Rabu, 31 Desember 2014

Resolusi

Aku sama sekali tidak menyadari bahwa besok adalah tanggal 1 Januari. Ya, tahun 2014 akan segera habis hari ini dan 2015 sudah akan dimulai besok pagi. Bagaimana aku bisa menyadari, aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara menyelesaikan tugas-tugas UAS yang menumpuk dengan pembagian waktu yang efisien, yang berakhir dengan berselancar di internet sebagai alternatif terakhirku untuk menghilangkan kebingunganku.

Mendengar frase tahun baru, biasanya apa yang terlintas di pikiran kita? Mungkin yang muncul pertama kali adalah kata resolusi. Seringkali kita berkata semisal, "Di tahun depan resolusiku adalah ini, ini, dan ini," atau "Aku ingin resolusiku begini begini di tahun depan." Sebenarnya, apa arti kata resolusi itu? Menurut KBBI daring, resolusi adalah sebuah pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Berbeda dengan apa yang biasa dipahami oleh masyarakat kita bahwa resolusi merupakan sebuah pencapaian yang ingin dituju ketika tahun berganti, biasanya berupa keinginan untuk merubah kebiasaan lama. Dan biasanya resolusi dicanangkan pada akhir tahun yang lama atau awal tahun baru.

Mungkin banyak dari kita yang sudah biasa mencanangkan resolusinya untuk awal tahun baru, dan mungkin banyak juga dari kita yang sudah biasa melewati tahun baru itu dengan tidak melakukan resolusinya. Dan mungkin banyak dari kita yang membuat resolusi hanya untuk mengikuti tren; tidak membuat resolusi untuk tahun depan? Kamu pasti bukan anak gaul! Maka dari itu mengapa banyak dari kita yang pada akhirnya gagal menjalankan resolusi yang kita buat sendiri karena niat yang melenceng tadi.

Apa tujuan sebenarnya resolusi dibuat? Menurutku, resolusi dibuat terutama di awal tahun baru untuk membuat kita lebih semangat untuk mencapainya. Biasanya orang-orang akan lebih mudah melakukan sesuatu jika dilakukan di awal waktu, dan dalam kasus ini awal waktu yang tepat menurut mereka adalah tahun baru. Sehingga, itulah mengapa banyak orang yang dengan semangat membuat resolusi di awal tahun baru sebagai penanda bahwa mereka ingin melakukan hal yang baru seiring dengan munculnya tahun yang baru. Namun, sayangnya banyak yang, seperti telah disebutkan di atas, membuat resolusi hanya untuk mengikuti orang lain yang memang benar-benar niat membuat resolusi. Dan pada akhirnya, resolusi hanya dijadikan ajang pamer oleh banyak orang agar disebut sebagai orang yang keren, gaul, atau terkesan pintar. Sayang sekali, bukan?

Menurutku, jika tidak berniat untuk membuat perubahan apa-apa dengan sebuah resolusi yang ngawur, lebih baik tidak usah sekalian membuat resolusi hanya untuk memenuhi gengsi. Lebih baik perbaiki diri dari sekarang. Dan jika memang benar-benar berniat, buatlah resolusi yang masuk akal dan tidak muluk-muluk agar resolusi tersebut bisa dicapai. Pun, jika ingin membuat resolusi yang lebih tinggi, upayakan agar tercapai dengan seluruh kekuatan dan doa. Jangan mudah menyerah dalam mencapai resolusi, karena resolusi adalah apa yang kamu inginkan untuk tercapai, bukan apa yang kamu ingin jadikan sebuah gengsi.

Jadi, sudah menentukan apa resolusimu untuk tahun 2015?

Minggu, 28 Desember 2014

Berdandan

Hari ini aku mengikuti kelas berdandan dan berhijab yang diselenggarakan oleh Wardah dan Ehza Ekmaal. Wardah merupakan salah satu merk kosmetik Indonesia yang bersetifikat halal oleh MUI, sedangkan Ehza Ekmaal adalah salah satu butik di Surabaya yang menjual berbagai keperluan bagi wanita berhijab, seperti pasmina, baju, dan aksesoris yang mendukung bagi para wanita berhijab. Aku kebetulan menemukan pengumuman tentang adanya kelas seminar ini dari Twitter, dan aku serta merta mengajak adik perempuan Mas untuk ikut serta dalam kelas ini. Walaupun biaya kelas ini lumayan mahal untuk kantung mahasiswa, namun aku tidak keberatan selama ilmu yang aku dapat sepadan dengan biaya yang aku keluarkan.

Sesi pertama kelas ini adalah kelas berdandan oleh Wardah. Kami melihat sang instruktur (yang merupakan makeup artist yang sudah sangat ahli di bidangnya) memeragakan bagaimana cara berdandan yang baik dan benar. Awalnya, kami diminta untuk menggunakan bedak sebagai dasar riasan. Kami tidak boleh sembarangan memilih bedak yang warnanya berbeda dari warna kulit asli kami, karena jika tidak, kulit wajah kami akan terlihat berbeda dengan kulit asli kita. Kemudian kami ditunjukkan bagaimana cara membentuk gradasi pada pulasan mata. Ternyata, membentuk gradasi pada pulasan mata tidak semudah yang aku lihat di internet. Aku harus berulang kali memastikan arah kuas yang kupakai untuk membentuk gradasi sudah benar. Setelah sempurna, kami melanjutkan fokus riasan kami pada alis. Aku sudah hampir menyerah ketika aku melihat bentuk alisku yang berantakan saat kutebali dengan pensil alis. Namun, aku ingat. Aku datang ke kelas berdandan ini untuk belajar. Jadi, wajar saja jika aku melakukan kesalahan saat uji coba pertamaku ini. Jujur saja, untuk pertama kali itulah aku menggambar alisku sendiri, dan aku merasa sangat konyol. Setelah itu, tibalah saat menorehkan eyeliner pada garis bulu mataku. Itulah saat di mana aku merasa latihanku selama ini tidak sia-sia, karena ternyata masih banyak peserta di kelas tersebut yang tidak terlalu mahir dalam menorehkan eyeliner pada mata mereka. Setelah riasan mata sempurna, kami memindah fokus riasan kami pada pipi dan bibir. Untuk menyapukan perona pipi saja aku sudah merasa gagal. Aku seringkali merasa sapuan perona pipiku terlalu menor, dan kali ini pun aku melakukan hal yang sama. Setelah sesi berdandan oleh Wardah selesai, sesi selanjutnya dilanjutkan oleh Ehza Ekmaal.

Ehza Ekmaal memulai sesi berhijab dengan menunjukkan bagaimana cara berhijab menggunakan pasmina. Ketika aku berusaha mengikuti instruksi dari sang instruktur, aku seringkali tidak yakin apakah aku harus memutar pasminaku ke arah kiri atau kanan, luar atau dalam, dari ujung tertentu atau ujung yang lainnya, dan sebagainya. Aku seringkali ragu. Maka dari itu aku selalu dibantu oleh sang instruktur untuk membetulkan balutan pasminaku. Setelah menunjukkan dua cara berbeda mengenai berhijab dengan pasmina, sang instruktur menunjukkan dua cara berhijab menggunakan kerudung paris (segi empat). Tetap saja, aku tidak yakin dengan ke mana arah aku harus meletakkan kain kerudungku. Aku benar-benar merasa sangat gagal di kelas ini karena aku selalu dibantu. Akan tetapi, teori dan langkah-langkah dalam berhijab yang ditunjukkan oleh instruktur akan berusaha selalu kuingat walaupun kemungkinan kecil akan kuterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selama mengikuti kelas ini, aku belajar akan banyak hal. Ternyata, berdandan dan memakai hijab tidaklah semudah yang aku bayangkan selama ini. Berdandan dan memakai hijab yang baik dan benar membutuhkan ketelatenan dan ketelitian yang sangat tinggi. Jika seseorang sangat tidak sabaran seperti aku, maka kemungkinan besar akan mengalami kegagalan dalam berdandan dan berhijab. Namun, jika dilakukan dengan telaten, hati-hati, dan teliti, maka hasil yang didapat akan sangat memuaskan. Maka, jangan heran ketika seorang wanita memakan waktu yang sangat lama untuk berdandan dan berhijab, karena mereka harus benar-benar teliti saat mengaplikasikan dandanan dan hijab mereka. Mereka ingin riasan dan hijab mereka terlihat sempurna, sehingga wajar saja jika mereka memakan waktu yang cukup lama untuk berdandan dan berhijab.

Jadi, ingin mencoba berdandan dan berhijab?

Senin, 22 Desember 2014

Penampilan

Ada sebuah pepatah asing mengatakan, jangan menilai sebuah buku dari sampulnya. Sebagian orang setuju, karena belum tentu sebuah buku memiliki cerita yang tidak bagus ketika buku tersebut memiliki sampul yang tidak menarik. Bisa jadi, sebuah buku yang sampulnya menarik ternyata tidak memiliki cerita semenarik sampulnya. Namun, apakah benar kita benar-benar tidak melihat sampul terlebih dahulu ketika memilih sebuah buku?

Sampul dalam pepatah di atas menyimbolkan penampilan seseorang, dan buku di pepatah tersebut menyimbolkan orang tersebut pula. Pepatah asing tersebut mengingatkan kita bahwa janganlah hanya menilai orang dari penampilan luarnya saja. Kita juga harus melihat orang tersebut dari perilaku dan hati orang tersebut. Memang, beberapa orang memiliki penampilan yang berbanding lurus dengan perilaku dan hati. Akan tetapi, banyak juga orang yang penampilan dan perilaku yang berbanding terbalik. Satu hal yang menjadi persoalan adalah apakah benar kita benar-benar tidak melihat penampilan seseorang terlebih dahulu?

Manusia zaman sekarang ternyata belum dapat memahami pepatah asing tersebut. Kita, yang katanya disebut sebagai manusia zaman sekarang, masih saja menilai orang lain dari penampilannya saja. Pernah suatu saat aku membaca salah satu thread di Kaskus mengenai seorang lelaki paruh baya berpenampilan sederhana yang mendatangi sebuah tempat penjualan mobil. Lelaki ini memiliki fisik yang cacat. Ketika ia datang ke tempat itu, penjaga tempat penjualan mobil itu menyangka bahwa ia adalah seorang pengemis yang mau meminta-minta di tempat tersebut. Penjaga tempat tersebut pun memberikan uang ala kadarnya kepada lelaki tersebut. Serentak, lelaki itu berkata, "Saya ke sini mau membeli mobil, Pak." Ternyata, lelaki tersebut adalah seorang bos toko elektronik terbesar di kotanya. Dari kisah ini, kita dapat belajar bahwa belum tentu orang yang penampilannya menurut kita tidak meyakinkan itu benar-benar tidak meyakinkan. Bisa jadi itu hanyalah prasangka sesaat kita. Jika prasangka kita tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya, apakah kita tidak malu? Siapa tahu prasangka negatif kita terhadap penampilan seseorang tidak terbukti dengan perilaku orang tersebut.

Lagipula, banyak juga orang yang menipu dengan berpenampilan sedap dipandang. Memang penampilannya benar-benar meyakinkan, tapi ternyata kualitas orang tersebut tidak lebih baik dari penampilannya. Hal ini yang biasanya benar-benar menipu kita. Kita biasanya memuja dan menganggap baik orang-orang seperti ini, yang pada akhirnya dapat merugikan kita juga. Ambil saja contoh petinggi-petinggi negara yang berpakaian rapi dengan segala macam perhiasan yang menempel di tubuh, tidak lupa pula kendaraan mentereng yang digunakan. Mereka berkesan baik di mata masyarakat karena penampilan dan embel-embel gelar pendidikan tertinggi, dan masyarakat seakan dibutakan oleh itu. Namun, apa yang petinggi-petinggi itu hasilkan? Kerugian milyaran Rupiah. Banyak pula kasus penipuan di dunia maya oleh orang-orang yang berpenampilan menarik. Bisa dibayangkan, orang-orang yang berpenampilan baik dan meyakinkan seharusnya tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Cantik di wajah, tetapi buruk di perilaku. Sehingga, perlu kita tanyakan lagi kepada diri kita: apakah kita masih mau menilai buku dari sampulnya?

Jadi, masih mau menilai seseorang dari penampilannya?

Senin, 15 Desember 2014

Serasi

Tentu kalian sering mendengar kalimat seperti, "Mereka terlihat serasi, ya," atau, "Pasangan itu cocok sekali, ya," atau, "Kalian serasi sekali, aku iri." Kalimat-kalimat tersebut sering dilontarkan orang-orang kepada pasangan yang terlihat serasi dan cocok di mata mereka. Akan tetapi, permasalahan sebenarnya adalah benarkah mereka benar-benar merupakan pasangan yang serasi?

Menurut hipotesisku, pasangan itu ada dua tipe. Tipe pertama adalah tipe pasangan yang benar-benar cocok dan serasi satu sama lain. Mereka cenderung mirip dan benar-benar menggemaskan ketika dilihat oleh orang lain. Mungkin juga mereka jarang bertengkar karena mereka seperti sudah bisa membaca pikiran pasangan mereka. Itulah yang membuat mereka menjadi pasangan yang serasi. Kemudian, tipe kedua adalah tipe pasangan yang terbiasa dengan pasangannya. Dalam artian, mereka sudah terbiasa dengan kelebihan dan kekurangan pasangannya walaupun mereka tidak benar-benar bisa cocok satu sama lain. Mungkin mereka sering bertengkar karena adanya banyak perbedaan yang mereka anggap sebagai penghalang dalam membina hubungan. Mungkin orang-orang bisa menganggap mereka sebagai pasangan yang serasi karena mereka sudah terbiasa dengan pasangan mereka.

Menurutku, ada pasangan-pasangan yang terlihat serasi namun ternyata tidak bisa mempertahankan hubungan mereka. Ketika mereka tidak dapat meneruskan perjalanan cinta mereka, mereka cenderung menyerah karena mereka seperti dapat membaca pikiran pasangannya. Mereka merasa mereka tidak harus meneruskan cerita mereka karena mereka merasa memang tidak harus untuk meneruskannya. Ketika mereka merasa tidak tahan dengan kelakuan buruk pasangannya, mereka cenderung akan meminta berhenti meneruskan perjalanan. Pasangan yang seperti ini sangat disayangkan menurutku. Mereka seharusnya sudah cocok satu sama lain, namun mereka dengan mudahnya berpisah karena beberapa hal. Lalu, ada pula pasangan-pasangan yang mungkin tidak cocok sama sekali dan selalu bertolak belakang satu sama lain. Namun, mereka selalu berusaha membiasakan diri dan memantaskan diri mereka untuk selalu berada di sisi pasangannya walaupun mereka tahu mereka tidak seharusnya meneruskan perjalanan mereka bersama. Mereka tidak mudah menyerah dalam meneruskan cerita mereka berdua karena mereka sudah membiasakan diri terhadap kekurangan pasangan mereka, sehingga mereka cenderung tidak terpisahkan.

Akan tetapi, sebenarnya tidak usah peduli apakah kalian adalah pasangan yang terlihat serasi atau tidak. Yang terpenting dari sebuah hubungan adalah bagaimana kalian bisa bersikap dewasa terhadap satu sama lain dan terbiasa dengan segala kekurangan dan keburukan yang ada pada pasangan masing-masing serta mengubah kekurangan dan keburukan yang ada pada diri sendiri. Sehingga ketika kalian telah terbiasa dengan pasangan kalian, kalian tentu akan terlihat serasi satu sama lain.

Jadi, lebih memilih menjadi pasangan yang serasi atau pasangan yang terbiasa dengan satu sama lain?

Kamis, 04 Desember 2014

Menua

Abi dan Umi sudah kembali dari perjalanan selama dua bulan. Beliau berdua membelikanku banyak sekali makanan ringan dan cokelat, hal yang jarang sekali aku nikmati selama dua bulan ditinggal sendiri di rumah. Aku sangat senang ketika Abi berkata bahwa beliau hanya mengingatku saat pergi, sehingga beliau membelikanku banyak makanan ringan dan cokelat. Umi pun membelikanku sebuah tas yang menurutku sangat bagus. Tidak sia-sia aku kangen kepada beliau berdua saat sendiri. Di balik kebahagiaan dalam menyambut kembalinya Umi dan Abi, aku perlahan menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan olehku. Walaupun Abi masih terlihat aktif dan bersemangat, tetapi napasnya terdengar semakin berat. Umi pun semakin sering lupa dalam mengingat suatu hal yang sepele, semisal mencari kacamata yang sebenarnya telah terpasang di batang hidung beliau. Ya, beliau berdua sudah mulai menua.

Seringkali kita terlupa bahwa orangtua kita tidak selamanya akan tetap muda seperti halnya ketika kita masih kecil. Ketika kita tumbuh dan mendewasa, orangtua kita pun ikut tumbuh dan mendewasa. Kita hanya berpikir bahwa kita akan terus bertambah tua seiring berjalannya waktu, tanpa memikirkan bahwa orangtua kita juga bertambah usianya. Kita hanya berpikir bahwa kita akan mengalami kesulitan-kesulitan dalam hidup ketika kita beranjak dewasa, tanpa memikirkan bahwa orangtua kita juga mengalami hal yang sama, bahkan bisa jadi lebih rumit lagi. Kita terkadang seakan tidak mau tahu dan cenderung apatis dengan keadaan orangtua kita yang selalu kita anggap baik-baik saja, padahal mereka juga berjuang dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang mereka alami saat mereka bertambah tua. Seringkali juga kita tidak mengerti kekhawatiran-kekhawatiran yang mereka pikirkan dan resahkan. Dan dalam proses penuaan, banyak sekali hal yang membuat mereka gelisah dan kita tetap saja tidak paham. Orangtua kita menjadi mudah marah dan senewen ketika mereka kehilangan beberapa kemampuan yang dianggap sepele, seperti halnya kemampuan dalam mengingat sesuatu. Menurut kita, hal itu mungkin hal sepele yang mengganggu kita. Padahal, sebenarnya mereka lah yang merasa paling terganggu dengan hal ini. Mereka tidak ingin dianggap tidak mampu lagi karena mereka merasa bahwa mereka adalah tumpuan bagi anak-anak mereka. Akan tetapi, apa daya. Penuaan membuat segala hal yang mudah menjadi sulit bagi mereka.

Sebelum ditinggal selama dua bulan oleh Abi dan Umi, jujur saja, aku adalah anak yang sangat malas dalam membantu beliau berdua mengerjakan pekerjaan rumah. Aku sangat apatis dan menganggap bahwa aku juga memiliki hal-hal yang juga harus kukerjakan, seperti tugas-tugas kuliah. Namun, ketika mereka kembali, aku tersadar bahwa aku tidak boleh terus menerus menjadi seorang anak yang apatis terhadap orangtuaku sendiri, terutama ketika aku tahu bahwa mereka telah mengalami banyak hal sulit dengan penuaan yang mereka alami. Seringkali Umi berkata padaku, "Jika kamu malas-malasan terus, bagaimana kamu bisa bertahan ketika Umi tidak ada nantinya?" Aku tidak ingin tersadar ketika orangtuaku sudah meninggalkanku selamanya. Setidaknya, aku harus melakukan sesuatu agar mereka merasa dimudahkan ketika mereka mulai menua. Tidak muluk-muluk, menjadi anak yang penurut dan berbakti akan menyenangkan setiap hati orangtua. Orangtua juga suka diajak berbincang-bincang, jadi usahakan menemani mereka sambil mengobrol tentang banyak hal ketika ada waktu senggang. Tidak perlu berbicara banyak, kita hanya perlu menyiapkan telinga karena orangtua sangat suka berbicara banyak. Juga, jangan menyakiti hati mereka. Sudah banyak sekali kasus tentang bagaimana anak-anak yang menyakiti hati orangtuanya kemudian mengalami kesulitan di masa depan.

Jadi, sudah siap mendampingi orangtuamu saat mereka mulai menua?

Minggu, 23 November 2014

Proses

Beberapa hari yang lalu, aku menemani Mas memperbaiki Play Station 3 (PS3) miliknya yang rusak. Kami menuju pusat perbaikan konsol game di Surabaya. Ketika sampai, Mas mengatakan pada orang yang ahli dalam membetulkan konsol game di sana apa kerusakan pada PS3 miliknya. Setelah menganalisis kerusakan pada PS3 tersebut dan menyetujui harga perbaikannya, Mas kemudian menanyakan apakah perbaikannya bisa ditunggu, dan ternyata bisa. Kami pun menunggu sambil melihat proses perbaikan PS3 tersebut. Kami menyaksikan bahwa ternyata memperbaiki PS3 tidaklah mudah. Banyak sekali komponen rumit yang ada di dalamnya, dan hampir semua komponen tersebut tidak berukuran besar. Hal tersebut akan sangat menyulitkan jika orang yang mencoba memperbaikinya tidak ahli dan memiliki mata yang sangat jeli. Aku melihat sang ahli meneliti isi komponen PS3 tersebut, lalu mencoba mencocokkan satu komponen dengan komponen yang lain, kemudian memasangkan komponen tersebut pada komponen yang lain, dan sebagainya. Ketika kukira sudah selesai, ternyata masih belum bisa membuat PS3 tersebut bergerak sesuai dengan yang seharusnya. Dan sang ahli itu pun terus mencoba berulang kali, mengganti komponen yang tidak sesuai dengan komponen yang lebih baik, kemudian memasangkannya lagi satu dengan yang lain. Begitu seterusnya sampai pada akhirnya, PS3 milik Mas kembali berfungsi dengan normal. Kami pun sangat puas. Tidak sia-sia kami menunggu cukup lama sembari menyaksikan proses dibetulkannya PS3 milik Mas.

Terkadang kita tidak terlalu suka dengan proses, terutama bagi kita yang terlalu berorientasi pada hasil. Kita hanya peduli dengan apa yang akan kita dapatkan pada akhirnya harus bagus, dan tidak peduli dengan bagaimana cara kita mendapatkan hasil akhir yang bagus tersebut. Kita seringkali berpikir bahwa proses tidak penting, yang penting adalah apa yang akan kita peroleh nantinya. Sebetulnya, berorientasi pada hasil itu sah-sah saja. Semua orang pasti ingin mendapatkan hasil yang baik dengan proses yang tidak lama. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika orientasi pada hasil tersebut tidak disertai dengan proses yang pantas pula. Semisal, kita ingin mendapatkan nilai yang baik pada ujian suatu mata kuliah. Karena kita merasa kita tidak terlalu percaya pada kemampuan kita sendiri, kita meminta jawaban dari teman kita yang kita rasa lebih mampu dalam mata kuliah tersebut. Ketika kita sudah berhasil mendapatkan jawaban tersebut dan berhasil dalam ujian tersebut, tuntaslah sudah apa yang menjadi keinginan kita: nilai yang baik pada ujian mata kuliah tersebut. Namun, apakah proses yang kita lalui juga sepadan dengan apa yang kita dapatkan? Tentu tidak.

Aku selalu kagum dengan orang-orang yang selalu mengutamakan proses dan terkadang tidak terlalu mementingkan hasil akhir yang mereka dapatkan. Mereka sangat tekun dalam mencari jawaban atas persoalan apa pun yang mereka terima. Dengan menikmati proses, seseorang dilatih menjadi sabar dan teliti. Sabar, karena mereka tidak bisa sesegera itu dalam menemukan hasil yang mereka mau. Dan teliti, karena mereka dituntut untuk mencari jawaban dengan benar dan hati-hati jika mereka menginginkan hasil yang baik. Walaupun pada akhirnya mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, tapi setidaknya mereka mendapatkan hal lain: kesabaran, ketelitian, dan pengetahuan akan proses yang salah. Ketika mereka tahu satu proses yang tidak betul, mereka akan mencari proses yang lain sampai mereka mendapatkan hasil yang mereka mau. Seperti halnya Thomas Alfa Edison yang disebut orang-orang banyak mengalami kegagalan dalam menciptakan bola lampu. Itu menurut sudut pandang orang kebanyakan. Namun, Edison malah mengatakan bahwa ia tidak gagal, ia hanya menemukan 10.000 cara yang salah dalam membuat bola lampu. Itu artinya Edison adalah orang yang menikmati proses. Ia menghargai setiap proses yang ia lewati meskipun itu adalah proses yang salah. Ia tidak lantas menyebut dirinya gagal hanya karena 10.000 cara yang tidak berfungsi tersebut. Ia tetap berpikir positif bahwa ia akan berhasil pada akhirnya. Tidak mudah bagi seseorang untuk berpikir positif ketika ia menemukan banyak proses yang tidak menghasilkan apa yang ia inginkan. Bahkan, ahli memperbaiki PS3 pada cerita di atas juga menemui kendala, jika itu apa yang orang penikmat hasil katakan. Ia sempat mengalami beberapa kali kesulitan dalam memperbaiki PS3 tersebut, dan beberapa kali harus membongkar komponen-komponen yang seharusnya sudah tepat untuk diperbaiki kembali. Namun, aku tidak melihat hal tersebut sebagai sebuah kendala. Mungkin memang komponen yang terpasang tidak cocok, sehingga ia harus mengganti dengan komponen yang lain. Meski aku adalah orang yang tidak sabaran dengan proses panjang yang terlihat tidak akan berhasil, akan tetapi aku cukup puas juga melihat pada akhirnya sang ahli ini berhasil menemukan komponen yang tepat. Tanpa menikmati proses, kita tidak akan dapat benar-benar menikmati hasil yang kita dapatkan.

Jadi, sudah mulai belajar menikmati proses?

Minggu, 16 November 2014

Cuek

Semua orang mengatakan bahwa aku terlampau cuek. Bahkan Umi juga berpendapat demikian. Aku terkadang tidak mengerti mengapa orang-orang beranggapan bahwa aku terlalu cuek. Sampai seorang teman mengatakan bahwa ia iri padaku karena aku bisa menjadi sangat cuek, sampai-sampai aku seperti tidak memperhatikan masalah apa pun yang aku hadapi.

Menurutku, aku tidak terlalu cuek sebenarnya. Aku hanya tidak ingin masalah yang menghadangku membuatku terhenti terlalu lama sehingga aku tidak bisa melanjutkan perjalananku yang masih amat panjang. Aku hanya mengesampingkan masalah-masalah tersebut, menyusunnya dari yang paling mudah dan paling sulit, kemudian menyelesaikannya. Jika terlampau sulit sehingga aku akan memakan waktu yang agak lama untuk menyelesaikannya, aku akan berusaha pelan-pelan untuk menyelesaikannya. Jika menurutku masalah tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik, maka aku akan cenderung tidak peduli dan menganggap bahwa masalah tersebut selesai sampai orang yang bersangkutan mau duduk dan membicarakan masalah ini di hadapanku.

Aku tahu, terlalu banyak masalah dalam hidup ini. Terlalu banyak rintangan yang menghadang. Namun, jika kita membiarkan masalah tersebut terus menerus menghalangi kita, apakah kita akan tetap diam di tempat sampai seseorang menolong kita? Tentu tidak. Kita seharusnya maju dan berusaha menghadapi itu, bukannya malah merenungi mengapa kita tidak bisa menghadapi masalah-masalah tersebut. Toh, masalah-masalah tersebut tidak akan selesai jika kita hanya terus merenunginya. Mereka akan bisa selesai jika kita kerjakan dan selesaikan. Kalau tidak bisa? Ya sudah, pakai cara yang lain. Banyak jalan menuju Roma. Tidak bisa dengan cara ini? Gunakan cara yang lain. Tidak perlu sampai disesali jika akhirnya gagal. Toh, kita masih bisa mencoba lagi. Aku adalah seseorang yang tidak terlalu peduli pada hasil. Namun, jika tidak sesuai harapan, aku bisa menjadi sangat kecewa. Akan tetapi, pada akhirnya aku akan berpikir bahwa merenungi hal yang sudah berlalu hanyalah membuang waktu. Dan jadilah aku kembali menjadi orang yang masa bodoh akan itu.

Pada akhirnya, cuek dapat membawa manfaat tersendiri bagi kita. Kita tidak akan terlalu sakit hati dengan masalah yang ada dan menghadang. Kita akan dapat berpikir dengan cara yang paling mudah; biarkan saja, semua pasti selesai. Dan ketika kita menjadi cuek, yang paling kesal mungkin adalah orang-orang di sekitar kita yang menganggap bahwa betapa mudahnya kita menghadapi masalah yang sulit dengan begitu santainya. Namun, manfaat cuek ini hanya berlaku dalam menghadapi masalah saja. Jika untuk kehidupan sosial, janganlah menjadi orang yang cuek. Ketika kita terlalu cuek dengan keadaan di sekitar kita, maka label apatis akan serta merta disematkan pada kita oleh orang-orang sekitar.

Jadi, sudah mulai cuek dalam menghadapi masalah?

Minggu, 09 November 2014

Serapan

Beberapa hari yang lalu, aku membantu adik perempuan Mas mengerjakan tugas sekolah yang diberikan guru kepadanya. Kebetulan tugas tersebut adalah tugas bahasa Indonesia. Tugas yang diberikan tidak banyak, hanya beberapa soal berupa pilihan ganda dan sedikit soal esai. Karena ini adalah tugas bahasa Indonesia, kami harus mengerjakan tugas ini dengan teliti. Kami pun mulai membaca wacana pendek yang ada satu per satu karena setiap beberapa soal yang diberikan selalu berdasarkan pada satu wacana pendek. Ketika aku mulai membaca perintah soal yang diberikan, lalu berlanjut pada wacana pendek pertama, aku mulai mengernyitkan dahi. Ini adalah buku latihan soal bahasa Indonesia untuk siswa sekolah menengah atas (SMA), mengapa terlihat sangat tidak berbahasa Indonesia? Aku melihat banyak sekali kata serapan yang digunakan di buku latihan tersebut, seperti "konjugasi". Aku terheran-heran. Seingatku, dulu ketika aku masih duduk di bangku SMA, tidak ada kata serapan semacam "konjugasi" digunakan dalam buku pelajaran bahasa Indonesia saat itu. Kami masih menggunakan "kata hubung" sebagai kata bahasa Indonesia dari kata serapan "konjugasi" yang berasal dari bahasa Inggris, conjugation.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia daring (dalam jaringan), kata serapan merupakan kata yang diserap dari bahasa lain. Entah itu dari bahasa asing mau pun bahasa daerah. Menurut beberapa sumber, ada beberapa proses penyerapan bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia, yaitu proses adopsi, adaptasi, dan penerjemahan. Proses adopsi adalah penyerapan yang mengambil kata asli dari bahasa asing atau bahasa daerah secara menyeluruh tanpa adanya perubahan, semisal kata "mall". Kemudian, proses adaptasi adalah proses pengambilan makna dari bahasa lain dan ejaannya disesuaikan dengan bahasa Indonesia. Semisal, dalam bahasa Inggris ada kata verification, kemudian kata tersebut diambil ke dalam bahasa Indonesia dan diubah sedikit menyesuaikan dengan ejaan dalam bahasa Indonesia. Sehingga akhirnya kita dapati kata "verifikasi" dalam kamus bahasa Indonesia kita. Lalu, proses penerjemahan adalah proses penyerapan yang merujuk pada konsep suatu kata dalam bahasa asing ataupun bahasa daerah, kemudian dicarilah padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh, kata try out dalam bahasa Inggris dipadankan dengan kata "uji coba" dalam bahasa Indonesia. Proses-proses penyerapan bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia ini membuat kosakata bahasa Indonesia semakin kaya, sehingga terkadang kita tidak terlalu bisa membedakan mana kata asli bahasa Indonesia dan mana kata serapan.

Menurutku, kata serapan tidak seharusnya digunakan, terutama dalam buku pelajaran bahasa Indonesia untuk pelajar, jika tidak dengan sangat terpaksa sekali. Terpaksa dalam artian tidak ada padanan kata yang pas dalam bahasa Indonesia sehingga kata serapan harus digunakan. Ketika seorang siswa dibiasakan menggunakan kata serapan, maka akibatnya akan menjadi tidak baik bagi siswa tersebut ke depannya. Ia tidak akan benar-benar mengenal kata asli bahasa Indonesia yang sebenarnya dan malah akan lebih mengenal kata serapan yang kemungkinan besar lebih banyak diambil dari bahasa asing. Miris sekali membayangkan jika kata asli bahasa Indonesia banyak yang terlupakan sehingga akhirnya hilang dan tergantikan dengan istilah-istilah asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Aku sedih mendengar adik perempuan Mas menyebut kata "regulasi" daripada kata "peraturan". Aku sedih melihat buku bahasa Indonesia untuk siswa SMA lebih memilih kata "konjugasi" daripada "tanda hubung". Aku sedih melihat petinggi-petinggi negara lebih menggunakan kata "edukasi" daripada "pendidikan". Memang mereka memiliki arti dan maksud yang sama, dan mungkin dengan menggunakan kata serapan akan membuat mereka terlihat lebih cerdas dibanding ketika mereka menggunakan kata asli bahasa Indonesia. Namun, lebih memilih kata serapan daripada kata asli bahasa Indonesia tidak akan serta merta melestarikan kata asli bahasa Indonesia itu sendiri. Bayangkan saja jika di masa depan kata "peraturan", "tanda hubung", dan "pendidikan" menghilang dari Kamus Besar Bahasa Indonesia daring dan tergantikan oleh kata "regulasi", "konjugasi", dan "edukasi", siapa yang akan bertanggung jawab atas hilangnya kata-kata tersebut? Apakah kita mau kata-kata asli bahasa Indonesia benar-benar hilang dan tidak digunakan sama sekali oleh anak cucu kita? Apakah kita mau kata-kata tersebut bernasib sama seperti kata "mangkus" dan "sangkil" yang akhirnya lebih dikenal sebagai "efektif" dan "efisien"? Tentu tidak, bukan? Dan aku bersyukur sekali ternyata masih banyak orang yang mau lebih memperhatikan hal ini, seperti beberapa orang di Kaskus yang mengajak Kaskuser lainnya untuk lebih sadar dalam penggunaan kata asli bahasa Indonesia. Semoga dengan adanya orang-orang yang peduli dengan keberadaan kata asli bahasa Indonesia, maka penggunaan kata serapan apalagi istilah asing dalam kehidupan sehari-hari akan berkurang.

Jadi, masih terbiasa menggunakan kata serapan?

Selasa, 04 November 2014

Kepergian

Aku baru saja terbangun ketika mendapati pesan singkat di telepon genggamku. Ternyata itu merupakan pesan singkat dari Mas yang memberitahuku bahwa kucing kesayangan keluarga Mas telah tiada. Padahal, kucing tersebut sudah menemani keluarga Mas sembilan tahun lamanya, sehingga wajar saja jika seluruh keluarga Mas saat ini dirundung kesedihan yang mendalam. Sebagai kucing kesayangan, ia telah dianggap sebagai keluarga oleh Mas. Tak urung aku pun bersedih. Kepergiannya adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh keluarga Mas. Adik perempuan Mas pun sampai menangis tak tertahankan. Aku sempat menemani kucing ini berobat satu minggu yang lalu karena tidak bisa buang air, dan setelah ditangani ia sudah agak sehat, itu kata dokter. Dan ia memang terlihat lebih sehat daripada sebelum dibawa ke dokter. Namun, beberapa hari kemudian ia kembali tidak bisa buang air, bahkan sudah tidak mau makan. Hal yang aku sesalkan adalah penanganannya yang terlambat. Seminggu baru dibawa kembali ke dokter. Akhirnya, sudah terlambat, air seninya sudah bercampur dengan darah, menandakan ginjalnya sudah terserang. Dan ternyata, pagi ini ia sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Kepergian seseorang atau pun seekor hewan peliharaan memang menyedihkan, terutama mereka yang pergi dan kita tahu mereka tidak akan pernah kembali. Memang tidak ada yang tahu pasti kapan seseorang akan pergi dalam waktu lama, dan apakah mereka akan kembali sesuai harapan kita. Namun, ketika kita tahu mereka tidak akan kembali selama-lamanya, sakit yang didera sangatlah perih. Seketika ingatan yang melekat dalam pikiran berhamburan keluar, membuat kita mengingat saat-saat mereka masih ada dan hadir di sisi kita. Tak ayal, kepedihan dalam hati membawa kesedihan yang akhirnya berhasil membobol bendung di mata. Mengenang mereka seperti menghujamkan belati ke dada. Seakan tak percaya, kita masih akan tetap bertanya pada diri sendiri, benarkan mereka telah pergi? Sesuatu yang akan selalu kita tolak kebenarannya. Namun, tidak bisa. Mereka tetap pergi meninggalkan kita.

Akan tetapi, apa guna menangisi mereka yang telah pergi? Memang, sedih pasti ada. Tangis pasti mengalir. Walaupun begitu, kita sudah tahu bahwa mereka tidak akan kembali. Benar-benar tidak akan dan tidak bisa kembali ke kehidupan kita yang sekarang dan masa depan. Di balik kepergian yang ditinggalkan selalu ada sedih, selalu ada lara, selalu ada air mata. Tetapi, selalu ada kekuatan dan ketegaran di balik setiap kepergian. Selalu ada keteguhan dan keyakinan dalam dada. Mereka pergi untuk hidup baru yang lebih baik bagi mereka. Memang sudah waktunya bagi mereka untuk pergi, dan kita tidak bisa menolak kepergian mereka. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah mendoakan agar mereka tetap mendapat yang terbaik di sana, agar mereka tetap terjaga oleh-Nya, agar mereka tidak dirundung kesedihan seperti kita yang mereka tinggalkan. Dan kita yang ditinggalkan harus selalu berusaha tegar atas kepergian mereka. Kita harus yakin bahwa kepergian mereka bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk terus bersedih dan berhenti melanjutkan hidup kita sendiri. Namun, lebih dari itu, kita juga harus terus berbuat yang terbaik. Apa yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Toh, mereka sudah pergi, dan kita tidak bisa membuat mereka kembali lagi. Jadi, tetaplah menatap masa sekarang dan masa depan, terimalah kenyataan bahwa kita akan tetap menjadi orang yang sama walaupun harus mengalami kepahitan atas kepergian mereka, dan hadapilah hidup walaupun tanpa mereka di sisi kita. Dan mereka yang pergi akan tetap hidup selamanya dalam kenangan kita.

Selamat jalan, Boim. Kami akan selalu merindukanmu...

Senin, 03 November 2014

Lampau

Malam ini, aku dan kedua temanku sedang mengobrol asyik melalui layanan pesan Line. Kami membicarakan banyak hal yang, tentu saja, di luar obrolan mengenai tugas seperti biasa. Kami membicarakan apa saja, dari cerita mengenai perasaan, pikiran, hingga kembali ke obrolan tentang tugas. Sampai ketika kami membicarakan masa-masa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas kami yang menurut kami sangatlah alay, aku menjadi tersadar. Masa-masa itu sudah sangat jauh dari masa aku berpijak sekarang. Saat-saat tersebut adalah saat-saat di mana aku masih sangat tidak stabil dan punya banyak ambisi. Masa-masa tersebut adalah masa-masa di mana aku masih menjadi diriku yang sangat pendiam dan apatis, walaupun sampai sekarang ternyata aku masih apatis tetapi sikap diamku sudah lumayan berkurang. Saat-saat tersebut adalah saat-saat di mana aku melakukan banyak sekali kesalahan yang aku ingin sekali memperbaikinya meski aku tahu aku tidak akan pernah bisa lagi kembali ke sana. Apa pun itu, masa-masa itu sudah sukses aku lewati dan aku tinggalkan di waktu lampau hingga akhirnya aku bisa berdiri di masa sekarang tanpa ragu-ragu.

Ketika mengingat masa lampau, kita terkadang teringat tentang apa yang dulu telah kita lakukan terhadap orang-orang yang mungkin tidak pernah lagi kita temui sekarang, teringat tentang bagaimana suksesnya kita dahulu, teringat tentang apa yang kita rasakan terhadap orang-orang tertentu, dan apa saja yang bisa kita ingat, semuanya seakan membawa kita kembali ke masa dulu. Tentang kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, kita seakan ingin kembali untuk memperbaiki itu semua. Tentang orang-orang yang kita sakiti dan tidak sempat dimintai maaf, kita seakan ingin kembali untuk memohon maaf sedalam-dalamnya kepadanya. Tentang orang-orang yang pernah kita temui dan tidak pernah kembali, kita seakan ingin kembali untuk membicarakan hal yang baik kepada mereka walau hanya untuk yang terakhir kali. Mengingat masa lampau memang terkadang membawa banyak penyesalan, penyesalan atas apa yang seharusnya dan tidak seharusnya kita lakukan. Menyesal mengapa tidak lebih banyak melakukan kebaikan kepada orang lain, menyesal mengapa menyakiti perasaan orang lain, menyesal mengapa tidak mengambil kesempatan bagus yang telah terlewat, dan penyesalan lainnya.

Namun, dari apa yang kita dan orang lain lakukan di masa lampau, kita mendapatkan banyak pelajaran berharga jika kita ingin mempelajarinya lagi daripada meratapi dan menyesalinya. Kita dapat belajar bahwa di masa sekarang dan masa depan kita tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Belajar bahwa di masa sekarang dan masa depan kita dapat melakukan apa yang dulu kita lakukan dengan lebih baik lagi. Belajar bahwa di masa sekarang dan masa depan kita harus bisa mengambil kesempatan dan tidak menyia-nyiakannya. Belajar bahwa di masa sekarang dan masa depan kita tidak akan menyakiti siapa-siapa lagi. Belajar bahwa di masa sekarang dan masa depan kita tidak akan mengikuti jejak kesalahan orang lain yang kita tahu. Semua kesalahan dan kebaikan yang pernah dilakukan di masa lampau benar-benar dapat dipelajari. Seperti ucapan Mas suatu waktu, "Hal-hal yang baik harus diambil dan dipertahankan, sedangkan hal-hal yang buruk harus dibuang dan tidak dilakukan lagi di masa depan."

Jadi, sudah siap belajar dari masa lampau?

Jumat, 31 Oktober 2014

Jarak

Saat ini aku sedang menikmati kesendirianku, menikmati sunyi yang menemani tanpa seorang pun hadir di sisiku. Ya, aku memang sedang sendirian di rumah tanpa ada orang lain. Umi sedang pergi dengan Abi untuk sekian waktu lamanya, Adik Besar sedang menuntut ilmu di kota lain, dan Adik Kecil dititipkan Umi kepada tetangga karena tahu bahwa aku cukup sibuk untuk menikmati dunia perkuliahanku sendiri sehingga aku tidak perlu repot-repot mengurus Adik Kecil. Aku tidak merasa takut atas perginya mereka ke tempat mereka masing-masing. Aku hanya merasa sunyi. Aku yang terbiasa mencium tangan Umi sebelum pergi kuliah dan pulang ke rumah menjadi agak janggal dengan ketidakhadiran beliau saat aku kembali dan ketika aku akan pergi. Adik Kecil yang suaranya kuanggap bising dan kemalasannya akan mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan gurunya yang kuanggap mengganggu pun seperti tidak tersisa. Karena Abi memang bekerja di luar kota, aku menjadi terbiasa dengan ketidakhadiran beliau. Adik Besar memang sering pergi sehingga aku tidak terlalu khawatir. Namun, tetap saja, ada rasa ganjil yang menerpa. Keterpisahan untuk dua atau tiga hari mungkin tidak akan terlalu mengganjal perasaanku. Namun, lebih dari itu, jarak yang memisahkan kami semua akan sangat terasa.

Jarak yang terbentang memang terkadang menjadi penghalang yang sangat besar untuk keyakinan seseorang atas orang lain. Entah itu hanya berbeda perumahan sampai berbeda benua, semua jarak yang memisahkan memang terkadang membuat orang meragu. Ragu akan orang yang meninggalkan mereka akan kembali atau tidak, akan tetap menjadi orang yang sama yang mereka kenal selama ini, atau akan berubah. Jarak menjadi momok yang menakutkan bagi beberapa orang. Namun, jarak menjadi hal yang tidak terlalu mengkhawatirkan bagi sebagian orang yang lain. Kepercayaan menjadi hal yang sangat utama dalam menghadapi jarak, dan orang-orang yang tidak khawatir ini tetap berpegang pada kepercayaan itu. Percaya bahwa orang-orang yang pergi akan kembali, bahwa orang-orang yang meninggalkan akan tetap pulang, bahwa orang-orang yang terpisah sekian puluh bahkan sekian ribu kilometer akan tetap menjadi orang yang sama.

Aku, jujur saja, sangat kagum dengan orang-orang yang dapat mengalahkan jarak dengan kepercayaan mereka. Kagum dengan bagaimana mereka tetap yakin kepada orang-orang yang meninggalkan mereka dan akan kembali walau harus memakan waktu yang cukup lama. Seperti seorang ayah yang harus pergi ke tempat yang berbeda demi mencari nafkah bagi keluarganya. Mungkin keluarganya keberatan pada awalnya, tetapi akhirnya beliau tetap diperbolehkan pergi walau dengan berat hati. Mereka yakin bahwa beliau akan tetap kembali pada mereka. Beliau akan tetap berkumpul lagi dengan mereka. Beliau akan tetap menjadi ayah mereka. Memang ada rasa rindu di hati, ada rasa sesak di dada, ada rasa takut menyelimuti. Namun, hal itu akan berganti dengan kebahagiaan saat bertemu lagi dengan beliau. Sehingga jarak menjadi tidak terasa lagi hadirnya. Mereka mungkin bisa bertemu dalam dunia maya atau teknologi yang lain, tetapi kehadiran nyata seseorang tidak dapat menggantikan pertemuan semu. Akan tetapi, jangan semata-mata menyalahkan jarak. Dengan berjarak, kita dilatih untuk menjadi lebih kuat dan dapat menaruh kepercayaan kita kepada orang yang meninggalkan kita untuk sementara waktu. Kita dilatih untuk bersabar atas setiap pertemuan yang tertunda. Dan semua itu akan menjadi lebih bernilai karena adanya jarak yang sudah melatih kesabaran, kepercayaan, dan kekuatan kita.

Dan aku percaya, mereka semua akan kembali lagi pada waktunya.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Melegenda

Tanggal 15 kemarin, aku dan Mas menghadiri acara Jatim Fair 2014 yang diadakan di Grand City. Bukan untuk melihat-lihat pameran yang ada, tentu saja, melainkan untuk melihat bintang tamu pada konser yang melengkapi rangkaian acara Jatim Fair 2014. Bintang tamu pada hari itu adalah Sheila On 7. Karena aku dan Mas merupakan penggemar lagu-lagu Sheila On 7, maka kami dengan serta merta pergi ke Grand City hanya untuk menyaksikan Duta dan kawan-kawan beraksi di atas panggung. Namun, yang berpikir demikian bukan hanya kami berdua. Banyak sekali orang yang juga datang ke acara ini untuk menyaksikan Sheila On 7 secara langsung. Tidak mengherankan memang, karena Sheila On 7 merupakan band yang sangat terkenal pada masanya pun pada masa kini. Lagu-lagu mereka tidak pernah terkalahkan oleh lagu-lagu dari penyanyi-penyanyi baru. Malah, lagu mereka tetap dipuja-puja karena kepuitisannya. Jadi, tidak mengherankan jika aku dan Mas harus bersedia berdiri cukup lama untuk menunggu kehadiran Duta dan kawan-kawan sembari berdesak-desakan dengan orang-orang yang juga bersemangat untuk menanti mereka beraksi di atas panggung. Semangat penonton ini sampai membuat keadaan cukup ricuh, tetapi tetap terkendali. Namun, tetap saja ada yang pingsan pada acara tersebut karena tidak kuat disesaki oleh penonton yang lain. Penonton terlalu padat memenuhi lapangan. Akan tetapi, rasa lelah dan panas yang mulai merayapi tubuh terbayar dengan penampilan Sheila On 7 pada malam itu. Duta benar-benar terlihat seperti tidak pernah menua. Dia tetap terlihat aktif dan atraktif di panggung, membuat semua penonton semakin bersemangat mengikuti lagu yang ia lantunkan. Setiap lagu yang dinyanyikan oleh Duta seperti dihapalkan di luar kepala oleh para penonton. Mereka semua menyanyikan dengan semangat dan berlompatan mengikuti irama musik pada refrain setiap lagu yang terlantun. Aku pun sama bersemangatnya dengan mereka. Aku ikut menyanyikan lagu-lagu Sheila On 7 walaupun tidak akan terdengar oleh diriku sendiri karena riuhnya suasana saat itu. Aku tidak menyangka akan melihat Duta secara langsung. Walaupun hanya bisa memandang dari jauh, namun aku cukup puas bisa melihat penyanyi kesukaanku. Dan hebatnya lagi, suaranya sama seperti rekamannya. Ini membuktikan bahwa ia benar-benar menjaga suaranya dengan baik dan ia memang benar-benar penyanyi yang handal. Penampilan Duta, Eross, Adam, dan Brian malam itu sungguh mengagumkan. Tidak mengherankan jika Sheila On 7 menjadi salah satu dari sekian penyanyi dan band legenda di Indonesia, yang lagu-lagunya tidak hilang ditelan oleh waktu.

Menjadi legenda itu tidak pernah mudah. Ketika seseorang menjadi legenda, ia pasti pernah menghadapi berbagai macam halangan dan rintangan untuk itu. Sehingga, ketika ia sudah sukses, kesuksesannya tidak akan serta merta hilang dengan cepat. Ia akan tetap dikenang, ia akan tetap diingat, ia akan tetap dihargai dan dijunjung tinggi walaupun ia tidak seproduktif dulu, dan karya-karyanya akan tetap dihargai dan dipuja-puja. Dan kebanyakan orang yang menjadi legenda tetap menganut ilmu padi; semakin berisi semakin runduk. Ia tetap rendah hati dan merasa harus terus berusaha memperbaiki karyanya. Karena itu, seorang legenda tetap dicintai. Karyanya dicintai, dan dirinya pun dicintai karena sikapnya yang tidak membuat orang muak. Mereka tetap menjadi orang yang apa adanya walau label legenda melekat pada diri mereka. Mereka berlaku seperti itu karena mereka tahu apa yang mereka hadapi saat label legenda masih belum sampai pada mereka. Mereka tetap orang biasa yang sederhana tanpa sikap yang muluk-muluk, dan karena itu mereka dicintai. Sehingga, kerja keras mereka tetap dihargai untuk waktu yang sangat lama.

Jadi, sudah siap untuk melegenda?

Sabtu, 11 Oktober 2014

Listrik

Di era kemajuan teknologi seperti saat ini, kita semua sangat bergantung pada listrik untuk penerangan dan pemanfaatan teknologi yang lain. Padahal pada zaman dahulu, orang-orang lebih bergantung kepada minyak tanah untuk digunakan sebagai penyala pelita. Listrik pada zaman dahulu pun tidak seperti sekarang, yang bisa dengan mudah kita gunakan untuk menyalakan komputer, misalnya, tanpa harus susah payah menciptakan alat pembangkit listrik terlebih dahulu. Dahulu, untuk menciptakan listrik, orang-orang perlu menemukannya dalam ketidaksengajaan. Dari ketidaksengajaan, mereka kemudian berpikir bahwa ketidaksengajaan tersebut bisa dilanjutkan menjadi sesuatu yang berguna bagi mereka. Tidak heran mengapa orang zaman dahulu lebih kreatif daripada orang zaman sekarang. Mereka lebih banyak berpikir untuk menemukan sesuatu, baru kemudian mereka pakai. Tidak seperti orang zaman sekarang yang lebih menitikberatkan kepada kemudahan dan tidak perlu bersusah payah menciptakan sesuatu untuk dipakai terlebih dahulu.

Seluruh dunia saat ini sangat membutuhkan listrik. Pun di Indonesia, listrik menjadi sangat penting bagi kehidupan masyarakatnya. Di Indonesia, listrik disediakan oleh PLN atau Perusahaan Listrik Negara. PLN memiliki andil yang sangat besar bagi ketersedian listrik di Indonesia. Jika PLN tidak menyediakan listrik semisal dua jam saja, maka masyarakat Indonesia akan menjadi sangat kesulitan untuk melakukan aktifitas sehari-hari mereka. Orang-orang yang membutuhkan listrik untuk perangkat elektronik mereka akan kesulitan untuk menggunakan perangkat mereka jika mereka tidak mendapatkan pasokan listrik bagi perangkat mereka. Para blogger tidak bisa menuliskan apapun pada blog mereka, pekerja kantoran tidak bisa melanjutkan pekerjaan mereka, pelajar tidak bisa mencari referensi secara mudah, hal-hal yang seharusnya dilakukan secara daring (online) semisal pendaftaran ke perguruan tinggi menjadi terhambat, pun negara sendiri akan mengalami kerugian jika tidak ada aliran listrik. Sehingga peran PLN dalam mengalirkan listrik ke seluruh Indonesia menjadi sangat penting.

Namun, apakah kita sering terpikir bahwa tidak semua daerah di Indonesia bisa bebas menerima aliran listrik seperti kita yang, misalnya, sedang membaca tulisan ini? Tentu tidak. Jika kita melihat gambar di awal post ini, kita akan menyadari bahwa ternyata listrik belum merata ke seluruh Indonesia. Jadi, tugas PLN tidak berhenti sampai di pulau Jawa dan beberapa daerah di sekitar pulau Jawa saja. PLN masih memiliki tugas yang lebih besar lagi untuk menyebarkan listrik ke seluruh pelosok Indonesia, yang tentu saja pelaksanaannya tidak mudah. Kita bisa saja menyalahkan negara dan PLN karena listrik belum sampai ke tempat saudara-saudara kita di daerah lain di Indonesia yang tidak terdapat listrik. Atau bahkan kita tidak peduli dan cenderung apatis karena merasa ini bukan tugas kita untuk menyampaikan aspirasi kita. Padahal, peranan kita juga terhitung penting. Kita bisa memberikan kontribusi kita kepada PLN agar PLN dapat melaksanakan tugas besar ini. Dengan hal kecil yang ditumpuk sedikit demi sedikit, maka itu akan menjadi hal besar. Seperti penemuan listrik dalam ketidaksengajaan tadi, kita bahkan bisa membuat pengaruh yang lebih besar lagi bila disengaja. Seperti misalnya memberikan ide terbaik kita untuk PLN agar dapat melakukan tugas mereka dengan lebih baik lagi.

Karena aku adalah orang yang tidak terlalu kreatif seperti orang-orang zaman dahulu yang ketika ingin menggunakan listrik saja harus repot-repot menggosokkan batu amber, aku akan memberikan ide yang sederhana saja. Sebaiknya PLN cepat tanggap dalam mengatasi keluhan-keluhan yang ada di setiap daerah. Untuk menjadi cepat tanggap, dibutuhkan orang-orang yang benar-benar cakap dalam bidangnya dan sangat bertanggung jawab dalam pekerjaannya, serta berdedikasi untuk kesejahteraan negara. Karena PLN adalah satu-satunya perusahaan penyedia listrik bagi Indonesia, maka otomatis orang-orang yang bekerja di dalamnya berjasa sangat besar bagi negara. Aku menganggap para pekerja di PLN sebagai pahlawan pada saat ini dikarenakan kesigapan mereka dalam menyediakan listrik bagi negara. Dan tidak semua orang bisa sembarangan disebut sebagai pahlawan, karena yang pantas disebut sebagai pahlawan adalah orang-orang yang benar-benar berdedikasi pada pekerjaannya. Sehingga, untuk melihat apakah seseorang benar-benar berdedikasi, harus ada penyeleksian yang teliti. Jangan hanya dilihat dari kecakapan akademis atau nilai tertulis saja. Kecakapan moral juga perlu diutamakan. Maka, orang-orang yang sungguh-sungguh berniat untuk berdedikasi pada negara, cakap dalam hal kelistrikan, dan bertanggung jawab harus menjadi pertimbangan nomor satu dalam penyeleksian petugas PLN agar orang-orang yang tidak bertanggung jawab tidak dapat mengambil alih tugas mulia ini. Selain pemilihan orang-orang khusus untuk menjadi petugas PLN, penyejahteraan para petugas PLN juga harus dipikirkan. Ketika petugas tidak dijamin kesejahteraan diri maupun keluarganya, sudah tentu ia tidak akan maksimal dalam melakukan pekerjaannya. Sehingga, hidup para petugas PLN harus disejahterakan agar mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia pula. Lalu, dikarenakan banyak keluhan, sebaiknya PLN memberi pengumuman yang jelas bagi daerah-daerah yang akan diberlakukan pemadaman serta memberikan pula alasan yang jelas mengapa akan terjadi pemadaman. Entah pengumuman melalui ketua RT/RW, atau melalui petinggi-petinggi desa yang dihormati. Sehingga masyarakat sekitar daerah pemadaman dapat melakukan persiapan untuk mematikan alat-alat elektronik dan lampu mereka agar tidak rusak ketika listrik kembali dinyalakan.

Pada akhirnya, kita semua harus yakin bahwa PLN akan menjadi lebih baik ke depannya. Semoga PLN dapat mengalirkan listrik ke seluruh penjuru Nusantara tanpa terkecuali, agar semua orang dapat merasakan manfaat dari listrik dan dapat berterima kasih kepada PLN selaku penyedia listrik satu-satunya bagi Indonesia.

Selamat Hari Listrik Nasional, PLN.

(sumber gambar: google.com)

Rabu, 08 Oktober 2014

Pertanggungjawaban

Pernahkah kalian terpikirkan bahwa kalian akan menghadapi dunia yang lebih rumit lagi dari apa yang kalian hadapi sekarang? Pernahkah kalian merasa bahwa kalian telah menjadi lebih tua dari sebelumnya dan merasa bahwa kalian memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi dari sebelumnya? Atau kalian malah merasa bahwa apa yang harus dihadapi nanti, harusnya dipikirkan nanti saja dan sebaiknya mengurusi masalah yang dihadapi kini?

Aku pernah memikirkan semua hal yang ada di atas. Tentu saja tidak dalam waktu yang bersamaan. Terkadang memikirkan salah satunya di pagi hari, terkadang terpikirkan hal yang lain lagi di malam hari. Memikirkan bahwa dunia menjadi lebih rumit, memikirkan bahwa semakin berat tanggung jawab yang harus dipikul, tetapi lebih memilih untuk menjalani apa yang ada di depan mata saja daripada harus repot-repot memikirkan tanggung jawab di masa depan.

Sebenarnya, mengapa kita harus repot-repot memikirkan hal-hal yang harus dipertanggungjawabkan entah kini ataupun nanti? Bukankah lebih enak dan santai jika kita hanya membiarkan semua hal berlalu begitu saja tanpa harus bersusah payah memikirkan tanggung jawab yang harus dipikul? Bukankah lebih enak jika kita terus menjadi seperti anak kecil yang polos dan tidak tahu apa-apa, yang tidak dibebani masalah dan hanya bermain sepanjang waktu? Dan akankah kita selamanya seperti itu?

Kita hidup di dunia sudah tentu dibekali dengan banyak hal, dan semua hal itu pasti akan dipertanggungjawabkan pada akhirnya. Tidak salah sebenarnya jika kita tidak memikirkan sejenak apa yang akan menjadi tanggung jawab kita nanti. Namun, karena seiring berjalannya waktu, setiap orang yang menjadi dewasa akan dihadapkan dengan kenyataan bahwa apa yang ia kerjakan seluruhnya akan dipertanggungjawabkan. Entah itu masalah pendidikan, pekerjaan, pernikahan, dan lain sebagainya. Tidak salah juga jika kita hanya ingin menghadapi apa yang ada di depan mata tanpa memikirkan apa yang akan datang kemudian. Namun, seperti ketika kita akan melakukan perjalanan jauh, kita seharusnya mengantisipasi apa yang akan terjadi. Kita harus melakukan banyak persiapan. Dan untuk melakukan persiapan, kita harus mengira-ngira apa yang akan kita hadapi nantinya. Begitu pula dengan tanggung jawab. Apa yang akan kita siapkan untuk hal-hal yang akan kita pertanggungjawabkan nanti sudah pasti harus dipikirkan dari sekarang. Dan anak kecil tidak perlu memikirkan hal seperti itu. Itu adalah hal yang harus orang dewasa lakukan. Bahkan anak kecil pun sedari dini sudah diajari untuk bertanggung jawab terhadap diri dan sekitanya. Mengapa kita yang dewasa tidak mengantisipasi untuk itu pula?

Jadi, sudah siap untuk bertanggung jawab?

Rabu, 01 Oktober 2014

Kedewasaan

Pertama-tama, aku mengucapkan maaf kepada para pembaca blog ini, baik yang selalu mengikuti tulisanku dari awal hingga sekarang maupun yang hanya lewat. Aku meminta maaf karena pada bulan September kemarin aku tidak menuliskan apa-apa di sini. Bukan berarti aku sedang malas dan tidak memiliki ide. Aku sedang berada pada masa membiasakan diri lagi dengan urusan perkuliahanku. Di semester ini, aku sedang benar-benar disibukkan dengan tugas-tugas yang menumpuk dan meminta untuk segera dikerjakan. Setiap minggu, ada saja tugas-tugas yang diberikan oleh setiap dosen dari mata kuliah yang berbeda. Oleh sebab itu, aku sedang berusaha membagi waktuku agar bisa mengerjakan tugas-tugas tersebut supaya tidak terbengkalai seperti semester-semester sebelumnya. Konsekuensinya, aku harus fokus pada apa yang menjadi tugasku dan tidak perlu memikirkan apa yang harus aku tulis di sini. Sehingga, jadilah sebulan lalu aku tidak memposting apa-apa karena aku memang sedang tidak berusaha mencari ide untuk dibagikan. Namun, di akhir bulan, mendadak aku mendapatkan beberapa ide yang sayangnya tidak sempat aku tuliskan. Akhirnya, aku memutuskan untuk mulai menulis lagi di bulan Oktober ini karena aku merasa sudah terbiasa dengan kehebohan tugas yang menumpuk. Sekali lagi, aku minta maaf kepada para pembaca.

Malam ini, aku seketika mendapatkan sesuatu untuk dituliskan ketika seorang teman menunjukkanku suatu hal. Hal tersebut membuatku berpikir, betapa tidak dewasanya sang penulis dengan menggunakan ruang publik (dalam hal ini, media sosial) untuk menunjukkan ketidaksukaannya kepada seseorang. Padahal, sebagaimana yang kita tahu, seharusnya suatu masalah diselesaikan secara baik-baik oleh kedua belah pihak yang bersangkutan. Bukannya malah mengumbar ketidaksenangannya terhadap seseorang kepada khalayak ramai. Orang yang melihat mungkin malah akan berpandangan aneh dan sinis kepada orang tersebut. Aku hanya berpikir, memang benar ungkapan bahwa dewasa itu bukan tentang usia, melainkan tentang cara seseorang bersikap.

Kita semua mungkin pernah menemui hal seperti di atas, mengenai bagaimana orang-orang yang kita anggap dewasa karena usianya yang sudah dianggap seperti itu, ternyata tidak bersikap selayaknya orang dewasa. Memang tidak salah ketika kita mengatakan manusia di usia 20 tahun ke atas adalah manusia dewasa. Namun, ketika orang tersebut tidak berperilaku selayaknya orang dewasa, apakah masih pantas jika kita menyebutnya sebagai orang dewasa? Sebenarnya, bagaimana seseorang bisa disebut sebagai dewasa?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dewasa berarti seseorang yang sudah bukan anak-anak atau remaja lagi. Di Indonesia, seseorang dikatakan sudah dewasa ketika usianya sudah tidak belasan lagi, semisal 20 tahun ke atas. Selain itu, masih menurut KBBI, dewasa adalah seseorang yang sudah matang pikiran atau pandangannya. Ketika merujuk pada pengertian ini, maka usia sudah tidak bisa menjadi patokan seseorang dikatakan dewasa. Pada pengertian ini, akal pemikiran seseoranglah yang dijadikan patokan apakah seseorang bisa dikatakan dewasa atau tidak. Bisa jadi anak usia belasan tahun pemikirannya lebih matang daripada seorang bapak usia paruh baya. Jadi, usia tidak bisa menentukan kedewasaan seseorang dalam hal ini.

Menurutku, orang yang sudah dewasa adalah ia yang tahu bagaimana harus bersikap dengan tepat dalam tiap situasi dan kondisi. Sikap yang tepat merupakan hasil dari pemikiran yang telah matang. Semisal, ia tahu bagaimana harus berbicara dengan kelompok masyarakat yang berbeda, atau bagaimana ia harus berbicara pada khalayak ramai di media sosial. Keberadaan media sosial, menurutku, membuat banyak orang menjadi berkurang kedewasaannya. Dengan dalih kebebasan berpikir dan berpendapat, setiap orang tentu saja dapat menuliskan apa pun yang mereka mau sajikan kepada ruang publik. Ini membuat banyak orang terkesan menjadi labil. Dalam banyak situasi, banyak tulisan-tulisan yang tidak tepat penggunaannya di media sosial. Apa yang tidak semua orang harus tahu malah menjadi rahasia umum. Dari masalah ini, kita bisa menilai apakah orang-orang seperti ini sudah berpikiran matang atau belum, sudah melalui proses pendewasaan atau belum. Contoh-contoh seperti itu banyak kita temui di mana saja di dunia maya, bahkan pula di dunia nyata. Sehingga, dengan melihat pada contoh nyata di sekitar di sekitar kita, kita bahkan seharusnya bisa menilai diri kita sendiri apakah kadar kedewasaan kita sudah cukup atau kurang, sudah stabil atau belum, bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Dari itu, ketika kita sudah bisa menilai, maka kita bisa menilai pantaskan diri kita disebut sebagai orang dewasa yang kedewasaan atau orang dewasa yang kekanak-kanakan, dan itu merupakan pilihan dari masing-masing individu.

Jadi, sudah merasa dewasa?

Minggu, 31 Agustus 2014

Terlambat

Hari ini adalah hari terakhir liburan semester empat. Itu artinya, besok aku sudah akan menghadapi semester baru. Dan parahnya lagi, kelas pertama hari esok jatuh pada jam tujuh pagi. Senin dan jam tujuh pagi mungkin bukanlah kombinasi yang sangat bagus untuk semua orang. Namun, aku harus tetap berusaha masuk tepat waktu besok pagi walaupun dengan rasa enggan melawan kantuk untuk hadir di kelas besok. Akan tetapi, aku takut akan terlambat. Besok adalah hari senin, dan jam tujuh pagi merupakan jam macet di daerah Surabaya. Namun, tak apalah. Aku akan tetap berusaha agar tidak terlambat.

Terlambat merupakan keadaan di mana seseorang hadir pada suatu kegiatan dengan tidak tepat waktu. Bisa jadi ketidaktepatan kehadiran orang ini memakan waktu yang sebentar atau lama. Sebagai seorang mahasiswa, aku sudah pasti tahu rasanya terlambat. Rasanya sangat tidak mengenakkan bagiku, pun bagi dosen yang sedang mengajar di kelas saat aku datang terlambat. Aku merasa tidak enak ketika datang terlambat karena aku membuat perhatian seluruh orang di kelas teralihkan sementara kepada kehadiranku yang tidak tepat waktu. Apalagi dosen yang mengajar pun pasti merasa tidak senang dengan kehadiran seorang mahasiswa yang terlambat karena itu artinya beliau harus menjelaskan lagi kepada mahasiswa yang terlambat apa yang tengah dibahas selama ketidakhadiranku (walaupun sang dosen pun tidak harus mengulangi penjelasan yang telah dijelaskan karena mahasiswa seharusnya mandiri dalam mencari dan memahami materi yang dijelaskan baik ia hadir maupun tidak), juga karena merasa disela oleh kehadiranku di tengah pelajaran. Dan menyela itu tidak baik, bukan?

Ketika dosen memperbolehkan masuk ke kelas ketika terlambat dalam jangka waktu tertentu, tentu ini sangat menyenangkan dan menenangkan bagi mahasiswa karena itu artinya akan ada tambahan waktu untuk memasuki kelas beliau, entah sepuluh menit atau lima belas menit. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa beliau sudah berusaha datang tepat waktu untuk kita? Mengapa kita masih terlambat saja? Datang tepat waktu menjadi sebuah usaha kita untuk menghormati sang dosen, sebenarnya. Dan ketika kita sudah terlambat datang dan bahkan masuk begitu saja tanpa seijin dosen yang mengajar, apakah itu sopan? Bagaimana seseorang bisa disebut sebagai mahasiswa jika etika kesopanan saja tidak ia laksanakan? Walaupun sudah diberi tenggat waktu untuk terlambat, setidaknya minta ijin terlebih dahulu apakah diperbolehkan masuk atau tidak. Itu terasa lebih sopan dan tidak akan membuat dosen sakit hati. Apalagi untuk dosen yang tidak memberi tenggat waktu khusus untuk keterlambatan, entah mau terlambat sepuluh menit atau tiga puluh menit menjadi sama saja bagi beliau. Beliau akan tetap memperbolehkan masuk. Justru dosen yang seperti ini tidak boleh dianggap remeh dan kita malah menjadi seenaknya menerlambatkan diri. Malah, kita harusnya tetap berusaha masuk tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan. Ketika aku mendapati dosen yang tidak memberi tenggat waktu khusus untuk keterlambatan seperti di atas dan aku terlambat lebih dari dua puluh menit, aku tidak akan masuk ke kelas beliau. Aku akan pergi ke mana saja di kampus, tapi tidak ke kelas beliau. Aku berusaha menghormati beliau yang telah berusaha tepat waktu dengan ketidakhadiranku. Menurutku, aku lebih suka menghormati beliau dengan cara seperti itu daripada harus masuk ke kelas beliau yang artinya aku harus menyela beliau dan merasa tidak enak sendiri karena telah sangat terlambat.

Namun, terkadang juga terpikirkan olehku bahwa orang-orang yang datang terlambat (termasuk aku) sudah berusaha tiba tepat waktu tetapi terhalang oleh banyak hal. Semisal, rumahku berjarak satu jam dari kampus. Maka dari itu, bisa saja terjadi banyak hal di jalan, seperti macet dan sebagainya. Setidaknya, aku sudah berusaha untuk hadir di kelas secepat yang aku bisa. Akan tetapi, hal ini sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan. Jika aku mau datang tidak terlambat, setidaknya aku harus berangkat lebih awal dari yang telah dijadwalkan agar aku tidak terlambat. Dan banyak juga dosen serta mahasiswa yang rumahnya jauh seperti aku, bahkan bisa jadi lebih jauh lagi, yang datang benar-benar tepat waktu atau bahkan lebih awal di kelas. Sebenarnya, masalah tepat waktu atau terlambat adalah keinginan dari diri sendiri, apakah kita mau datang tepat waktu atau datang terlambat. Jika kita ingin datang tepat waktu, maka kita pasti akan berusaha datang tepat waktu. Namun, jika kita ingin bermalas-malasan lebih dulu, maka sudah pasti kita akan terlambat karena kita tidak berniat untuk datang tepat waktu.

Jadi, sudah siap untuk tidak terlambat?

Sabtu, 30 Agustus 2014

Kebahagiaan

Kemarin malam, aku sedang tidak ada ide untuk menuliskan sesuatu pada blog ini sampai seorang teman tiba-tiba bertanya, "Apa arti kebahagiaan menurutmu?" Aku sempat bingung akan menjawab apa karena pertanyaan ini memiliki jawaban yang bersifat relatif. Relatif karena jawaban yang akan didapat pasti berbeda jika ditanyakan kepada orang yang berbeda pula.

Kebahagiaan bisa diartikan sebagai suatu keadaan tidak merasa susah dan sedih, serta merasa senang dan gembira. Kebahagiaan bagi setiap orang tentu saja berbeda. Ada yang menerapkan standar kebahagiaan bagi dirinya jika ia memiliki materi yang lebih dari orang lain. Ada pula yang merasa bahwa ia akan mendapat kebahagiaan jika ia bisa hidup dengan nyaman. Banyak sekali standar dari kebahagiaan tiap orang. Namun, tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan akan mudah datang ketika seseorang memiliki harta berlimpah. Atau, kebahagiaan bisa dapat menghampiri jika seseorang memiliki sesuatu yang tidak pernah dimiliki orang lain. Sebetulnya tidak bisa dikatakan salah juga definisi kebahagiaan tersebut. Memang tidak salah ketika seseorang merasa bahagia ketika ia memiliki rumah mewah dengan banyak perabot mahal serta baju-baju keluaran butik ternama dan semua hal yang paling indah di dunia. Tidak salah juga ketika seseorang merasa bahagia ketika ia meminta dibelikan sesuatu yang mahal oleh orangtuanya kemudian dikabulkan dengan cepat. Memang tidak salah, namun tidak bisa disebut benar juga.

Kebahagiaan yang sebenarnya tidak tergantung pada materi atau benda apapun. Mungkin beberapa tidak sependapat mengenai hal ini. Mungkin beberapa merasa benda tertentu akan membuatnya merasa bahagia. Namun, kebahagiaan yang sebenarnya terletak pada perasaan bersyukur yang muncul dalam diri kita. Ketika seseorang selalu merasa bersyukur atas apa yang ia miliki dan dapatkan, maka orang itu akan selalu merasa bahagia dan tidak merasa kekurangan. Walaupun ia tidak memiliki rumah yang sangat besar dan mewah, ia akan tetap bahagia karena ia ternyata masih memiliki sebuah rumah untuk dihuni. Walaupun ia tidak memiliki baju-baju keluaran butik ternama, ia akan tetap bahagia karena ternyata ia masih mampu membeli beberapa potong baju untuk menutupi tubuhnya dan melindunginya dari sengatan sinar matahari. Walaupun ia tidak memiliki banyak uang untuk membeli barang-barang mahal yang ia inginkan, ia akan tetap bahagia karena ternyata ia masih bisa mendapatkan uang untuk sekadar jajan atau membeli sesuatu yang mudah didapat, pun ia akan tetap bahagia karena ia ternyata masih memiliki orangtua yang masih mampu menghidupinya. Dari hal-hal sederhana yang bisa disyukuri, maka kebahagiaan pun bisa didapat dengan mudah. Ketika seseorang tidak mensyukuri apa yang ia miliki, ia akan selalu merasa susah dan tidak dapat tenang. Jika merasa susah dan tidak dapat tenang, apakah itu yang disebut dengan kebahagiaan? Bahkan orang paling kaya sekalipun, jika ia tidak mensyukuri semua harta yang ia punya, akan selalu merasa susah dan tidak bahagia dengan itu semua. Jadi, untuk apa memiliki banyak harta dan materi ketika seseorang tidak bisa mendatangkan kebahagiaan dengan itu?

Ada pula yang menyebutkan bahwa kebahagiaan hanya bisa dibentuk oleh diri kita sendiri. Jika hal ini mau dipikirkan sejenak, sebenarnya ada kebenaran dalam pernyataan ini. Kebahagiaan bisa diciptakan oleh pemikiran positif, dan satu-satunya orang paling dekat yang bisa diajak untuk berpikir positif adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Sehingga, kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan kita kepada orang lain. Jika kita sendiri tidak mau berpikir positif dan senang akan sesuatu, maka kebahagiaan sudah pasti akan susah untuk menghampiri. Namun, jika kita berpikir positif, maka kita tidak akan merasa susah ketika ada masalah menghadang dalam hidup kita. Kita akan bisa melihat hal baik dari masalah itu, sehingga kita tidak akan merasa kesulitan dan menganggap bahwa masalah itu adalah akhir dari segalanya. Maka dari itu, pemikiran positif yang kita bentuk dari diri kita sendiri akan bisa mendatangkan kebahagiaan dalam diri kita sendiri pula.

Jadi, sudah siap untuk meraih kebahagiaanmu?

Selasa, 19 Agustus 2014

Perubahan

Hari ini, video dari lagu terbaru Taylor Swift telah diluncurkan. Lagu yang bertajuk Shake It Off ini diluncurkan bersamaan dengan pengumuman judul album terbaru Taylor yang akan segera diluncurkan 27 Oktober mendatang. Pengumuman eksklusif ini dilakukan dalam acara live chat yang ia lakukan pada pukul 17.00 waktu Amerika (pukul 04.00 pagi waktu Indonesia bagian barat). Acara live chat ini bisa diikuti oleh setiap orang di seluruh dunia dengan membuka link yang sudah disediakan. Sebagai seorang Swifties (julukan untuk para penggemar Taylor Swift), aku merasa sedih karena tidak bisa ikut bergabung dengan Swifties lainnya untuk melihat Taylor secara langsung (aku tahu, tidak benar-benar langsung. Hanya melalui layar komputer). Namun, untuk mengetahui bahwa Taylor sudah meluncurkan satu lagu terbaru saja aku sudah sangat bersemangat. Sebelum aku berangkat ke kampus untuk konsultasi masalah pengambilan mata kuliah untuk semester lima pagi ini, aku menyempatkan diri untuk menonton video terbaru Taylor ini. Mudah dan cepat saja karena sudah ada tautan untuk video tersebut pada fanpage Taylor di facebook. Seketika saat aku menonton, aku merasa asing dengan musik dari lagu tersebut. Aku berpikir, benarkah ini musik khas dari Taylor Swift? Aku benar-benar tidak bisa mempercayainya. Apa yang kubayangkan dengan apa yang kudengar saat itu sangat berbeda jauh. Musiknya sangat pop! Bahkan lebih pop dari beberapa lagu Taylor di album sebelumnya, Red. Entah pergi ke mana rasa country yang dulu ia bawa pada album pertama sampai album ketiga. Di lagu ini, petikan gitar pun rasanya hilang. Ini bukan Taylor, pikirku. Ini tidak mungkin. Namun, memikirkan bahwa Taylor suka bereksperimen dengan lagu-lagunya, aku pun memaklumi. Bahkan, aku merasa bahwa lagu tersebut memang benar-benar milik Taylor jika diteliti dari liriknya. Lagipula, video tersebut juga menggambarkan kelucuan dan kekonyolan yang biasa Taylor lakukan saat ia sedang santai. Ah, ini memang benar-benar Taylor Swift, pikirku lega. Walaupun sebagian dari diriku tidak bisa menerima perubahan aliran musik Taylor, tetapi aku mengerti bahwa ia tetaplah seorang Taylor Swift yang selalu memberi inspirasi pada setiap Swifties di seluruh dunia.

Terkadang, setiap perubahan yang kita lakukan tidak selalu membuahkan pemikiran-pemikiran yang akan serta merta setuju dengan apa yang kita lakukan. Seperti halnya lagu terbaru Taylor Swift ini, ia pun menuai beberapa kritik yang tidak berbau positif. Namun, setiap perubahan yang kita lakukan juga pasti akan menuai beberapa persetujuan dari orang-orang. Sebenarnya, perubahan yang kita lakukan tidak berpengaruh bagi orang lain. Orang lain hanya bisa menilai apa yang kita kerjakan tanpa ikut andil untuk melakukan hal tersebut. Perubahan sebetulnya malah berpengaruh besar pada diri kita. Pengaruh yang dihasilkan dari sebuah perubahan yang kita lakukan amatlah penting bagi diri kita sendiri sebetulnya. Karena, setiap langkah yang kita ambil untuk melakukan perubahan tersebut akan mempengaruhi cara kerja kita, cara pandang kita, cara pikir kita, dan lain sebagainya. Sehingga, begitu perubahan yang kita lakukan ini selesai, maka kita otomatis akan menjadi pribadi yang berbeda pula dari sebelumnya. Cara kerja, cara pandang, atau cara pikir kita akan berbeda dari sebelumnya. Entah itu lebih baik atau lebih buruk. Namun, tetap saja pandangan orang lain juga perlu kita masukkan dalam evaluasi perubahan kita, apakah pandangan mereka terhadap perubahan yang kita kerjakan itu positif atau negatif, setuju atau tidak setuju, sesuai atau tidak sesuai. Akan tetapi, pandangan orang-orang jangan langsung ditelan mentah-mentah. Kita tetap harus mengambil yang baik dan membuang yang buruk. Semisal ada pujian, jangan lantas jumawa. Ketika ada kritikan, jangan seketika murka. Ketika pujian datang, itu berarti perubahan yang kita lakukan sudah baik atau bahkan bisa dikembangkan lebih baik lagi. Ketika kritikan hadir, itu berarti harus ada yang diperbaiki dari apa yang telah kita lakukan. Jangan lantas berkecil hati dengan perubahan yang kita lakukan, atau malah berbesar kepala atas apa yang telah dikerjakan. Semua harus ditanggapi secara seimbang dan tidak berlebihan. Toh, pandangan dan masukan orang lain juga membantu dalam pengembangan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Jadi, sudah siap untuk melakukan perubahan?

Minggu, 17 Agustus 2014

Merdeka

Bukan, aku tidak akan membahas tentang salah satu saluran radio di Surabaya. Aku hanya merasa kebetulan harus membahas tema ini karena hari ini merupakan hari istimewa bagi seluruh masyarakat Indonesia, di samping pemilihan presiden pada tanggal 9 Juli lalu. Ya, hari ini merupakan hari kemerdekaan Indonesia. Hari di mana proklamator kebanggaan kita semua, Ir. Soekarno, pada 69 tahun yang lalu membacakan pernyataan bahwa Indonesia sudah merdeka dari jajahan bangsa asing. Dan sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Pak Soekarno, pembacaan proklamasi kemerdekaan dilakukan dengan cara yang seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Walaupun begitu singkat, namun proklamasi kemerdekaan ini sungguh dinanti-nanti oleh seluruh masyarakat Indonesia yang sedang menunggu kapan saatnya mereka berhenti berperang melawan penjajah. Pun, perayaan kemerdekaan saat itu amat sederhana, tapi diselenggarakan dengan cermat. Tidak sembarangan. Sehingga ketika sampai detik-detik pembacaan hingga selesai dikumandangkan proklamasi kemerdekaan tersebut, ada rasa bangga dan puas dalam pencapaian kemerdekaan tersebut. Bangga bisa mempertahankan tanah air, dan puas karena pada akhirnya bisa merdeka walaupun harus dibayar dengan nyawa.

Namun, itu semua ada pada 69 tahun yang lalu. Sekarang, perayaan kemerdekaan lebih meriah dan tidak sekhidmat dulu. Di sana sini orang-orang Indonesia merayakan dengan cara yang jauh berbeda. Ada yang merayakan dengan menyulut kembang api, dengan berdoa bersama, dengan pawai, bahkan dengan memberi diskon besar-besaran demi merayakan hari merdeka bangsa ini. Namun, satu yang tidak boleh tertinggal, yaitu upacara bendera. Ada yang berbeda ketika memandang sang Saka Merah Putih terlambai indah di atas tiang di hari biasa dengan di hari merdeka. Ada rasa haru, ada rasa syahdu, ada rasa sedih, ada rasa bangga. Semua perasaan bercampur aduk. Namun, tidak semua orang bersemangat dalam menyambut upacara bendera pada tanggal 17 Agustus tiap tahunnya. Masih saja ada yang bermalas-malasan. Padahal, seharusnya ini adalah hari yang paling dinanti. Namun, apa boleh buat. Pada penanggalan kita, tanggal 17 Agustus selalu diberi warna merah. Sehingga, masyarakat otomatis berpikir bahwa hari perayaan ini merupakan hari libur, hari untuk istirahat. Dan upacara pada hari libur hanya akan membuat setiap orang yang diwajibkan, akan merasa terpaksa. Apa boleh buat, jika seperti itu.

Ketika kita merasa terpaksa, secara tidak langsung kita menyatakan bahwa diri kita tidak merdeka. Mengapa? Karena merdeka berarti bebas, tidak terikat, tidak terpaksa atas segala apapun. Ketika kita masih merasa terpaksa dengan keadaan, berarti kita tidak merasa bebas. Kita merasa harus melakukan hal tersebut, dan itu jelas bukan definisi merdeka. Merdeka menjadikan seseorang melakukan apa yang ia kehendaki dengan senang hati. Ketika dilakukan dengan senang hati, maka hal tersebut akan dilakukan dengan sangat baik, hati-hati, cermat, dan tulus. Maka, hasil dari rasa merdeka itu akan baik. Namun, ketika seseorang merasa diperbudak dan tidak merdeka, ia akan merasa berat untuk melakukan segala sesuatu. Ketika ia merasa berat dalam melakukan segala sesuatu, ia tidak akan melakukan dengan senang hati. Hal itu akan dilakukan dengan serampangan dan ogah-ogahan. Dengan begitu, hasilnya pun pasti tidak akan maksimal. Maka dari itu, memiliki rasa merdeka dalam diri kita merupakan hal yang sangat penting. Menjadi merdeka berarti menjadi diri sendiri, berdiri sendiri, dan tidak diperbudak oleh apapun. Jika kita masih belum bisa menjadi diri sendiri, belum bisa berdiri sendiri, dan masih merasa diperbudak, tandanya kita masih belum merdeka. Jika kita masih cenderung ikut-ikutan orang lain, tandanya kita masih belum merdeka. Jika kita masih belum bisa mandiri, tandanya kita masih belum merdeka. Sehingga, untuk apa mengikuti perayaan kemerdekaan jika diri sendiri belum merdeka? Kemerdekaan siapa yang sebenarnya kita rayakan? Indonesia saja disebut sudah merdeka, mengapa diri kita sendiri belum? Maka, jadilah pribadi yang paham jati diri dan menjadi diri sendiri, sehingga pada akhirnya kita akan menjadi pribadi yang benar-benar seutuhnya merdeka.

Jadi, sudah merasa merdeka?