Kamis, 31 Juli 2014

Rokok

Rokok, sebuah benda mungil yang dapat kita temui di setiap keseharian dan lingkungan kita. Tidak pandang bulu, rokok dihisap oleh orang muda maupun tua, lelaki maupun wanita, golongan konglomerat maupun kaum melarat, terkadang malah anak kecil yang tidak seharusnya mengonsumsi pun ikut terjangkiti. Di Indonesia, rokok dijual dengan harga yang lumayan sangat terjangkau oleh setiap lapisan masyarakat, sehingga tidak heran jika anak usia SMP bahkan SD pun bisa menikmatinya. Berbeda dengan di kebanyakan negara maju seperti Jepang yang mematok harga rokok begitu tinggi untuk setiap pak dari rokok yang dijual. Menikmatinya pun tidak bisa di sembarang tempat seperti di Indonesia, dan jika tidak mematuhinya maka akan dikenai denda yang lumayan besar.

Rokok terkadang dianggap sebagai lambang kebebasan dan pembebasan diri bagi sebagian orang. Rokok dianggap sebagai lambang kebebasan diri dari apapun yang menghalangi pikiran, pembebasan diri dari rutinitas yang membebani hati, pembebasan dari segala keluhan yang terbenam dalam dada. Seakan-akan dengan menyalakan beberapa batang rokok, semua masalah akan dengan mudah terlupakan untuk sementara. Dan juga, dengan menghisap beberapa batang rokok, seseorang dapat menjadi tenang untuk sementara dari segenap pemikiran yang kerap mengganggu. Rokok juga disebut sebagai penolong dalam mencari inspirasi bagi sebagian orang. Bagi mereka, tidak ada inspirasi jika tidak ada rokok. Tidak akan dihasilkan suatu pemikiran tanpa rokok. Walaupun mereka sudah tahu akan bahaya rokok yang kerap disosialisasikan oleh media dan seminar, tapi mereka tetap menghisap dan mencari ketenangan serta inspirasi dari batangan mungil itu. Mereka kerap beralasan bahwa tanpa rokok, mereka tidak bisa berpikir jernih. Bahkan, ada yang mengeluhkan pusing berkepanjangan bila tidak merokok walau hanya beberapa jam.

Rokok juga terkadang dianggap sebagai lambang kejantanan dan keberanian. Bagi sebagian orang, tidak merokok berarti tidak jantan dan tidak berani. Padahal, kejantanan dan keberanian tidak diukur dari seberapa ingin kita mencoba dan akhirnya ketagihan dengan benda kecil ini. Namun, akar pemikiran yang salah akhirnya menyesatkan sebagian orang yang beranggapan bahwa awal kejantanan dan keberanian seseorang muncul saat sebatang rokok dinyalakan dan diisap. Sehingga pada akhirnya, banyak orang-orang yang ketagihan dengan rokok walaupun awalnya tidak ingin merokok.

Padahal, para perokok pasti sudah tahu dengan pasti apa saja akibat buruk dari merokok. Namun, dengan berbagai macam alasan, para perokok seperti tidak ingin menghentikan kebiasaan mereka. Mungkin ada keinginan untuk berhenti, tapi keinginan mereka terhenti karena kandungan rokok yang tertumpuk di dalam tubuh mereka sudah terlalu banyak. Sehingga, ketika ada keinginan untuk berhenti dan mereka mencoba berhenti, akan ada efek seperti orang sakau, semisal sakit kepala dan sesak napas. Itu memang efek yang akan dialami seseorang saat awal-awal mencoba berhenti merokok, karena di saat itu kandungan rokok seperti nikotin dan tar yang sudah terlanjur menumpuk dalam tubuh seseorang mulai menurun. Ketika zat-zat tersebut berkurang perlahan-lahan, efek sakau ini akan terasa. Namun, lama kelamaan orang yang mencoba berhenti merokok akan merasa lebih sehat karena berkurangnya zat-zat rokok yang terkandung dalam tubuhnya itu.

Sebenarnya, ketika kita sudah tahu bahaya akan suatu hal, lebih baik kita menghindarinya, bukan? Bukan malah mendekat dan berteman dengannya. Hal berbahaya itu akan menjadikan kita lemah dan tidak memiliki daya pada diri kita ketika ia sudah benar-benar menyatu dengan kita. Dan ketika kita sudah terkuasai, sebaiknya kita melepaskan diri darinya bagaimanapun caranya, sehingga kita tidak kehilangan kendali akan diri kita. Seperti dalam kasus rokok ini, sebaiknya kita melepaskan diri darinya jika kita sudah terlanjur terikat dengannya. Namun, itu merupakan pilihan bagi setiap orang untuk melepasnya atau tetap bertahan dengannya walaupun harus kehilangan kendali diri sewaktu-waktu karenanya. Setidaknya, kita sudah tahu apa bahaya dan akibat yang ditimbulkan olehnya.

Jadi, apakah sudah siap lepas dari rokok?

Kamis, 24 Juli 2014

Impian

Setiap orang pasti memiliki keinginan terpendam untuk diwujudkan. Dan setiap keinginan tersebut bisa menjadi sebuah amunisi untuk memotivasi hidup setiap individu. Tanpa adanya keinginan untuk mencapai sesuatu, hidup menjadi hampa dan tidak ada gairahnya. Keinginan untuk mencapai suatu hal bisa disebut sebagai impian. Impian biasanya tercipta ketika seseorang tidak memiliki suatu hal sehingga ia ingin memilikinya dan berusaha melakukan apapun untuk meraih impiannya itu.

Tidak salah jika setiap orang memiliki impian. Dan tidak setiap orang bisa menerima impian orang lain tanpa menernyitkan dahi. Aku, misalnya, mengimpikan ingin lulus tepat waktu lalu menikah dengan seorang pria pilihanku. Menurutku, impian ini sederhana dan tidak terlalu muluk. Tidak harus kaya, tidak harus tampan, tidak harus jenius, yang penting pria pilihanku bertanggung jawab atas keluargaku nanti di dunia dan akhirat. Sederhana saja. Namun, masih banyak orang meragukan impian ini. Mereka menganggap impianku terlalu tinggi dan masih terlalu cepat untuk memikirkan hal itu, dan juga mereka berpandangan bahwa bisa jadi pria yang sudah kutunjuk menjadi calon suami nantinya tidak akan bersanding denganku di pelaminan. Bisa juga mereka berpikir bahwa menikah setelah lulus hanya akan mengekang diri dan tidak bisa bebas. Ada juga yang melihat bahwa setelah menikah seharusnya bekerja dulu untuk mengumpulkan modal. Kupikir, jika impian tidak dikejar secepatnya, bisa jadi ia akan dikejar orang lain. Jika bukan kita yang menjadikan impian itu nyata, maka bisa jadi di kemudian hari akan ada orang lain yang mewujudkan impian yang kita idam-idamkan dari lama. Lalu, untuk apa bermimpi lama-lama jika akhirnya tidak tercapai?

Impian bisa terwujud jika kita yakin bahwa impian itu bisa terwujud. Ada juga yang beranggapan bahwa impian bisa tercapai jika kita sudah bisa membayangkan diri kita saat sudah berhasil menggapai impian itu. Memang, itu tidak salah. Aku sering membayangkan diriku sedang berada dalam impianku yang sudah kucapai dan aku merasa bahwa akan sangat beruntungnya aku jika aku benar-benar dapat mencapai impian itu dalam dunia nyata. Maka, aku harus meyakinkan diriku bahwa aku bisa mencapai impian itu, aku bisa mewujudkan impian itu. Walaupun orang lain ragu atas impian kita itu, jangan pernah ragu dengan impian itu. Kita harus dengan penuh keyakinan mengejar impian itu. Pastinya, keyakinan itu harus diiringi dengan usaha yang kuat agar bisa tercapai. Ada yang mengatakan bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. Jika tidak ada usahanya, impian itu sudah pasti tidak akan terkabul. Semisal, jika kita bermimpi ingin diterima di sebuah perguruan tinggi dan sangat yakin akan diterima, tapi kita tidak belajar mati-matian untuk itu, percuma saja bermimpi. Pasti tidak akan tercapai. Jadi, sudah seharusnya impian yang kita bangun itu disertai dengan keyakinan yang kuat akan terwujudnya impian itu dan usaha keras serta pantang menyerah untuk mengejarnya.

Namun, bagaimana jika kita sudah membangun impian itu sejak lama, lalu kita sudah yakin bahwa impian itu akan terwujud, dan kita sudah berusaha untuk itu, tetapi masih belum terwujud juga impian itu? Mungkin, keyakinan kita atas terwujudnya impian itu belum sangat kuat sampai kita terbayang akan kesuksesan kita meraih impian itu. Atau, usaha kita belum cukup keras dalam mengejar impian itu. Namun, bagaimana jika kedua hal itu sudah dilakukan sampai titik darah penghabisan tapi tetap tidak tercapai impian itu? Mungkin, Tuhan punya rencana dan takdir yang lebih baik dari apa yang kita impikan itu. Rencana Tuhan memang selalu lebih baik, dan terkadang kita hanya tidak bisa memahami dan mensyukuri itu. Jadi, jangan menyerah jika impian kita tidak tercapai dan apa yang ditakdirkan Tuhan jauh dari harapan kita, karena apa yang diberikan Tuhan pasti lebih baik bagi hamba-Nya dan Tuhan Maha Tahu.

Jadi, sudah siap untuk mewujudkan impian?

Rabu, 23 Juli 2014

Mendua

"Kamu pernah, nggak, suka sama dua cowok dalam satu waktu?" begitu tanya temanku saat ia berkunjung ke rumahku kemarin. Aku sedikit terhenyak. Menyukai dua orang lelaki dalam satu waktu? Itu bukanlah hal yang bisa begitu saja terlintas di pikiranku. Bahkan menyukai satu orang lelaki saja terkadang susah setengah mati. Mengapa bisa begitu? Karena menyukai, lebih-lebih mencintai, pastinya harus dengan hati yang utuh. Dan melakukannya pun, walaupun seolah-olah mudah, tapi prosesnya ternyata lebih sulit dari sekedar mengucapkan. Apalagi untuk mencintai dua orang yang berbeda dalam satu waktu, pasti akan sangat merepotkan.

Memiliki hati untuk mencintai merupakan anugrah yang indah bagi siapa saja yang merasakannya. Mencintai pun tidak harus kepada pasangan, bisa jadi mencintai suatu kegiatan, mencintai keluarga, mencintai saudara, mencintai hewan peliharaan, dan lain sebagainya. Rasa cinta terhadap seseorang atau sesuatu ini membuat kita merasa damai dan nyaman, sehingga kita bersedia untuk melakukan apa saja demi seseorang atau sesuatu itu. Sebagai contoh, jika seseorang mencintai kegiatan membaca, ia pasti rela melakukan apa saja untuk menambah bahan bacaannya setiap hari. Walaupun harus susah payah mengumpulkan uang untuk membeli novel yang ia ingin baca, misalnya, ia tetap memperjuangkan itu untuk membelinya.

Khusus untuk pasangan, mencintai ia berarti mencintai keseluruhan darinya. Itu berarti, kita harus mencintai kekurangan dan kelemahannya di samping mengagung-agungkan kehebatannya. Terkadang, karena adanya kelemahan dan kekurangan dari pasangan, kita tidak bisa menerima pasangan secara keseluruhan. Akibatnya, bisa saja timbul permasalahan yang berujung pada pencarian sosok yang lebih sempurna lagi. Mengapa bisa begitu? Pada dasarnya manusia adalah sosok yang tidak pernah puas akan kekurangan atau kelemahan. Karena ketidakpuasan ini, manusia cenderung akan lebih memilih sesuatu yang menurutnya tidak terlalu banyak kekurangan. Bahkan jika bisa, manusia akan cenderung memilih sesuatu yang tidak ada kekurangan dan cacat sedikit pun alias sempurna. Namun, karena tidak ada manusia yang tidak memiliki cacat dan cela, maka penyakit tidak pernah puas ini tidak akan pernah bisa terpenuhi, sehingga terbentuklah keinginan untuk terus mencari.

Sudah banyak terjadi perpisahan yang tidak semestinya pada setiap orang yang tidak puas dengan pasangannya. Perpisahan ini awalnya disebabkan oleh ketidakpuasan, lalu berujung pada pencarian sosok sempurna yang lain, kemudian berujung pada mendua. Akibatnya, perpisahan pun tak terelakkan. Hal ini seharusnya tidak terjadi dan bisa dicegah jika masing-masing orang bersyukur dan menerima kekurangan pasangannya. Jika tidak bisa menerima kekurangan pasangan, maka mendua pun akan menjadi alternatif terdekat untuk dipilih jika tidak ingin berpisah dengan pasangannya. Padahal, mendua adalah pilihan yang menyakitkan perasaan, dan perasaan tidak hadir semata-mata untuk dimainkan, namun untuk dijaga. Ketika mendua, kepercayaan sudah secara otomatis hilang dari kedua pasangan, dan pastinya berujung pada perpisahan. Semestinya, jangan mendua jika merasa tak cocok. Sebaliknya, bicarakan baik-baik apa permasalahan yang ada, apa kekurangan yang perlu diperbaiki, apa kesalahan yang harus dimaafkan, dan lain sebagainya. Dengan komunikasi yang baik, kejadian mendua atau bahkan perpisahan akan bisa dihindari.

Jadi, sudah memilih untuk tidak mendua?

Sabtu, 12 Juli 2014

Memihak

Sekarang sedang musimnya pembicaraan mengenai konflik berkepanjangan di jalur Gaza. Mendengar nama Gaza, pastinya kita semua sudah tahu siapa yang sedang dibicarakan di sini. Ya, tentu saja kita membahas mengenai penyerangan pasukan Israel terhadap warga Palestina. Banyak sekali bahasan mengenai konflik ini, terutama (tentu saja) di media jejaring sosial. Setiap orang mengemukakan pendapatnya mengenai hal ini. Tak jarang juga ada yang memunculkan gambar-gambar kekejian pasukan Israel terhadap warga Palestina. Semua hal itu menumbuhkan perasaan iba setiap yang melihat, dan tentu saja, menghasilkan banyak reaksi atas perbuatan pasukan Israel terhadap penduduk sipil Palestina di jalur Gaza. Ada yang mengecam, ada yang segera menggalang dana, ada yang membuat petisi, dan lain sebagainya. Semua orang seperti berlomba-lomba untuk menunjukkan rasa empatinya terhadap warga Palestina yang terus dihujani bom dan peluru dari segala penjuru.

Namun, masih saja ada sebagian orang yang menganggap kejadian tersebut bukanlah karena kesalahan orang Israel semata. Sebagian orang ini menganggap bahwa orang-orang Palestina juga memicu adanya perang di jalur Gaza ini. Dan, bisa dipastikan, mereka juga gembor-gembor di media sosial, seakan mencoba menentang setiap orang yang berempati pada pihak Palestina. Begitu mereka dicecar segala pernyataan tidak setuju dari pihak-pihak yang berempati tersebut, mereka langsung menyampaikan pendapat mereka dengan terkesan begitu elegan dan berpendidikan. Mereka menyampaikan fakta yang mereka temukan di ranah internet, dan dengan penyampaian yang seolah menyihir namun menyimpan kontroversi, mereka tetap menyatakan bahwa sebenarnya kedua pihak (Israel dan Palestina) salah, dan orang-orang ini menyatakan diri bahwa mereka tidak memihak siapa pun alias netral.

Menurutku, sebenarnya mereka juga tidak salah. Mereka mencari informasi, mereka mencerna informasi tersebut, lalu mereka mengolah informasi tersebut dan menyebarkannya kepada khalayak yang sedang panas-panasnya menanggapi konflik Israel-Palestina. Namun, kesan menyalahkan Palestina itu yang menjadi pertanyaan. Baiklah jika mereka mencari informasi lalu disimpan sendiri, tidak masalah. Mereka ingin netral dan tidak memihak siapa pun, tidak masalah jika mereka tidak membicarakannya di hadapan orang banyak melalui dunia maya. Namun, seakan memprovokasi secara halus, mereka tidak segan-segan menyatakan bahwa Palestina juga bersalah, Palestina yang menyulut konflik, Palestina begini begitu, dan lain sebagainya. Padahal, sudah jelas siapa pihak yang salah. Sudah jelas siapa pihak yang lebih banyak kehilangan harta, keluarga, bahkan mungkin nyawa. Dan mereka, orang-orang ini, masih bisa berucap bahwa mereka netral. Aku jadi percaya terhadap kalimat Abi, "Sekarang ini banyak sekali orang berpendidikan yang tidak mempunyai akhlak atau perilaku yang baik." Perilaku dihasilkan oleh pemikiran, dan aku pun tahu bagaimana mereka dengan merujuk pada pernyataan mereka.

Bagiku, tidak masalah memihak siapa yang kita anggap benar, selama kita juga bisa memberi alasan mengapa kita memihak pihak yang bersangkutan. Orang lain pun boleh memihak pihak yang berlawanan dengan yang kita pilih. Dan jika ia memberi alasan, tidak masalah. Namun, kita harus benar-benar harus melihat apakah orang yang kita beri dukungan itu benar atau salah. Jika ia adalah pihak yang benar, bersyukurlah bahwa kita akan menguatkan pihak tersebut dengan kepercayaan yang kita letakkan padanya. Namun, jika ia merupakan pihak yang tidak benar, maka bisa dipastikan ia akan menyalahgunakan kekuatan pendukung yang memihaknya, dan hal ini pastinya akan merugikan bahkan membahayakan banyak pihak. Maka dari itu, dalam memihak, sebaiknya kita cari tahu dulu informasi mengenai siapa yang akan kita beri dukungan, cari tahu sebanyak-banyaknya siapa dia sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya, latar belakangnya, dan lain sebagainya. Jika sudah begitu, kita akan dapat menjelaskan mengapa kita memihak orang tersebut dan tidak akan ragu walaupun mendapat informasi yang tidak sesuai dengan informasi yang kita temukan sebelumnya.

Jadi, siapa yang kalian pihak?

Selasa, 08 Juli 2014

Memilih

Besok akan menjadi hari yang sangat menegangkan bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, nasib mereka empat tahun mendatang akan mereka tentukan besok. Ya, hari Rabu, 9 Juli 2014 mendatang akan menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia untuk memilih siapa yang akan memegang tampuk kepemimpinan Indonesia ke depan. Sudah dari jauh hari masyarakat Indonesia telah membicarakan hal ini dengan orang-orang terdekat mereka ataupun orang yang mereka anggap ahli mengenai masalah ini. Dari yang belum mempunyai hak pilih sampai yang sudah memiliki hak pilih, semuanya memperhatikan para kandidat presiden dan wakil presiden yang akan dimunculkan gambarnya pada kertas suara yang akan dicoblos Rabu esok.
 
Euforia pemilihan presiden dan wakil presiden tahun ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada beberapa tahun yang lalu, banyak sekali kandidat yang dicalonkan pada pemilihan-pemilihan sebelumnya. Dan juga, saat itu masyarakat Indonesia tidak terlalu menggebu-gebu dalam menunjukkan semangat memilih presiden dan wakil presiden. Namun, saat ini terlihat sekali semangat masyarakat Indonesia dalam memilih pemimpin yang akan memimpin mereka ke depannya. Masyarakat Indonesia membicarakan kehebatan dan kekurangan masing-masing kandidat, latar belakang mereka, dan meyakini masing-masing kandidat dapat memperbaiki Indonesia ke depannya. Ada yang sejak awal yakin dengan satu kandidat, ada pula yang sampai hari ini masih belum tahu akan memilih siapa. Dan hebohnya lagi, kandidat yang bisa dipilih hanya ada dua pasangan. Ya, hanya dua. Terlihat sekali, kan, bagaimana euforia ini terlihat begitu panas, terutama saat kampanye berlangsung? Hanya ada dua kubu sehingga terlihat sekali seperti peperangan. Pendukung salah satu kandidat mendukung kandidatnya, tak lupa menjelek-jelekkan kandidat yang lain. Begitu pula sebaliknya. Ada pula sebagian pendukung yang tidak terlalu tersulut akan hal tersebut dan santai-santai saja menanggapi berbagai celaan yang dilontarkan kubu sebelah. Kampanye merupakan peperangan, dan medan perangnya ada di banyak tempat. Bisa di dunia nyata, bahkan terus berlangsung di dunia maya. Seheboh itu kah pemilihan umum tahun ini? Coba saja lihat lini masa media-media sosial yang kita punya. Bisa dilihat, kan, bagaimana panasnya suasana? Para pendukung menjelek-jelekkan satu sama lain, sedangkan orang-orang yang berada di posisi netral malah semakin capek dan muak melihat mereka. Dipikir-pikir, tidak dibayar kok mau-mau saja membela kandidat-kandidat terpilih?
 
Yah, itulah yang disebut pilihan. Setiap orang memiliki hak untuk memilih, entah memilih salah satu kandidat, ataupun memilih untuk tidak memilih. Semua itu adalah pilihan. Memilih adalah naluri kita. Naluri untuk bertahan hidup, naluri untuk berkeluarga, naluri untuk menetap di suatu tempat, itu yang diajarkan nenek moyang kita yang lebih dulu lahir ke dunia ini. Dan semua itu adalah pilihan. Hidup ini penuh pilihan. Bahkan, memilih untuk makan di saat lapar pun merupakan suatu pilihan. Karena setiap orang punya hak untuk memilih, kita tidak bisa semata-mata menetapkan setiap orang harus memiliki pilihan yang sama dengan kita. Semisal, seseorang ingin pindah ke luar negeri karena ingin dihargai kecerdasannya. Itu pilihan dia, dan kita tidak bisa menahan dia untuk tetap tinggal demi keegoisan kita sendiri. Ada pula yang aneh. Ada orang yang menyatakan ingin memilih salah satu dari kedua kandidat, dan ia menyatakannya di akun media sosialnya. Tak lama setelah itu, banyak sekali tanggapan dari orang-orang yang membacanya. Ada yang mendukung, banyak pula yang mencerca. Menurutku, ya terserah orang itu mau memilih siapa. Itu hak dia untuk memilih, bukan? Katanya, kita menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, mengapa untuk memilih saja masih dibatasi? Mengapa untuk memilih saja harus dilarang dan diatur? Mengapa? Ke manakah Hak Asasi Manusia yang kita junjung tinggi? Jika masih harus diatur masalah pilih-memilih itu, berarti Hak Asasi Manusia masih menjadi wacana tanpa praktek saja. Atau bisa disebut hanya mitos. Lalu, untuk apa masih menyebut-nyebut Hak Asasi Manusia jika itu hanya omong kosong belaka?
 
Maka, sebagai sesama rakyat Indonesia yang mengakui keberadaan Hak Asasi Manusia, semestinya kita menghormati pilihan orang lain. Kita tidak bisa memaksakan orang lain mengikuti pilihan kita. Sekarang, bagaimana jika pilihan kita ditentukan atau bahkan dipaksakan oleh orang lain? Tentu kita tidak mau, bukan? Jika memang kita ini adalah satu kesatuan, tolonglah hormati dan hargai pilihan orang lain. Jangan malah mencibir. Kita toh juga tidak ingin pilihan kita dicibir oleh orang lain. Setiap orang toh sudah bersedia untuk memilih demi kelangsungan hidupnya, dan memilihnya pun tidak asal-asalan. Memilih pun menggunakan akal dan logika, tidak hanya dengan nafsu. Jikalau pun menggunakan nafsu, ya itu pilihan dia. Kita harus tetap menghormati pilihan dia tersebut.
 
Jadi, sudah siap memilih besok?