Jumat, 23 Mei 2014

Kemacetan

Semua orang tidak suka kemacetan. Bermacet-macet di jalan membuat emosi meninggi. Kesabaran seolah bukan teman yang dapat membantu mengurangi tingkat kerusuhan hati seseorang yang terkena macet. Semua orang ingin cepat sampai tujuan, dan jalanan seolah menjadi arena balap yang menentukan siapa pemenang yang akan berhenti terlebih dulu di ujung jalan. Jalanan seolah milik mereka yang bisa memacu kendaraan lebih cepat dari yang lain. Kemacetan seperti tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan, bisa membuat orang-orang senang, dan membuat orang memikirkan segala suatu yang positif.

Terkadang, melihat orang-orang yang terkena macet bisa menjadi tontonan tersendiri buatku. Ada yang rela menunggu, ada pula yang ingin segera berlalu. Dan aku, melihat mereka, akan senantiasa memikirkan segala hal yang lewat di sekitarku. Ada seorang bapak paruh baya yang terburu-buru, ingin rasanya ia memarahi setiap orang yang ada di depannya untuk segera maju. Ada pula seorang pemuda yang tak sabaran, dengan gesit menyelipkan motornya di antara kendaraan roda empat yang menurutnya menghalangi jalannya untuk pulang. Ada juga seorang ibu yang melambat dan membuat orang lain menggerutu karena ia melambat tidak di tepi, melainkan agak ke tengah jalan. Ada pula mobil yang selalu membunyikan klakson tiap lima detik sekali untuk mengingatkan orang-orang di depannya untuk segera pergi, tapi tak berdaya dengan kenyataan ada lautan manusia berkendaraan bermotor di depannya yang tak juga melaju. Semua hal ini membuatku berpikir, sebegitu tak sabarnya kah manusia? Sebegitu pentingkah urusan mereka semua, sehingga mereka harus memprioritaskan diri untuk mendahului yang lain? Sebegitu terlambatnya kah mereka untuk mencapai tempat tujuan mereka? Sebegitu malasnya kah mereka untuk menunggu? Sebegitu tak inginnya kah mereka untuk sedikit mengalah pada yang lain?

Menyaksikan semua hal tersebut kadang juga membuatku jengkel. Bagaimana tidak, sedang enak-enak melaju santai, tiba-tiba ada motor yang menyalip dari samping kiri dan kanan, dan jarak mereka menyalip pun sangat dekat dengan motorku. Aku tidak habis pikir. Apakah mereka tidak memerhatikan hak pengguna jalan yang lain? Ada kasus lain ketika aku sedang memacu motorku dengan kecepatan sedang, aku melihat ada sebuah motor yang berusaha menyalip mobil-mobil yang jaraknya berdekatan. Hampir saja pengendara motor itu tersenggol bagian depan mobil! Aku pun berpikir melihat kejadian ini. Apakah demi sampai tujuan dengan cepat, seseorang lebih memilih untuk mencari bahaya ketimbang menghemat nyawanya yang hanya satu melekat di badan? Banyak sekali kasus kecelakaan di jalan, dan rata-rata disebabkan karena ketidaksabaran pengguna jalan itu sendiri. Sampai hari ini pun, orang-orang masih rela mendaftarkan namanya kepada malaikat maut untuk sewaktu-waktu diambil nyawanya saat berkendara. Padahal mereka tahu bahaya kebut-kebutan di jalan, bahaya memotong jalan kendaraan lain yang sedang melaju, dan kesia-siaan untuk membunyikan klakson di jalanan yang macet. Untuk apa semua itu dilakukan jika mereka tahu resiko yang akan mereka hadapi?

Kadangkala juga aku menemukan orang-orang yang memakai hak pengguna kendaraan lain, terutama saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Orang-orang tetap saja melaju, padahal itu sudah bukan jatah mereka untuk mengambil alih jalanan. Sehingga, untuk menghentikan mereka, terkadang klakson saja tidak cukup satu dua yang dinyalakan. Harus dari depan sampai belakang antrian! Suasana pun pasti menjadi ricuh dan sangat ramai. Aku hanya bisa terdiam dan berpikir saat melihat keadaan seperti ini. Seberapa rugi, sih, jika orang-orang itu mau mengalah sedikit saja? Toh, berhenti sejenak untuk membiarkan orang lain lewat tidak akan menghabiskan waktu seminggu bahkan sebulan. Lalu, untuk apa terburu-buru?

Sampai sekarang pun, kemacetan masih saja terjadi. Dan terjadinya pun di tempat yang itu-itu saja. Di ruas jalan yang sama dengan yang aku lalui dua semester yang lalu. Apa, sih, sebenarnya penyebab kemacetan ini awet dari bulan ke bulan? Padahal, jika sedikit dibenahi, tentu tidak akan terjadi kemacetan di tempat-tempat tertentu. Dan aku sempat berpikir, padahal jalanan seakan tak berujung, dapat logika dari mana kok kemacetan bisa terjadi? Apakah benar fenomena si Komo lewat itulah penyebab kemacetan?

Harapan untuk mengatasi kemacetan sebenarnya tidak datang untuk para pengatur lalu lintas. Harapan itu jatuh kepada setiap pengguna jalan, sebenarnya. Hanya sedikit permohonan, yaitu semoga mereka semua mengerti arti mengalah dan sabar. Jika dua hal tersebut dilakukan dengan konsisten, mungkin kemacetan akan teratasi dengan baik. Tidak perlu peralatan canggih, pengatur lalu lintas yang hanya bisa melambaikan tangan untuk menyuruh setiap kendaraan untuk cepat melintas, atau pun peraturan yang sangat mengikat bagi setiap pengguna kendaraan. Semua orang hanya butuh hati nurani dan kesadaran diri. Semudah itu.

2 komentar: