. Jika merasa susah dan tidak dapat tenang, apakah itu yang disebut dengan kebahagiaan? Bahkan orang paling kaya sekalipun, jika ia tidak mensyukuri semua harta yang ia punya, akan selalu merasa susah dan tidak bahagia dengan itu semua. Jadi, untuk apa memiliki banyak harta dan materi ketika seseorang tidak bisa mendatangkan kebahagiaan dengan itu?

Ada pula yang menyebutkan bahwa kebahagiaan hanya bisa dibentuk oleh diri kita sendiri. Jika hal ini mau dipikirkan sejenak, sebenarnya ada kebenaran dalam pernyataan ini. Kebahagiaan bisa diciptakan oleh pemikiran positif, dan satu-satunya orang paling dekat yang bisa diajak untuk berpikir positif adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Sehingga, kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan kita kepada orang lain. Jika kita sendiri tidak mau berpikir positif dan senang akan sesuatu, maka kebahagiaan sudah pasti akan susah untuk menghampiri. Namun, jika kita berpikir positif, maka kita tidak akan merasa susah ketika ada masalah menghadang dalam hidup kita. Kita akan bisa melihat hal baik dari masalah itu, sehingga kita tidak akan merasa kesulitan dan menganggap bahwa masalah itu adalah akhir dari segalanya. Maka dari itu, pemikiran positif yang kita bentuk dari diri kita sendiri akan bisa mendatangkan kebahagiaan dalam diri kita sendiri pula.

Jadi, sudah siap untuk meraih kebahagiaanmu?

Selasa, 19 Agustus 2014

Perubahan

Hari ini, video dari lagu terbaru Taylor Swift telah diluncurkan. Lagu yang bertajuk Shake It Off ini diluncurkan bersamaan dengan pengumuman judul album terbaru Taylor yang akan segera diluncurkan 27 Oktober mendatang. Pengumuman eksklusif ini dilakukan dalam acara live chat yang ia lakukan pada pukul 17.00 waktu Amerika (pukul 04.00 pagi waktu Indonesia bagian barat). Acara live chat ini bisa diikuti oleh setiap orang di seluruh dunia dengan membuka link yang sudah disediakan. Sebagai seorang Swifties (julukan untuk para penggemar Taylor Swift), aku merasa sedih karena tidak bisa ikut bergabung dengan Swifties lainnya untuk melihat Taylor secara langsung (aku tahu, tidak benar-benar langsung. Hanya melalui layar komputer). Namun, untuk mengetahui bahwa Taylor sudah meluncurkan satu lagu terbaru saja aku sudah sangat bersemangat. Sebelum aku berangkat ke kampus untuk konsultasi masalah pengambilan mata kuliah untuk semester lima pagi ini, aku menyempatkan diri untuk menonton video terbaru Taylor ini. Mudah dan cepat saja karena sudah ada tautan untuk video tersebut pada fanpage Taylor di facebook. Seketika saat aku menonton, aku merasa asing dengan musik dari lagu tersebut. Aku berpikir, benarkah ini musik khas dari Taylor Swift? Aku benar-benar tidak bisa mempercayainya. Apa yang kubayangkan dengan apa yang kudengar saat itu sangat berbeda jauh. Musiknya sangat pop! Bahkan lebih pop dari beberapa lagu Taylor di album sebelumnya, Red. Entah pergi ke mana rasa country yang dulu ia bawa pada album pertama sampai album ketiga. Di lagu ini, petikan gitar pun rasanya hilang. Ini bukan Taylor, pikirku. Ini tidak mungkin. Namun, memikirkan bahwa Taylor suka bereksperimen dengan lagu-lagunya, aku pun memaklumi. Bahkan, aku merasa bahwa lagu tersebut memang benar-benar milik Taylor jika diteliti dari liriknya. Lagipula, video tersebut juga menggambarkan kelucuan dan kekonyolan yang biasa Taylor lakukan saat ia sedang santai. Ah, ini memang benar-benar Taylor Swift, pikirku lega. Walaupun sebagian dari diriku tidak bisa menerima perubahan aliran musik Taylor, tetapi aku mengerti bahwa ia tetaplah seorang Taylor Swift yang selalu memberi inspirasi pada setiap Swifties di seluruh dunia.

Terkadang, setiap perubahan yang kita lakukan tidak selalu membuahkan pemikiran-pemikiran yang akan serta merta setuju dengan apa yang kita lakukan. Seperti halnya lagu terbaru Taylor Swift ini, ia pun menuai beberapa kritik yang tidak berbau positif. Namun, setiap perubahan yang kita lakukan juga pasti akan menuai beberapa persetujuan dari orang-orang. Sebenarnya, perubahan yang kita lakukan tidak berpengaruh bagi orang lain. Orang lain hanya bisa menilai apa yang kita kerjakan tanpa ikut andil untuk melakukan hal tersebut. Perubahan sebetulnya malah berpengaruh besar pada diri kita. Pengaruh yang dihasilkan dari sebuah perubahan yang kita lakukan amatlah penting bagi diri kita sendiri sebetulnya. Karena, setiap langkah yang kita ambil untuk melakukan perubahan tersebut akan mempengaruhi cara kerja kita, cara pandang kita, cara pikir kita, dan lain sebagainya. Sehingga, begitu perubahan yang kita lakukan ini selesai, maka kita otomatis akan menjadi pribadi yang berbeda pula dari sebelumnya. Cara kerja, cara pandang, atau cara pikir kita akan berbeda dari sebelumnya. Entah itu lebih baik atau lebih buruk. Namun, tetap saja pandangan orang lain juga perlu kita masukkan dalam evaluasi perubahan kita, apakah pandangan mereka terhadap perubahan yang kita kerjakan itu positif atau negatif, setuju atau tidak setuju, sesuai atau tidak sesuai. Akan tetapi, pandangan orang-orang jangan langsung ditelan mentah-mentah. Kita tetap harus mengambil yang baik dan membuang yang buruk. Semisal ada pujian, jangan lantas jumawa. Ketika ada kritikan, jangan seketika murka. Ketika pujian datang, itu berarti perubahan yang kita lakukan sudah baik atau bahkan bisa dikembangkan lebih baik lagi. Ketika kritikan hadir, itu berarti harus ada yang diperbaiki dari apa yang telah kita lakukan. Jangan lantas berkecil hati dengan perubahan yang kita lakukan, atau malah berbesar kepala atas apa yang telah dikerjakan. Semua harus ditanggapi secara seimbang dan tidak berlebihan. Toh, pandangan dan masukan orang lain juga membantu dalam pengembangan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Jadi, sudah siap untuk melakukan perubahan?

Minggu, 17 Agustus 2014

Merdeka

Bukan, aku tidak akan membahas tentang salah satu saluran radio di Surabaya. Aku hanya merasa kebetulan harus membahas tema ini karena hari ini merupakan hari istimewa bagi seluruh masyarakat Indonesia, di samping pemilihan presiden pada tanggal 9 Juli lalu. Ya, hari ini merupakan hari kemerdekaan Indonesia. Hari di mana proklamator kebanggaan kita semua, Ir. Soekarno, pada 69 tahun yang lalu membacakan pernyataan bahwa Indonesia sudah merdeka dari jajahan bangsa asing. Dan sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Pak Soekarno, pembacaan proklamasi kemerdekaan dilakukan dengan cara yang seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Walaupun begitu singkat, namun proklamasi kemerdekaan ini sungguh dinanti-nanti oleh seluruh masyarakat Indonesia yang sedang menunggu kapan saatnya mereka berhenti berperang melawan penjajah. Pun, perayaan kemerdekaan saat itu amat sederhana, tapi diselenggarakan dengan cermat. Tidak sembarangan. Sehingga ketika sampai detik-detik pembacaan hingga selesai dikumandangkan proklamasi kemerdekaan tersebut, ada rasa bangga dan puas dalam pencapaian kemerdekaan tersebut. Bangga bisa mempertahankan tanah air, dan puas karena pada akhirnya bisa merdeka walaupun harus dibayar dengan nyawa.

Namun, itu semua ada pada 69 tahun yang lalu. Sekarang, perayaan kemerdekaan lebih meriah dan tidak sekhidmat dulu. Di sana sini orang-orang Indonesia merayakan dengan cara yang jauh berbeda. Ada yang merayakan dengan menyulut kembang api, dengan berdoa bersama, dengan pawai, bahkan dengan memberi diskon besar-besaran demi merayakan hari merdeka bangsa ini. Namun, satu yang tidak boleh tertinggal, yaitu upacara bendera. Ada yang berbeda ketika memandang sang Saka Merah Putih terlambai indah di atas tiang di hari biasa dengan di hari merdeka. Ada rasa haru, ada rasa syahdu, ada rasa sedih, ada rasa bangga. Semua perasaan bercampur aduk. Namun, tidak semua orang bersemangat dalam menyambut upacara bendera pada tanggal 17 Agustus tiap tahunnya. Masih saja ada yang bermalas-malasan. Padahal, seharusnya ini adalah hari yang paling dinanti. Namun, apa boleh buat. Pada penanggalan kita, tanggal 17 Agustus selalu diberi warna merah. Sehingga, masyarakat otomatis berpikir bahwa hari perayaan ini merupakan hari libur, hari untuk istirahat. Dan upacara pada hari libur hanya akan membuat setiap orang yang diwajibkan, akan merasa terpaksa. Apa boleh buat, jika seperti itu.

Ketika kita merasa terpaksa, secara tidak langsung kita menyatakan bahwa diri kita tidak merdeka. Mengapa? Karena merdeka berarti bebas, tidak terikat, tidak terpaksa atas segala apapun. Ketika kita masih merasa terpaksa dengan keadaan, berarti kita tidak merasa bebas. Kita merasa harus melakukan hal tersebut, dan itu jelas bukan definisi merdeka. Merdeka menjadikan seseorang melakukan apa yang ia kehendaki dengan senang hati. Ketika dilakukan dengan senang hati, maka hal tersebut akan dilakukan dengan sangat baik, hati-hati, cermat, dan tulus. Maka, hasil dari rasa merdeka itu akan baik. Namun, ketika seseorang merasa diperbudak dan tidak merdeka, ia akan merasa berat untuk melakukan segala sesuatu. Ketika ia merasa berat dalam melakukan segala sesuatu, ia tidak akan melakukan dengan senang hati. Hal itu akan dilakukan dengan serampangan dan ogah-ogahan. Dengan begitu, hasilnya pun pasti tidak akan maksimal. Maka dari itu, memiliki rasa merdeka dalam diri kita merupakan hal yang sangat penting. Menjadi merdeka berarti menjadi diri sendiri, berdiri sendiri, dan tidak diperbudak oleh apapun. Jika kita masih belum bisa menjadi diri sendiri, belum bisa berdiri sendiri, dan masih merasa diperbudak, tandanya kita masih belum merdeka. Jika kita masih cenderung ikut-ikutan orang lain, tandanya kita masih belum merdeka. Jika kita masih belum bisa mandiri, tandanya kita masih belum merdeka. Sehingga, untuk apa mengikuti perayaan kemerdekaan jika diri sendiri belum merdeka? Kemerdekaan siapa yang sebenarnya kita rayakan? Indonesia saja disebut sudah merdeka, mengapa diri kita sendiri belum? Maka, jadilah pribadi yang paham jati diri dan menjadi diri sendiri, sehingga pada akhirnya kita akan menjadi pribadi yang benar-benar seutuhnya merdeka.

Jadi, sudah merasa merdeka?

Sabtu, 09 Agustus 2014

Anonim

Beberapa hari ini, aku dan teman-temanku sedang dibingungkan dengan beberapa pertanyaan aneh yang ditujukan kepada akun ask.fm kami. Pertanyaan-pertanyaan aneh itu ditanyakan oleh anonim, sehingga kami tidak mengetahui siapa yang sebenarnya menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dan lagi, pertanyaan-pertanyaan itu tidak seharusnya dipertanyakan, malah lebih terlihat seperti mengolok-olok kami. Kami pun bertanya-tanya, siapa kira-kira yang menanyakan hal-hal tersebut dan apa maksud dia menanyakan hal-hal itu.

Anonim adalah sebuah istilah untuk menyebutkan seseorang tanpa identitas atau tanpa nama. Istilah anonim sering digunakan dalam penyebutan pembuat atau pencipta karya sastra atau seni yang tidak terlacak atau tidak diketahui nama atau identitasnya, sehingga orang-orang menyebut mereka sebagai anonim. Sedangkan saat ini, istilah anonim digunakan di berbagai situs seperti ask.fm untuk menyebut penanya tanpa identitas atau tanpa akun dan seringkali disingkat sebagai anon. Sebagai orang tanpa identitas, anonim sendiri mudah bergerak karena kemungkinan untuk ketahuan sangat kecil sekali. Sehingga, seringkali anonimitas seseorang sangat membingungkan dan dianggap sangat mengganggu. Sebenarnya anonimitas tidak terlalu mengganggu, yang mengganggu adalah ketika anonimitas digunakan untuk hal-hal yang tidak pantas dan berguna seperti mencela orang lain dan menanyakan hal-hal yang tidak tepat seperti kasus di atas.

Menurutku, orang-orang yang berani mencela di balik anonimitas adalah orang yang pengecut, sama pengecutnya dengan orang-orang yang hanya berani membicarakan kita di belakang kita. Aku menganggap mereka seperti itu karena mereka tidak berani menunjukkan siapa diri mereka selagi mereka mencela orang lain. Padahal, jika memang tidak suka kepada seseorang, tidak apa-apa mengatakan ketidaksukaan kita terhadap orang itu. Saat mengatakan ketidaksukaan kita, sebaiknya gunakan kalimat dan kata-kata yang tidak menyinggung perasaan orang itu. Orang akan lebih menghormati kita ketika kita berusaha jujur dan terbuka ketika mengkritik orang lain. Namun, jika tidak bisa berbicara dengan kata-kata yang baik, lebih baik diam saja dan memendam ketidaksukaan kita daripada berlindung di balik anonimitas dan membuat orang lain sakit hati.

Untuk menghadapi anonim yang bersifat negatif, lebih baik tidak usah ditanggapi. Anggap saja sebagai angin lalu. Atau jika ingin menanggapi, lebih baik gunakan bahasa dan sikap yang positif agar kita tidak terlalu sakit hati dengan kenegatifan anonim itu. Selain itu, kita juga tidak akan berdosa dengan melancarkan kalimat-kalimat yang sama negatifnya dengan anonim tersebut. Lagipula, apa bedanya kita dengan anonim tersebut jika kita sama-sama menanggapi anonim dengan sikap dan kalimat yang negatif juga? Setelah itu, ucapan anonim yang menyakitkan hati lebih baik tidak usah dipikirkan. Memikirkan hal-hal negatif hanya akan menambah sakit hati dan kenegatifan dalam diri kita. Namun jika ucapan anonim tersebut ada benarnya, sebaiknya kita berbenah diri. Mungkin dalam diri kita memang terdapat sikap dan sifat seperti yang disebutkan oleh anonim itu yang memang kebanyakan orang tidak suka, dan orang yang tidak suka itu tidak ingin diketahui identitasnya oleh kita. Anggap saja ucapan anonim itu adalah kritik yang membangun agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. Karena sebenarnya, anonim adalah beberapa orang dari sekian orang yang memperhatikan kinerja dan perilaku kita, entah melalui dunia nyata maupun maya. Namun, mungkin mereka terlalu takut jika kita akan marah pada mereka jika kita tahu siapa mereka, dan mereka tidak memiliki kata-kata yang baik untuk disusun dan disampaikan. Jadi, jangan terlalu dipikirkan jika ada anonim yang sengaja menyulut kemarahan kita. Lebih baik kita tidak menanggapi mereka dan tidak usah dipedulikan.

Lalu, mengapa aku membuat posting ini adalah karena aku peduli dengan para anonim. Aku peduli karena aku kasihan dengan mereka yang tidak memiliki keberanian untuk menyatakan sesuatu yang ada di pikirannya kepada orang yang tidak membuat hati mereka berkenan. Maka dari itu, mereka berpikir bahwa berlindung di balik anonimitas akan membuat mereka merasa aman untuk sementara. Jika aku jadi mereka, aku akan lebih memilih diam dan tidak menyatakan ketidaksukaanku. Atau, aku akan membicarakan hal tersebut empat mata dengan orang yang perilakunya tidak aku senangi tersebut, terutama jika orang tersebut adalah orang-orang yang sangat dekat denganku sehingga aku harus peduli dengan mereka. Lagipula, aku tidak akan pernah menggunakan fasilitas anonim jika aku bertanya di situs ask.fm karena aku tidak menggunakan ask.fm sebagai fasilitas untuk mengolok-olok orang lain, melainkan untuk menanyai orang lain yang memang aku penasaran akan hal-hal yang terdapat pada diri mereka.

Jadi, sudah pernah dikerjai anonim?